NAGAN RAYA, ACEH – Bencana banjir dahsyat yang melanda kawasan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, pada 26 November 2025, meninggalkan duka dan kerusakan besar bagi masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Bangunan sekolah yang sebelumnya menjadi tempat menimba ilmu turut terbawa arus banjir.
Namun, di tengah keterbatasan akibat bencana tersebut, semangat para guru dan siswa SMP Negeri (SMPN) Beutong Ateuh untuk melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) tidak pernah padam. Meski harus menjalani kegiatan belajar di sekolah darurat, mereka tetap berusaha melanjutkan pendidikan demi meraih masa depan yang lebih baik.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata bahwa keterbatasan sarana dan prasarana bukanlah penghalang bagi guru untuk mengabdi dan bagi siswa untuk terus menuntut ilmu.
Kepala SMPN Beutong Ateuh, Ilyas L., S.Pd.I., saat dikonfirmasi media ini melalui WhatsApp pada Jumat (9/10/2026), menyampaikan bahwa banjir dahsyat yang terjadi pada 26 November 2025 telah menghanyutkan gedung sekolah sehingga kegiatan pendidikan harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada.
Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan, para guru tetap berupaya menjalankan tugas mendidik, sementara para siswa terus menunjukkan semangat untuk mengikuti pembelajaran.
Keadaan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh warga sekolah dalam menjaga keberlangsungan pendidikan pascabencana.
Bagi para siswa, sekolah bukan sekadar bangunan tempat belajar, melainkan ruang untuk meraih cita-cita, membangun harapan, dan mempersiapkan masa depan.
Karena itu, keberadaan sekolah darurat menjadi sangat penting agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meskipun fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya memadai.
Semangat guru dan siswa SMPN Beutong Ateuh patut menjadi perhatian bersama. Di balik keterbatasan yang mereka hadapi, tersimpan harapan besar agar kegiatan pendidikan dapat kembali berlangsung secara lebih nyaman, aman, dan didukung fasilitas yang layak.
Dukungan dari pemerintah, instansi terkait, serta seluruh elemen masyarakat sangat diharapkan untuk membantu pemulihan sarana pendidikan di Beutong Ateuh. Dengan kerja sama dan kepedulian bersama, diharapkan para siswa dapat kembali belajar di lingkungan sekolah yang memadai.
Banjir boleh merusak bangunan, tetapi semangat untuk belajar dan menggapai cita-cita harus tetap menyala. Perjuangan guru dan siswa SMPN Beutong Ateuh menjadi pengingat bahwa pendidikan harus terus berjalan, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. (*)









































