GAYO LUES – Banjir merendam jalan utama di Kampung Badak dan mengubahnya menjadi lintasan berbahaya yang dilintasi kendaraan di tengah genangan air cokelat pekat setinggi lutut orang dewasa. Di tepi jalan, anak-anak kecil berdiri di dalam air menyaksikan mobil dan sepeda motor menerobos banjir, sementara warga lain berjalan tanpa alas kaki di tengah arus yang tidak diketahui kedalamannya.
Video yang merekam kejadian tersebut memperlihatkan sebuah mobil Suzuki Jimny modifikasi berwarna biru melaju pertama kali membelah banjir, disusul SUV hitam, sepeda motor dengan gerobak kayu, hingga sejumlah sepeda motor lain yang menciptakan gelombang tinggi. Narator dalam video berseru dengan nada bercanda menyebut genangan itu sebagai stadion balapan dan mengundang pengemudi mahir untuk berkumpul. Di layar tertulis seruan keheranan disertai emoji, seolah bencana itu adalah tontonan.
Di balik gurauan tersebut, tersimpan potret suram kegagalan mitigasi. Mengapa jalan desa yang menjadi akses utama warga Kampung Badak begitu mudah terendam hanya karena hujan? Di mana drainase yang layak, di mana pengerasan jalan yang memadai, dan di mana peran pemerintah ketika anak-anak harus berdiri di tengah banjir yang arusnya bisa menyeret kapan saja?
Apa yang terjadi di Kampung Badak adalah cermin pembiaran infrastruktur dasar di wilayah pedalaman. Jalan yang seharusnya menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga justru menjadi kubangan setiap kali hujan deras datang. Tidak ada rambu peringatan, tidak ada penutupan akses, tidak ada petugas yang memastikan keselamatan. Warga dibiarkan menjadikan bencana sebagai hiburan karena tidak ada solusi yang ditawarkan.
Siapa yang akan bertanggung jawab jika kendaraan mogok di tengah banjir dan anak-anak yang menonton dari tepi jalan terseret arus? Ketika bencana diubah menjadi konten lucu-lucuan, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan adalah betapa terbiasanya warga dengan penderitaan akibat banjir tahunan yang tak pernah ditangani serius.
Peristiwa yang terjadi di Kampung Badak pada 25 September 2026 ini harus menjadi alarm keras. Jalan desa bukan arena balap, dan banjir bukan tontonan. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues tidak bisa terus membiarkan warga beradaptasi dengan bahaya. Yang dibutuhkan warga bukan ajakan untuk unjuk kebolehan melintasi banjir, melainkan jalan yang kering, drainase yang berfungsi, dan jaminan keselamatan bahwa anak-anak mereka tidak lagi harus berdiri di dalam genangan hanya untuk menyaksikan mobil-mobil menerjang air. (*)








































