ACEH TENGGARA – Akses jalan nasional yang menghubungkan wilayah Aceh dan Sumatera Utara di Kabupaten Aceh Tenggara kembali menjadi sorotan tajam setelah terus-menerus lumpuh akibat banjir. Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, yang meninjau langsung lokasi bencana di Desa Kuning, Kecamatan Bambel, pada Kamis (17/9/2026), mengakui bahwa infrastruktur di titik tersebut gagal berfungsi saat debit sungai meluap.
Kondisi memprihatinkan terlihat jelas saat air dengan kedalaman 10 hingga 15 sentimeter merendam badan jalan utama. Pendangkalan sungai yang terjadi secara masif diduga menjadi biang keladi penyumbatan aliran, yang memicu air meluap dan menutup akses vital transportasi antarprovinsi. Masalah yang berulang ini seolah menjadi bukti lemahnya pemeliharaan infrastruktur serta minimnya mitigasi bencana yang komprehensif di kawasan tersebut.
Menanggapi situasi yang kian mendesak, Menteri PU menjanjikan solusi jangka panjang berupa pembangunan jembatan layang atau flyover di titik rawan banjir tersebut. Pembangunan ini dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar karena elevasi tanah yang kian menurun sementara intensitas luapan air terus meningkat setiap tahunnya. Meski demikian, rencana ini masih menyisakan pertanyaan besar terkait timeline pelaksanaan serta efektivitas pembebasan lahan yang kerap menjadi kendala birokrasi di lapangan.
Sebagai langkah darurat sembari menunggu proses perancangan teknis flyover, Balai Wilayah Sungai diperintahkan untuk segera melakukan normalisasi dan pengerukan sedimentasi sungai. Namun, langkah pengerukan ini dikhawatirkan hanya bersifat tambal sulam jika tidak dibarengi dengan penataan lingkungan hulu yang lebih ketat. Masyarakat kini menagih komitmen nyata pemerintah untuk tidak sekadar memberikan janji pembangunan, melainkan memastikan akses mobilitas warga dan logistik nasional tidak lagi terputus setiap kali musim hujan tiba. (*)








































