GAYO LUES – Banjir bandang dengan arus deras menerjang Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues, Selasa sore, 28 Oktober 2026. Berdasarkan pantauan di lapangan, air coklat keruh setinggi dada orang dewasa merendam jalan utama desa, rumah warga, toko, hingga lahan pertanian.
Pantauan sore tadi sekitar pukul 17.00 WIB menunjukkan seluruh badan jalan di Desa Badak tertutup luapan. Air mengalir deras membawa kayu, papan, sandal, dan perabot rumah tangga. Beberapa toko dengan spanduk merah di tepi jalan terendam hingga bagian etalase, dan pagar besi pembatas jalan nyaris tidak terlihat karena tingginya air.
Warga terlihat menerobos banjir sambil menggendong barang dan anak-anak. Suara kepanikan terdengar, warga berulang kali mengucap Ya Allah dan Allahu Akbar saat air terus naik. Seorang warga dengan kaos gelap garis merah terlihat merekam sambil berjalan di tengah arus yang mencapai dada. Di dalam rumah, tumpukan karung beras dan barang dagangan sudah terendam.
Kondisi ini memperkuat dokumentasi yang beredar melalui tautan
yang merekam situasi yang sama dari sudut berbeda di Desa Badak sore tadi.
Secara wilayah, Desa Badak berada di jalur hulu Daerah Aliran Sungai Krueng Tripa. Hulu sungai Krueng Tripa berada di Kabupaten Gayo Lues dan bermuara ke Samudera Hindia melewati Kabupaten Nagan Raya, dengan panjang alur mencapai ratusan kilometer. DAS ini melintasi Gayo Lues di hulu dan Nagan Raya di hilir, sehingga luapan di Badak menjadi penanda bahaya bagi wilayah hilir.
Masalah utama DAS Tripa adalah banjir yang terjadi 4 sampai 6 kali dalam setahun dan menimbulkan kerugian harta benda bagi warga. Pola bencana hidrometeorologi ini terus berulang setiap musim hujan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, warga meminta agar pemerintah pusat tidak tutup mata terhadap bencana hidrometeorologi di jalur Sungai Tripa. Warga menilai kejadian sore tadi tidak bisa lagi dijawab dengan bantuan darurat saja. Mereka mendesak normalisasi alur sungai, pembangunan tanggul pengaman, sistem peringatan dini, dan pemulihan daerah tangkapan air di hulu Gayo Lues.
Hingga Selasa malam, warga masih bersiaga di lokasi. Arus belum sepenuhnya surut dan curah hujan di wilayah pegunungan masih tinggi, sehingga potensi banjir susulan masih terbuka. (RED)










































