Irmawan Desak Pemerintah Kirim Bantuan Skala Besar ke Aceh, Peringatkan Kelaparan dan Gejolak Sosial Pascabencana

Redaksi Bara News

- Redaksi

Jumat, 19 Desember 2025 - 23:21 WIB

50417 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA |  Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Aceh, Irmawan, mendesak pemerintah pusat untuk segera mengirimkan bantuan darurat berskala besar ke wilayah Aceh dan sejumlah daerah di Sumatera yang terdampak banjir bandang dan longsor. Kondisi di lapangan dinilai kian mengkhawatirkan, dengan laporan kelangkaan pangan, keterisolasian wilayah, dan munculnya gejala kelaparan di beberapa lokasi. Bahkan, menurut keterangan warga, aksi penjarahan mulai terjadi akibat situasi yang semakin kritis dan belum tertangani secara menyeluruh.

“Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Banyak daerah terisolasi lebih dari satu minggu tanpa makanan. Ada masyarakat yang bertahan hidup hanya dengan memakan pisang mentah. Stok pangan sudah habis, bantuan belum masuk, dan warga kelaparan. Situasi ini membuat sebagian tempat mulai terjadi penjarahan,” ujar Irmawan di Jakarta, Rabu (3/12/2025).

Ia menyampaikan bahwa kerusakan infrastruktur di banyak wilayah begitu parah, sehingga menghambat proses penyaluran bantuan kemanusiaan. Jalan nasional sebagai jalur utama distribusi logistik diketahui putus total, tak hanya karena longsoran tanah di lereng perbukitan, tetapi juga akibat badan jalan yang sebagian besar hanyut terbawa arus banjir bandang. Irmawan menggambarkan kehancuran infrastruktur dengan nada prihatin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Banyak badan jalan hilang sama sekali. Bahkan ada desa yang benar-benar lenyap. Di beberapa daerah kalau ada lima jembatan, lima-limanya hilang. Kalau ada sepuluh, semuanya juga hanyut,” katanya.

Beberapa kabupaten, lanjut Irmawan, tidak dapat diakses sepenuhnya melalui jalur darat. Akibatnya, bantuan logistik harus dikirim menggunakan helikopter. Namun, ketersediaan armada udara sangat terbatas dan belum mampu menjangkau seluruh titik pengungsian, yang menurut data sementara diperkirakan menampung lebih dari satu juta jiwa. Dalam kondisi seperti ini, setiap keterlambatan dapat berdampak langsung terhadap keselamatan ribuan warga.

Ia juga menyoroti beban berat yang kini ditanggung pemerintah kabupaten dan kota di daerah terdampak. Sebagian besar daerah tersebut, menurut Irmawan, telah menyatakan ketidakmampuannya dalam menangani bencana secara mandiri. Anggaran darurat yang tersedia sangat terbatas, rumah sakit tidak dapat berfungsi optimal akibat padamnya listrik, sementara ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) juga mengalami kelangkaan. Irmawan memberi peringatan agar pemerintah pusat segera bertindak sebelum korban jiwa bertambah.

“Jika kondisi ini dibiarkan, korban jiwa berikutnya bukan lagi karena banjir, tetapi karena kelaparan dan penyakit,” tegasnya.

Irmawan menilai bahwa skala kerusakan dan besarnya dampak terhadap kehidupan masyarakat telah memenuhi syarat untuk menetapkan status Bencana Nasional. Ia menyebut bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh serta beberapa provinsi lain di Sumatera sebagai jatuhnya bencana dengan intensitas, luas wilayah, dan jumlah korban luar biasa.

“Skala kerusakan dan jumlah korban sudah sangat jelas. Ini bukan bencana biasa. Banyak yang menyebutnya sebagai ‘tsunami darat’. Penetapan Bencana Nasional penting agar penanganan dapat dilakukan secara total oleh pemerintah pusat,” ujar Irmawan.

Ia juga memberi perhatian pada potensi meningkatnya gejolak sosial apabila penanganan tidak dilakukan secara cepat dan menyeluruh. Selain kelaparan dan ancaman penjarahan, gangguan pasokan energi, lumpuhnya jaringan komunikasi, hingga kondisi pengungsian yang semakin memburuk berisiko memicu ketegangan sosial di tengah masyarakat yang tertekan.

“Bantuan dari Malaysia justru sudah tiba lebih dulu di beberapa titik. Ini tidak boleh terjadi. Pemerintah pusat memiliki kapasitas untuk menangani bencana besar seperti ini. Karena itu kami minta reaksi cepat sebelum korban bertambah,” ujarnya.

Irmawan menyampaikan bahwa Fraksi PKB di Aceh terus melakukan koordinasi dengan struktur partai di daerah untuk memantau perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Namun, beberapa wilayah seperti Bireuen dan Aceh Tamiang belum dapat dihubungi hingga saat ini, karena jaringan telekomunikasi belum pulih. Ia mengungkapkan bahwa wilayah-wilayah yang relatif mudah dijangkau sudah mulai menerima bantuan, namun lokasi-lokasi yang terisolasi masih sangat membutuhkan penanganan darurat sebagai prioritas utama.

“Wilayah pengungsian yang mudah dijangkau relatif sudah mendapat bantuan. Tetapi wilayah terisolasi benar-benar membutuhkan prioritas utama. Pemerintah harus pastikan bantuan tidak menumpuk di satu titik, sementara saudara kita di tempat lain justru tak tersentuh sama sekali,” kata Irmawan.

Dalam situasi kedaruratan yang semakin kompleks, Irmawan mengharapkan kepemimpinan nasional hadir secara nyata di lapangan untuk memastikan seluruh sumber daya negara dialokasikan bagi penyelamatan dan pemulihan para korban. Ia menegaskan bahwa perlambatan penanganan bukan hanya soal logistik, tetapi soal keberpihakan dan kecepatan pemerintah dalam merespons penderitaan rakyat. (RED)

Berita Terkait

Kejaksaan Agung Ungkap Modus Mark Up Pengadaan Motor Listrik dalam Kasus Korupsi Program MBG
Empat Anggota Bais TNI Dituntut 2,5 Tahun Penjara dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
PFI Peringatkan Ancaman Penyalahgunaan Yayasan dalam Dugaan Korupsi Program MBG
Prof Dr Sutan Nasomal : Presiden RI Harus Sadar Horor Dolar Menerkam Keamanan Indonesia
DOSA EKOLOGIS DI ATAS TANAH JARAHAN,Status Tersangka Para Kades Bongkar Borok Operasional dan Kejahatan Kehutanan PT AGM di Hulu Sungai Selatan
Skandal Tambang di Atas Lahan Cacat Hukum: Penetapan Tersangka Para Kepala Desa Runtuhkan Legitimasi Operasional PT AGM
Bedah Dokumen: Operasional PT Antang Gunung Meratus di Lahan SHM Rakyat Diduga Tabrak UU Minerba dan KUHP
Kejagung Tetapkan Tiga Eks Pimpinan BGN Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Penyimpangan Sentuh Pengadaan Rp 1 Triliun

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 16:15 WIB

Laboratorium Komputer SD Muara Situlen Agara Beralih Fungsi jadi Gudang Proyek Revitalisasi

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:34 WIB

Oknum Kepala SMA Negeri 1 Badar Agara Diduga Korupsi Dana Bos dan Pungli Persiswa Ratusan Ribu.

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:16 WIB

Polda Aceh Ajak Masyarakat Meriahkan Bank Aceh Bhayangkara Run 2026

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:58 WIB

Tingkatkan Kompetensi Medis dan Hukum, UPTD Bapelkas Aceh bersama IDI Aceh Tenggara Gelar Workshop Visum et Repertum dan Medikolegal Gratis

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:38 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Gagalkan Peredaran Sabu di Bambel, Seorang Pengedar Diamankan

Kamis, 4 Juni 2026 - 01:48 WIB

PJ Pengulu Kute Buluh Bongkar Dugaan Sogokan Rp3 Juta untuk Menyerangnya, Tantang Pelapor Buka Fakta di Hadapan Publik

Rabu, 3 Juni 2026 - 18:09 WIB

Kepsek dapat Revitalisasi Bantuan Bencana pilih Bungkam dan Libatkan oknum keluarga di Agara

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:25 WIB

Kapolsek Babul Makmur Pimpin Langsung Pengamanan Pelaku Penganiayaan , Bukti Kesigapan Polri Melayani Masyarakat

Berita Terbaru

BANDA ACEH

Jamaluddin Idham Salurkan Ribuan Beasiswa PIP Tahap I Tahun 2026

Selasa, 9 Jun 2026 - 11:35 WIB