BLANGKEJEREN – Banjir kembali merendam ruas jalan nasional di Desa Rak Lunung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada sore hari. Air berwarna cokelat keruh meluap dari saluran drainase, menutupi seluruh badan jalan, merendam trotoar, dan masuk ke area pertokoan serta permukiman warga yang berada di pinggir jalan utama.
Video yang merekam kejadian itu diambil dari dalam mobil yang melintas di tengah banjir di Rak Lunung. Terlihat jalan nasional yang digenangi air deras mengalir kencang melampaui batas trotoar, sementara bangunan ruko, mobil yang terparkir, dan usaha kecil di sepanjang jalan sebagian terendam. Kendaraan roda dua dan roda empat terpaksa menerobos genangan dengan percikan air yang tinggi, sementara hujan masih membasahi kaca depan mobil. Dalam rekaman itu tertulis peringatan singkat, kembali banjir akibat hujan deras sore ini, hati-hati.
Apa yang terjadi di Desa Rak Lunung bukan lagi peristiwa musiman yang bisa dimaklumi, melainkan bukti nyata kegagalan sistem drainase di jalan nasional yang menjadi kewenangan penuh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh. Mengapa setiap hujan deras selalu berakhir dengan jalan nasional di Rak Lunung yang berubah menjadi sungai? Di mana fungsi saluran drainase yang seharusnya mampu menampung debit air di kawasan padat penduduk tersebut?
Kritik keras harus diarahkan kepada BPJN Aceh yang hingga kini terkesan abai terhadap kondisi jalan nasional di Kecamatan Blangkejeren. Jalan nasional bukan sekadar aspal mulus untuk difoto saat peresmian, melainkan sistem yang harus dilengkapi dengan drainase yang dalam, bersih, dan berfungsi. Fakta di lapangan di Desa Rak Lunung menunjukkan saluran yang dangkal, tersumbat sedimentasi dan sampah, serta tidak pernah dinormalisasi secara berkala. Akibatnya, air hujan tidak mengalir ke pembuangan, melainkan meluap ke badan jalan dan merugikan warga serta pengguna jalan.
Di mana anggaran pemeliharaan rutin jalan nasional yang setiap tahun dikucurkan? Mengapa penanganan hanya bersifat tambal sulam ketika lubang muncul, sementara persoalan mendasar seperti drainase yang menjadi penyebab banjir di Rak Lunung tidak pernah diselesaikan? Ketika jalan nasional tergenang, yang lumpuh bukan hanya arus lalu lintas lintas tengah Aceh, melainkan juga aktivitas ekonomi warga Desa Rak Lunung yang menggantungkan hidupnya di sepanjang jalan tersebut.
Peristiwa banjir yang kembali merendam jalan nasional di Desa Rak Lunung, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues pada 26 September 2026 ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi BPJN Aceh. Jika balai yang diberi kewenangan penuh atas jalan nasional tidak mampu memastikan drainase berfungsi di titik rawan seperti Rak Lunung, bagaimana mungkin publik bisa percaya bahwa infrastruktur nasional di Aceh dikelola dengan profesional dan berpihak pada keselamatan pengguna jalan. (*)









































