KALTENG | Sebuah pemandangan memilukan terjadi di kawasan hutan yang dilanda kebakaran di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Seekor orangutan betina berusia 20 tahun ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri di atas pohon, terjebak di tengah kepungan asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penyelamatan dramatis yang melibatkan tim dari BKSDA Kalimantan Tengah, Orangutan Foundation International, dan komunitas Sampit Animal Rescue ini berhasil mengevakuasi satwa langka tersebut ke lokasi yang lebih aman pada Minggu, 18 Oktober 2026.
Meski hasil pemeriksaan medis awal tidak menunjukkan adanya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), insiden ini menjadi alarm keras akan ancaman nyata kerusakan ekosistem akibat karhutla yang terus berulang. Keberadaan satwa dilindungi di titik kebakaran menegaskan bahwa hutan kini bukan lagi ruang hidup yang aman bagi fauna, melainkan perangkap maut akibat minimnya kendali atas titik api.
Di saat yang sama, dampak dari bencana lingkungan ini mulai meluas hingga ke wilayah lain. Sebaran kabut asap yang dipicu oleh kebakaran hutan di Kalimantan sebelumnya terdeteksi bergerak ke arah wilayah Jawa bagian barat. Di Jakarta, kualitas udara terpantau berada dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi polutan PM 2,5 yang sangat kecil dan berbahaya bagi sistem pernapasan manusia. Pihak berwenang di Jakarta cenderung menyalahkan aktivitas industri dan emisi kendaraan sebagai penyebab utama memburuknya kualitas udara, namun klaim tersebut justru memicu tanda tanya besar karena mengabaikan korelasi lintas batas dari asap karhutla yang nyata-nyata terpantau oleh aplikasi pemantau kualitas udara.
Krisis kualitas udara ini tidak hanya membatasi ruang gerak masyarakat, tetapi juga memaksa pemerintah mengeluarkan imbauan penggunaan masker bagi warga di luar ruangan guna mencegah risiko penyakit. Sementara itu, kabut asap kiriman dari Indonesia juga dilaporkan masih menyelimuti Singapura, menyebabkan level kualitas udara di negara tetangga tersebut berada pada tingkat yang tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla yang belum tuntas telah menjadi masalah regional yang merugikan kesehatan publik secara luas. (*)







































