OPINI
Poster peta Indonesia yang gosong itu bukan ilustrasi. Itu adalah laporan kejahatan yang sedang berlangsung. Dan data resmi negara membenarkan kalimat paling tajam di poster itu: hutan kita memang dibakar.
Jangan lagi kita dibius dengan istilah “musibah karhutla”. Ini bukan musibah. Ini pola.
FAKTA 1: Luas Kebakaran Meledak di 2026
Sistem SiPongi milik Kementerian Kehutanan mencatat, Januari-Juli 2026 saja luas area terbakar sudah mencapai 202.004,30 hektare, melonjak 69 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Untuk periode Januari-Juni, lonjakannya bahkan lebih gila: 107.465,47 hektare, meningkat 366% dibandingkan periode yang sama pada 2025. Padahal tahun 2024 total setahun saja 376.805,07 hektare. Lembaga independen Mapbiomas Fire menghitung lebih luas lagi dengan metode burn area satelit: Januari-Agustus 2026 luasnya mencapai 677.743 hektare atau setara 10 kali luas wilayah DKI Jakarta.
Ini bukan api yang lupa dimatikan. Ini pembakaran skala industri.
FAKTA 2: 95% yang Terbakar Adalah Kebun Sawit
Kementerian Lingkungan Hidup sendiri yang membongkar: 95 persen lokasi yang terbakar adalah kebun sawit.
Ini menjelaskan kenapa polanya selalu sama. Data Greenpeace Indonesia, Greenpeace Malaysia dan Pantau Gambut dari 5.540 titik sumber asap pada 8 Agustus hingga 20 September 2026, sebanyak 859 titik terdeteksi di dalam 115 konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan 774 titik lainnya di dalam 210 konsesi perkebunan kelapa sawit.
Api itu punya alamat. Alamatnya adalah konsesi.
FAKTA 3: Negara Sudah Tahu Siapa Pembakarnya
Polri sampai 14 Oktober 2026 sudah menetapkan 9 perusahaan sawit sebagai tersangka dengan total lahan yang dibakar 25.600,26 hektare. Bukan hanya perusahaan, 223 orang juga ditetapkan tersangka karhutla.
KLH juga menyegel 57 perusahaan terkait karhutla seluas 34.636 hektare, dan 17 di antaranya punya riwayat kasus berulang. Artinya? Dibakar, disegel, dibakar lagi.
FAKTA 4: Deforestasi Naik 66%, Tertinggi 8 Tahun Terakhir
Ini bukan hanya soal api. Menurut laporan Auriga Nusantara, deforestasi di Indonesia melonjak menjadi 433.751 hektare di tahun 2025, naik 66% dibanding 261.575 hektare di tahun 2024. Angka tertinggi dalam 8 tahun terakhir, kembali ke era 2016.
Jadi lengkap sudah polanya: Hutan ditebang dulu, sisanya dibakar untuk pembersihan lahan murah, lalu ganti jadi kebun.
Karena itulah judul HUTAN KAMI DIBAKAR, BUKAN TERBAKAR adalah 100% akurat secara data.
Kalau terbakar, penyebabnya petir dan kemarau.
Kalau dibakar, penyebabnya adalah hitung-hitungan bisnis.
Membakar 1 hektare dengan menyuruh orang kampung jauh lebih murah daripada menyewa excavator. Dan kalau ketahuan? Paling-paling jadi tersangka perorangan. Korporasinya tetap panen sawit 25 tahun ke depan.
Selama hukum kita hanya berani menyeret pembakar lapangan dan 9 korporasi dari ribuan titik api, maka peta Indonesia akan terus kita lihat seperti di poster itu: hitam, berasap, dan sengaja dibuat gosong.
Pertanyaannya bukan lagi “kapan karhutla berhenti?”.
Pertanyaannya: Sampai kapan kita mau terus pura-pura tidak tahu bahwa hutan ini memang sengaja dibakar?







































