KALBAR | Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan kini telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Dampak kerusakan lingkungan akibat fenomena El Nino tidak hanya menghanguskan lebih dari 800.000 hektar lahan di Indonesia, tetapi juga menciptakan krisis kemanusiaan dan ekologi yang nyata. Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Pusat Penyelamatan Satwa YIARI harus bekerja ekstra keras mengevakuasi puluhan orang utan yang kehilangan habitat akibat hutan mereka berubah menjadi abu. Tercatat sebanyak 49 individu orang utan terpaksa dievakuasi sejak Agustus, menambah daftar panjang satwa yang harus dirawat di pusat rehabilitasi tersebut.
Kondisi memprihatinkan ini memuncak saat seekor orang utan bernama Sampurna kehilangan nyawanya pada akhir Agustus. Kematian tragis ini dipicu oleh paparan asap tebal yang merenggut napasnya, bahkan saat ia ditemukan dalam kondisi lemas di tengah perkebunan kelapa sawit yang menjadi pelarian terakhir bagi satwa yang terusir dari rumahnya sendiri. Tim patroli kini terus menyisir area empat desa yang terdampak dengan kamera drone dan senapan bius, berkejaran dengan ancaman kebakaran yang diprediksi masih akan terus membara hingga November mendatang.
Di saat yang sama, masyarakat di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, harus menanggung beban kesehatan akibat buruknya kualitas udara. Hingga pemantauan pada 17 Oktober 2026, tercatat lebih dari 3.000 titik api (hotspot) tersebar di seluruh Pulau Kalimantan, dengan Kalimantan Tengah menyumbang jumlah titik api tertinggi, yakni 2.626 titik. Paparan asap dari lahan gambut yang terbakar di dekat pemukiman telah memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Banyak anak-anak, termasuk seorang remaja berusia 13 tahun, kini terpaksa menjalani rawat jalan dan bergantung pada oksigen serta obat-obatan karena riwayat asma mereka memburuk akibat terus-menerus menghirup polusi udara.
Ironisnya, meski api di permukaan lahan gambut tampak padam, bara di bawah permukaan tanah terus memproduksi asap yang menyelimuti lingkungan warga setiap harinya. Upaya penanggulangan yang dilakukan di lapangan seolah masih belum cukup untuk meredam dampak kerusakan yang masif ini. Anak-anak yang seharusnya bisa bermain dan bersekolah kini harus mendekam di dalam rumah, menelan pil pahit dari kelalaian pengelolaan lahan yang membiarkan api terus berulang setiap tahun. Negara dituntut untuk lebih serius dalam menegakkan perlindungan ekosistem sebelum lebih banyak nyawa, baik satwa dilindungi maupun warga, menjadi korban dari bencana yang sebenarnya dapat dicegah. (*)







































