slot preparation.lsrs.lu

Keadilan Bernyawa Setengah: Penertiban Tambang Emas Geumpang, “Tajam Ke Bawah, Tumpul Ke Atas”

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 22 September 2026 - 07:24 WIB

50414 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIDIE |  Penindakan tambang emas rakyat di Geumpang, Kabupaten Pidie, Aceh, baru-baru ini kembali membuka borok lama sistem hukum kita: tajam ke bawah, tumpul ke atas. Layar sosial media dibanjiri kemarahan – bukan semata karena praktik tambang liar, tapi lebih pada carut-marut cara negara menyelesaikannya. Pembakaran alat kerja rakyat jadi bukti terang benderang: keadilan masih setengah hati, cenderung memihak kekuasaan, dan tajamnya hanya dirasakan mereka yang lemah secara ekonomi.

Rekaman suara publik datang salah satunya dari ceramah Tgk. Mansur, yang diunggah kanal YouTube Mirizal Official. Dalam orasi tegas di Gampong Punti Payong, Ranto Peureulak, Aceh, Mansur menggugat rasionalitas penegakan hukum yang “pilih kasih”. Rakyat kecil, kata dia, diperlakukan bak pesakitan—alat mereka dibakar, nafkah hilang—sementara deretan tambang skala besar, yang tak jarang diduga ada beking penguasa lokal hingga pemodal luar, dibiarkan beroperasi tanpa sentuhan. “Dimana nurani aparat, di mana ketegasan negara?” suara Mansur, menggema di ruangan yang penuh sesak, menghadirkan tanya yang lama dilupakan.

Praktik penertiban selama ini mempertontonkan bias yang memuakkan. Rakyat dijadikan kambing hitam atas kegagalan regulasi dan pengawasan negara. Inilah puncak kegagalan: bukannya menghadirkan solusi, aparat justru memperkeruh luka sosial. Tak usah bicara soal edukasi atau pembinaan. Pemerintah seperti alergi pada upaya kemanusiaan. Yang terjadi, mereka datang, membakar, lalu pergi. Lantas siapa peduli, bagaimana puluhan keluarga menggantungkan hidup dari alat-alat tambang sederhana itu? Negara tutup mata, pejabat tutup telinga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, sorot lampu penegakan hukum tak sekalipun diarahkan kepada para juragan besar yang diduga ikut menguras emas Geumpang dengan modal dan koneksi. Padahal, praktik tambang yang merusak lingkungan jauh lebih masif dan terstruktur. Tetapi, alih-alih tindakan tegas, masyarakat malah disuguhi drama hukum yang hanya menyasar kelompok rentan. Para elite dan cukong tambang seolah menikmati kekebalan tak kasat mata—luput dari sorotan, lepas dari jerat pidana. Keadilan, di tangan sistem yang pincang, sudah beralih rupa menjadi alat represi.

Kehadiran hukum yang semestinya memberi rasa aman, hari ini justru menanam bibit apatisme di tengah masyarakat Geumpang. Mereka belajar bahwa negara tidak pernah sungguh-sungguh melindungi hak rakyat kecil. Penindakan yang tidak berimbang memupuk rasa frustrasi dan ketidakpercayaan. Bukan tidak mungkin, jika dibiarkan, model penindasan legal seperti ini akan menjadi lumbung konflik horizontal antara rakyat dan negara. Surutnya kepercayaan massal terhadap lembaga hukum adalah bom waktu yang berbahaya. Saat hukum berhenti hadir sebagai penengah, yang tumbuh hanyalah dendam dan perlawanan diam-diam.

Negara berkewajiban hadir melindungi warga, bukan menekan yang miskin dan memanjakan yang kuat. Jika pemerintah dan aparat penegak hukum tetap berpura-pura tak tahu, publik hanya akan semakin yakin: teori keadilan hanya slogan, aplikasi di lapangan hanyalah dagelan. Jika hukum dibuat menjadi alat penindasan, jangan salahkan rakyat jika akhirnya mengambil jarak dan bersikap sinis kepada negara. Inti persoalan sudah sangat jelas—penertiban harus menyasar semua pelaku, tanpa tebang pilih, tanpa kompromi kepada para pelindung “tambang gelap” yang menikam rakyat dari belakang.

Kasus pembakaran peralatan tambang Geumpang hanyalah satu titik dari krisis panjang keadilan sosial di Aceh dan Indonesia. Sudah saatnya, pemerintah berhenti memberi ruang kepada hipokrisi, dan berani menatap persoalan secara utuh. Jika publik menuntut keadilan yang nyata, itu bukan semata concern lokal, tapi jeritan dari lubuk paling dalam tentang hak untuk hidup yang setara di negeri sendiri. Jika suara rakyat masih saja diabaikan, hanya soal waktu sebelum keadilan setengah hati ini berubah jadi amarah yang tak bisa lagi dibendung. (*)

Berita Terkait

Ketua APPI Aceh Utara Desak Penyelidikan Transparan Insiden Penembakan di Tiro Pidie yang Tewaskan Warga
Bentrokan di Acara Maulid di Pidie Tewaskan Satu Warga, Diduga Terkait Pengibaran Bendera Bintang Bulan
Janggal! Ditangkap di Pabrik Sabu 1,2 Ton di Pidie, Akmaluddin Disebut Bebas dan Jalani Peusijuek di Rumah
Praktisi Desak Kapolri Periksa Pejabat Polres Pidie dan Polda Aceh Usai Dugaan Pabrik Sabu 1,2 Ton Terbongkar
Dua Warga Tiongkok Terlibat Survei Lokasi Laboratorium Narkotika Rahasia di Aceh, 1,2 Ton Sabu Cair Disita di Pidie
Bea Cukai, BNN, dan Polri Ungkap Clandestine Laboratory Sabu di Pidie, Aceh
Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil Tinjau Langsung Dugaan Pabrik Sabu di Pidie yang Dijaga Ketat Brimob
Samarkan Pabrik Sabu dengan Modus Bengkel, Sindikat Narkoba di Aceh Digerebek

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 14:14 WIB

Kasatpol PP dan WH Nagan Raya Klarifikasi Pemberitaan Pengusiran Personel Saat Demo GERAM

Jumat, 6 November 2026 - 13:34 WIB

Ketika Google Menjadi Pilihan Pertama, Di Mana Posisi Perpustakaan?

Kamis, 5 November 2026 - 19:38 WIB

Wan Malaya Kecam Penembakan di Pidie: Perdamaian Aceh Jangan Dicederai Dengan Kekerasan

Kamis, 5 November 2026 - 17:31 WIB

Festival Santri Dayah MUQ Nagan Raya Jadi Ajang Unjuk Bakat, Siswa MIN 3 Raih Tiga Penghargaan

Kamis, 5 November 2026 - 16:47 WIB

Kapolres Nagan Raya Pererat Silaturahmi dengan Tokoh Masyarakat dan KPA, Ajak Bersama Jaga Kamtibmas

Kamis, 5 November 2026 - 14:42 WIB

Bupati Nagan Raya TRK Melalui Asisten I Tutup secara Resmi Festival Prestasi Santri Dayah MUQ

Kamis, 5 November 2026 - 11:46 WIB

Bank Aceh Syariah Cabang Jeuram Hadiri Peringatan Maulid Nabi dan Festival Prestasi Santri II Tahun 2026 di Dayah MUQ Suka Makmue

Kamis, 5 November 2026 - 11:29 WIB

Wagub Aceh Sampaikan Duka Mendalam atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Berita Terbaru