KUTACANE | Antrean panjang kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan nasional di Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, menjadi pemandangan yang memprihatinkan akibat ketidakstabilan pasokan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini dipicu oleh terhentinya operasional SPBU Lawe Kihing yang telah berlangsung sejak 23 September 2026. Praktis, seluruh beban distribusi BBM berpindah ke SPBU Kuning, menyebabkan penumpukan kendaraan yang berujung pada kemacetan parah di akses jalan utama yang menghubungkan wilayah tersebut dengan Medan hingga Kamis, 24 September 2026.
Kondisi krusial ini memaksa personel kepolisian sektor setempat turun tangan untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas agar mobilitas warga tetap terjaga. Namun, kehadiran petugas di lapangan hanyalah solusi darurat yang tidak menyentuh akar permasalahan. Masyarakat, melalui para pengendara yang terdampak, menuntut pemerintah daerah dan pihak terkait agar segera bersikap tegas terhadap ketidakstabilan stok BBM yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Mereka mendesak agar dilakukan penataan ulang sistem pembelian BBM bersubsidi guna mengantisipasi melonjaknya harga di tingkat pengecer dan mencegah antrean berlarut yang merugikan publik.
Di sisi lain, kondisi infrastruktur jalan nasional yang berlubang, becek, dan licin semakin memperburuk situasi lalu lintas di sekitar SPBU Kuning. Akibat tidak adanya akses pengisian BBM yang memadai, sejumlah warga terpaksa beralih membeli bahan bakar secara eceran dengan harga yang tidak menentu. Situasi ini mencerminkan lemahnya pengawasan distribusi energi di tingkat daerah, sehingga masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan oleh ketidaksiapan manajemen pasokan bahan bakar di wilayah tersebut. (*)








































