KUTACANE – Bencana banjir dan tanah longsor melanda wilayah Kabupaten Aceh Tenggara setelah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur daerah itu sejak dini hari. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 26 September 2026 itu menyebabkan meluapnya dua sungai utama dan merendam permukiman serta lahan pertanian di 16 desa yang tersebar di 8 kecamatan.
Berdasarkan laporan resmi Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Aceh Tenggara yang dirilis Senin, 28 September 2026, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Lawe Sumur, Bambel, Bukit Tusam, Ketambe, Babussalam, Darul Hasanah, Lawe Bulan, dan Deleng Pokhkisen. Peningkatan debit air Sungai Lawe Kisam dan Sungai Lawe Kinga secara signifikan menjadi pemicu utama bencana.
Kronologi kejadian berawal dari jebolnya tanggul Sungai Lawe Kisam di Dusun Nasi, Desa Terutung Megara Lawe Pasaran, Kecamatan Lawe Sumur. Jebolnya tanggul membuat air sungai meluap langsung ke permukiman warga dan merusak lahan pertanian seluas kurang lebih 40 hektare dengan usia tanaman padi rata-rata 45 hari setelah tanam. Jebolnya tanggul dengan pola serupa juga terjadi di Desa Pancar Iman, Kecamatan Bambel.
Dampak banjir meluas ke sektor pertanian dan infrastruktur. Di Desa Kisam Gabungan tercatat 10 hektare sawah terendam, sementara fasilitas umum berupa kamar mandi umum di Desa Batu Mbulan Asli terancam hanyut akibat gerusan Sungai Lawe Bulan. Abrasi sepanjang 50 meter juga terjadi di jalan penghubung Pulonas Baru menuju Lawe Rutung.
Selain banjir, hujan memicu longsor di jalur nasional Kutacane-Blangkejeren tepatnya di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe. Material longsor menimbun badan jalan dan menumbangkan tiang listrik PLN, sehingga aliran listrik padam di beberapa wilayah. Kerusakan infrastruktur jembatan turut memperparah kondisi, di mana jalan darurat penghubung antar kecamatan di Jembatan Natam-Simpang IV Tanjung dan Jembatan Mbarung menuju Lawe Alas tidak dapat dilalui karena hanyut tergerus arus. Oprit Jembatan Mbarung Datuk-Lawe Sikap amblas sehingga tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, dan sebagian badan jalan Jembatan Rangka Baja Biakmuli yang merupakan jembatan nasional mulai amblas.
BPBD Aceh Tenggara mencatat sebanyak 103 kepala keluarga atau 411 jiwa terdampak dari kejadian ini. Beruntung tidak ada laporan korban jiwa maupun pengungsi.
Upaya penanganan telah dilakukan dengan mengerahkan Tim Reaksi Cepat untuk kajian cepat dan pendataan, serta menurunkan alat berat excavator untuk menutup tanggul yang jebol dan melakukan normalisasi aliran Sungai Lawe Kisam di Desa Terutung Megara Lawe Pasaran dan Desa Pancar Iman. Petugas juga melakukan pemotongan dan pembersihan pohon tumbang yang menutup akses nasional di Tanjakan Gurah Ketambe. Hingga laporan terakhir dirilis, kondisi air dilaporkan sudah mulai surut dan petugas masih melakukan monitoring di lapangan. (*)








































