KUTACANE | Potret buruk pemeliharaan infrastruktur jalan nasional kembali terlihat di Aceh Tenggara. Lantai Jembatan Biakmuli yang menjadi penghubung vital antar provinsi dibiarkan rusak dan amblas, mengancam keselamatan setiap pengendara yang melintas, sementara perbaikan tak kunjung datang.
Kerusakan tersebut terjadi di Jembatan Biakmuli, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, tepat di ruas Jalan Nasional yang menghubungkan wilayah itu dengan Sumatera Utara menuju Medan. Kondisi aspal jembatan yang amblas menciptakan cekungan berbahaya di tengah jalur yang seharusnya menjamin kelancaran dan keamanan arus transportasi antar daerah.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Jumat, 25 September 2026, bagian lantai jembatan yang amblas sangat membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Letaknya berada di ruas jalan yang lurus, sehingga sulit terdeteksi dari kejauhan. Pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi kerap tidak menyadari adanya cekungan dalam hingga akhirnya kehilangan keseimbangan saat melintas.
Warga setempat menyebut kerusakan ini bukan kejadian baru. Salah seorang warga mengungkapkan, kondisi amblas tersebut telah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda perbaikan dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh yang memiliki kewenangan penuh atas jalan nasional tersebut. Pembiaran ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai ke mana alokasi anggaran pemeliharaan rutin yang seharusnya menjamin keselamatan pengguna jalan.
Ironisnya, lokasi jembatan yang rusak itu tidak jauh dari Polsek Bambel. Kerusakan yang kasat mata dan berada di jalur utama nasional seolah luput dari perhatian negara. Pengendara hanya bisa mengandalkan kehati-hatian pribadi, bukan jaminan keamanan dari infrastruktur yang dibangun dengan uang rakyat.
Kondisi Jembatan Biakmuli adalah peringatan keras bahwa kelalaian pemeliharaan sekecil apapun di jalan nasional dapat berujung pada kecelakaan fatal. Jika instansi terkait terus abai, maka jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi dan konektivitas antar wilayah justru berubah menjadi jebakan maut yang setiap hari mengintai warga.








































