JAKARTA | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Penegasan ini disampaikan Bahlil dalam agenda resmi di hadapan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat, 23 Oktober 2026, guna menanggapi isu kelangkaan BBM yang sempat terjadi di wilayah Bali.
Berdasarkan laporan tersebut, Bahlil menjelaskan bahwa kelangkaan yang terjadi di Bali bukanlah disebabkan oleh kekosongan stok secara nasional, melainkan akibat kendala teknis pada distribusi pasokan dari Jawa Timur. Keterlambatan jadwal kedatangan kapal pengangkut menjadi pemicu utama terganggunya rantai pasok ke wilayah tersebut. Saat ini, kondisi distribusi telah kembali normal dan cadangan BBM di Bali tercatat mampu memenuhi kebutuhan untuk 12 hari ke depan.
Selain membahas situasi di Bali, Bahlil juga memaparkan kondisi cadangan energi nasional secara menyeluruh yang dinilai berada di atas standar minimum. Cadangan Pertalite (RON 90) saat ini berada di angka 16 hingga 18 hari, sementara stok LPG dan produk lainnya berada di atas rata-rata 13 hingga 20 hari. Pemerintah juga telah menempuh langkah strategis melalui penandatanganan Peraturan Presiden terkait pengadaan BBM dan LPG yang kini dilakukan secara Government-to-Government (G2G) melalui Badan Layanan Umum (BLU). Meski terdapat tantangan cuaca yang menyebabkan pendangkalan sungai di Kalimantan dan Papua hingga menghambat jalur distribusi laut, pemerintah memastikan bahwa pengalihan moda transportasi darat telah dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah juga melaporkan progres positif pada sektor pertambangan dan pendapatan negara. Realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) hingga Oktober 2026 telah mencapai Rp17,74 triliun, atau sekitar 98,42 persen dari target tahunan, yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan fiskal dalam menopang subsidi energi. Selain itu, Bahlil mencatat kenaikan nilai ekspor batu bara dan nikel dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, meskipun terdapat penyesuaian pada volume produksi batu bara. (*)








































