slot preparation.lsrs.lu

Aliansi Pulo Loih Mempertanyakan Keadilan: Rakyat Dihabisi, Tambang Asing Dibiarkan

Redaksi Bara News

- Redaksi

Selasa, 22 September 2026 - 22:16 WIB

50290 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIDIE | Penertiban tambang emas rakyat di Pulo Loih, Geumpang, Pidie, begitu gamblang menelanjangi watak hukum di negeri ini. Sekali lagi, masyarakat kecil jadi korban dalam skenario legalitas yang nyaris selalu tebang pilih. Aparat berdatangan dengan dalih penegakan aturan, membakar habis peralatan tambang rakyat — modal hidup satu-satunya bagi banyak keluarga. Sementara itu, tambang-tambang berkedok investasi asing, dengan modal besar dan keterlibatan korporasi Cina, dibiarkan saja beroperasi, nyaris tanpa sentuhan, tanpa gesekan dengan hukum.

Aliansi Masyarakat Pulo Loih, didorong tokoh eks kombatan GAM, menuntut keadilan yang nyata, bukan hanya ucapan di forum-forum resmi. Amarah bergolak, bukan sekadar soal alat disita atau nafkah hilang, tapi pada ketimpangan perlakuan yang semakin menyolok. “Kalau memang hukum berlaku, kenapa aparat hanya berani sama masyarakat kecil? Kenapa perusahaan Cina yang menguras emas kita, seenaknya saja?,” demikian suara protes yang berulang kali disuarakan dalam rapat dan aksi warga.

Fakta-fakta di lapangan bicara lebih lantang dari apapun. Mesin-mesin berat milik rakyat dibakar, sementara alat-alat besar milik perusahaan Cina tetap saja bekerja di Pulo Loih, Geumpang. Bahkan santer kabar, praktik setoran rutin dari oknum penambang maupun bos-bos tambang ke aparat berseragam, telah menjadi rahasia umum yang lama dibisiki rakyat. Ada “uang damai” yang disebut-sebut sebagai syarat agar usaha tambang tetap berjalan. Ironisnya, setoran dari warga miskin hanya jadi “jaminan” agar aparat tidak kebablasan, sedangkan pelaku besar—termasuk yang membawa modal dari luar negeri—tak pernah benar-benar disentuh. Siapa sebenarnya yang selama ini dilindungi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konflik laten makin tajam karena negara, baik pejabat lokal hingga aparat di lapangan, terus enggan membongkar praktik main mata antara oknum berseragam dengan pengusaha hitam. Ketika aparat turun tangan, yang diincar tetap saja masyarakat biasa. Sementara itu, tak sulit menemukan bukti bahwa perusahaan asing, utamanya milik Cina, terang-terangan menggarap emas di Geumpang tanpa rasa takut. Sudah menjadi rahasia umum, area konsesi mereka dijaga, baik aparat resmi maupun informal. Bukankah ini realitas yang mencolok?

Masyarakat Pulo Loih kini benar-benar kehilangan kepercayaan pada negara dan institusi penegak hukum. Dalam orasi protes, bahkan sudah mulai digelar simbol perlawanan: bendera bulan bintang kembali dikibarkan, seruan “merdeka” kembali terdengar. Bila ketidakadilan semacam ini terus terjadi, bukan mustahil gelombang perlawanan sosial akan membesar dan keluar kendali. Negeri ini tidak asing dengan sejarah konflik karena diskriminasi dan arogansi aparat. Apakah pemerintah benar-benar ingin mengulang sejarah kelam?

Keadilan yang dituntut masyarakat Pulo Loih bukanlah istimewa. Mereka hanya ingin diperlakukan setara. Penegakan hukum yang adil—tanpa kompromi, tanpa suap, tanpa beking. Tapi hari ini, rakyat malah mendapat pengadilan jalanan, sementara hantu kekebalan hukum masih saja berpihak pada modal—khususnya investor tambang Cina yang makin leluasa menjarah bumi Pidie. Negara lupa pada janji konstitusi: melindungi segenap tumpah darah Indonesia, bukan membela kepentingan korporasi luar, apalagi lewat tangan aparat yang rela jadi alat upeti.

Jika pemerintah terus melempar tanggung jawab dan pura-pura tidak tahu, percayalah, percikan protes akan berubah menjadi nyala api yang sulit padam. Rakyat bukan hanya menuntut alat hidupnya dikembalikan, tapi juga menuntut martabat dan keadilan yang sudah lama dirampas negara sendiri. Ketidakadilan yang dipelihara hanya akan membuahkan perlawanan. Jika negara gagal mengembalikan kepercayaan, maka apa yang tersisa selain keputusasaan?

Aparat, pejabat, dan pelaku tambang—semua diajak bercermin. Sudah cukup rakyat Geumpang, Pidie, jadi kambing hitam. Sementara korporasi Cina yang mengeruk kekayaan negeri berjalan terus di lorong aman. Jika hukum terus tumpul ke atas, tajam ke bawah, negeri ini hanya tinggal menunggu waktu sebelum suara “merdeka” benar-benar kembali jadi kenyataan pahit di Pulo Loih. (*)

Berita Terkait

Ketua APPI Aceh Utara Desak Penyelidikan Transparan Insiden Penembakan di Tiro Pidie yang Tewaskan Warga
Bentrokan di Acara Maulid di Pidie Tewaskan Satu Warga, Diduga Terkait Pengibaran Bendera Bintang Bulan
Janggal! Ditangkap di Pabrik Sabu 1,2 Ton di Pidie, Akmaluddin Disebut Bebas dan Jalani Peusijuek di Rumah
Praktisi Desak Kapolri Periksa Pejabat Polres Pidie dan Polda Aceh Usai Dugaan Pabrik Sabu 1,2 Ton Terbongkar
Dua Warga Tiongkok Terlibat Survei Lokasi Laboratorium Narkotika Rahasia di Aceh, 1,2 Ton Sabu Cair Disita di Pidie
Bea Cukai, BNN, dan Polri Ungkap Clandestine Laboratory Sabu di Pidie, Aceh
Anggota Komisi III DPR RI Nasir Djamil Tinjau Langsung Dugaan Pabrik Sabu di Pidie yang Dijaga Ketat Brimob
Samarkan Pabrik Sabu dengan Modus Bengkel, Sindikat Narkoba di Aceh Digerebek

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 14:14 WIB

Kasatpol PP dan WH Nagan Raya Klarifikasi Pemberitaan Pengusiran Personel Saat Demo GERAM

Jumat, 6 November 2026 - 13:34 WIB

Ketika Google Menjadi Pilihan Pertama, Di Mana Posisi Perpustakaan?

Kamis, 5 November 2026 - 19:38 WIB

Wan Malaya Kecam Penembakan di Pidie: Perdamaian Aceh Jangan Dicederai Dengan Kekerasan

Kamis, 5 November 2026 - 17:31 WIB

Festival Santri Dayah MUQ Nagan Raya Jadi Ajang Unjuk Bakat, Siswa MIN 3 Raih Tiga Penghargaan

Kamis, 5 November 2026 - 16:47 WIB

Kapolres Nagan Raya Pererat Silaturahmi dengan Tokoh Masyarakat dan KPA, Ajak Bersama Jaga Kamtibmas

Kamis, 5 November 2026 - 14:42 WIB

Bupati Nagan Raya TRK Melalui Asisten I Tutup secara Resmi Festival Prestasi Santri Dayah MUQ

Kamis, 5 November 2026 - 11:46 WIB

Bank Aceh Syariah Cabang Jeuram Hadiri Peringatan Maulid Nabi dan Festival Prestasi Santri II Tahun 2026 di Dayah MUQ Suka Makmue

Kamis, 5 November 2026 - 11:29 WIB

Wagub Aceh Sampaikan Duka Mendalam atas Meninggalnya Warga Pidie dalam Insiden Pengibaran Bendera

Berita Terbaru