KUTACANE | Krisis bahan bakar minyak kembali menghantui masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara. Kondisi ini memaksa para pengendara, khususnya pengguna sepeda motor, harus memutar otak mencari alternatif SPBU lain setelah mendapati pasokan jenis biosolar dan pertalite tidak tersedia di SPBU Lawe Kihing, Kecamatan Bambel. Situasi ini tidak hanya memicu ketidakpastian bagi warga, tetapi juga berdampak langsung pada kelancaran arus lalu lintas akibat penumpukan kendaraan yang memadati SPBU terdekat lainnya, yakni SPBU Kuning.
Ketimpangan distribusi energi ini terjadi pada Minggu, 20 September 2026. Penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa pengelola SPBU bahkan terpaksa memasang papan informasi guna menegaskan kekosongan stok tersebut. Pengelola SPBU Lawe Kihing, Muhammad Ali, menjelaskan bahwa keterlambatan pasokan menjadi penyebab utama, di mana pengiriman sebanyak 16 ton untuk masing-masing jenis BBM baru dijadwalkan tiba pada Minggu sore, sementara layanan penjualan baru dapat kembali dinormalisasi pada Senin, 21 September 2026.
Meski pihak pengelola menjanjikan ketersediaan BBM non-subsidi seperti pertamax tetap terjamin, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap BBM bersubsidi masih sangat tinggi. Kelangkaan yang berulang ini menjadi tamparan bagi sistem distribusi energi di daerah yang seharusnya menjamin akses kebutuhan pokok warga. Tanpa adanya evaluasi menyeluruh terhadap alur distribusi dari penyalur hingga ke tingkat SPBU, masyarakat akan terus menjadi korban ketidaksiapan pasokan yang berujung pada kemacetan dan kerugian waktu yang sia-sia. (*)








































