PALEMBANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia kian mengkhawatirkan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi terjun langsung memantau titik api melalui jalur udara menggunakan helikopter di kawasan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Pemantauan ini dilakukan menyusul kondisi lahan gambut yang kering dan sulit dipadamkan, yang kini dampaknya telah melintasi batas negara hingga memengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapura.
Di lapangan, petugas menghadapi tantangan berat akibat cuaca panas ekstrem dan terbatasnya sumber air di lokasi kebakaran. Di Kabupaten Musi Banyuasin, tercatat lebih dari 1.000 hektar lahan hangus terbakar dalam beberapa waktu terakhir. Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang terdiri dari BPBD, Polri, dan TNI terus berupaya melakukan pemadaman manual serta penyekatan lahan, namun akses yang sulit dan vegetasi kering membuat api kerap muncul kembali. Dampak polusi udara kini sudah menyentuh angka indeks kualitas udara 175 atau masuk dalam kategori tidak sehat di sejumlah titik, yang memicu lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga mencapai ribuan kasus.
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Tengah. Tebalnya kabut asap di Kota Palangkaraya menyebabkan jarak pandang merosot drastis hingga 500 meter, jauh di bawah standar aman penerbangan yakni 1.500 hingga 2.000 meter. Akibatnya, operasional di Bandar Udara Tjilik Riwut lumpuh total. Sejumlah maskapai terpaksa membatalkan atau mengalihkan penerbangan ke Bandara Syamsuddin Nur di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang menempuh perjalanan darat selama lima jam. Pihak pengelola bandara memastikan kompensasi bagi penumpang melalui mekanisme penjadwalan ulang atau pengembalian dana penuh sebagai dampak dari gangguan operasional ini.
Hingga saat ini, pemerintah daerah bersama otoritas terkait terus mengimbau warga agar membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker. Selain membagi-bagikan masker, posko kesehatan 24 jam telah disiagakan di berbagai puskesmas dan rumah sakit untuk mengantisipasi memburuknya kondisi kesehatan masyarakat akibat paparan asap karhutla yang terus meluas. (*)










































