HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Klaim Keberhasilan Padamkan Karhutla 80 Persen Dinilai Omong Kosong di Tengah Kepungan Asap Lintas Negara

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:11 WIB

50287 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Klaim pemerintah soal keberhasilan memadamkan kebakaran hutan dan lahan hingga 80 persen dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan dan mudah dipatahkan oleh pekatnya kabut asap yang hingga kini masih mengepung wilayah Indonesia bahkan meluas ke negara tetangga. Di saat asap masih sesak di paru-paru warga, narasi keberhasilan justru dipertontonkan dari Istana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pemerintah melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengklaim persentase tingkat keberhasilan pemadaman karhutla rata-rata di atas 80 persen dari luas lahan yang terbakar setiap harinya, dengan pengerahan 60.177 personel gabungan dan operasi bom air. Klaim itu berbanding terbalik dengan kondisi yang dirasakan warga Kalimantan dan Sumatera hingga Papua.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana sendiri menyebut masih terdapat 639,23 hektare lahan yang terbakar, dari sebelumnya 202.004 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026. Angka itu disebut tersebar di enam provinsi, dengan Kalimantan Tengah sebagai yang terbesar setelah ditemukan titik baru di Taman Nasional Tanjung Puting seluas 513,89 hektare. Namun angka tersebut dipertanyakan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palangka Raya mencatat sejak status siaga darurat pada 1 Juni hingga 8 Oktober 2026 saja, total karhutla di kotanya sudah mencapai 1.407,75 hektare dalam 832 kejadian. Satu kota sudah melebihi klaim nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang diklaim sebagai keberhasilan adalah apa yang tidak dirasakan warga. Siapa yang membantah klaim itu adalah para pakar dan warga terdampak. Di mana bantahan itu terlihat, di Palangka Raya yang langitnya oranye, di Palembang yang diselimuti asap, di Pontianak yang memperpanjang status tanggap darurat hingga 18 Oktober 2026, dan di Malaysia yang sampai menutup sekolah di Johor hingga 16 Oktober 2026 karena kualitas udara memburuk.

Kapan protes itu memuncak, adalah dalam beberapa hari terakhir. Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan akan membawa isu kabut asap lintas batas dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Manila pada November mendatang. Ia menilai asap belum dikategorikan sebagai bencana alam dalam mekanisme ASEAN, sehingga penanganannya tidak efektif. Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi menyebut tawaran bantuan satu pesawat pemadam, tiga helikopter, dan personel belum direspons Indonesia.

Mengapa klaim 80 persen itu mudah dipatahkan, menurut Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional Uli Arta Siagian, karena pemerintah hanya memadamkan api di permukaan, tidak tuntas hingga ke bawah gambut. Apinya mungkin padam, tapi asapnya masih terus mengepul. Artinya kebakaran masif terjadi di ekosistem gambut yang telah terdegradasi dan dikeringkan.

Di dalam negeri, ketidakpercayaan itu berubah menjadi gugatan hukum. Empat organisasi sipil dan seorang warga Kalimantan Barat melayangkan gugatan class action terhadap Presiden Prabowo dan 26 pejabat lainnya, mulai dari wakil presiden, menteri, hingga gubernur dan bupati. Gugatan yang dilayangkan pada 15 September lalu dan telah melewati sidang perdana pada 7 Oktober lalu itu meminta agar karhutla dan kabut asap di Kalimantan Barat ditetapkan sebagai bencana nasional.

“Kami bingung kendala pemadaman ini apa? Karena kami melihat dan merasakan asap sampai hari ini,” ujar Glorio Sanen, kuasa hukum penggugat. Ia menyebut anak-anak harus belajar daring, penerbangan terganggu, dan warga terserang ISPA dan penyakit paru. Mereka meminta negara memberikan fasilitas kesehatan gratis bagi korban ISPA dan santunan bagi korban meninggal.

Pakar ekologi dari ITB Elham Sumarga dan pakar lingkungan Universitas Palangka Raya Kitso Kusin menilai upaya pemadaman selama ini tidak efektif. Petugas bekerja dari pagi sampai sore, setelah api terlihat padam ditinggalkan, besoknya menyala lagi karena bara gambut di bawah permukaan. Sumur bor banyak yang rusak, mobil tangki terbatas dan tidak menjangkau lokasi jauh dari jalan. Prediksi El Nino sudah jauh hari, namun kesiapan nyaris tidak ada.

Kritik paling keras tertuju pada pernyataan Presiden Prabowo sendiri di Istana Merdeka pada 12 Oktober lalu. Ketika ditanya soal asap, Presiden menyebut akan meminta masukan para profesor dan menyebut hujan sebagai solusi akhir.

“Masalah asap nanti kami minta masukan para profesor bagaimana. Saya kira memang benar ujungnya hanya hujan air ya,” ujar Presiden.

Pernyataan menunggu hujan sebagai ujung tombak pemadaman dinilai sebagai bentuk pengakuan kegagalan mitigasi presisi yang selama ini didengungkan. Jika pada akhirnya hanya berharap pada hujan, seperti yang disindir kuasa hukum penggugat, lalu apa kerja pemerintah selama berbulan-bulan ketika konsesi izin terus diberikan dan pengawasan dibiarkan longgar. (*)

Berita Terkait

Bayang-Bayang Kabut Asap, Singapura Kembali Bidik Tujuh Perusahaan di Balik Karhutla Indonesia
Aturan Pidana Baru, Sinergi Aparat Penegak Hukum di Tengah Tantangan Implementasi KUHP dan KUHAP Nasional
Polri Perang Terbuka Lawan Kampung Narkoba, Rekam Jejak Internal Bakal Dievaluasi
Kapolri Instruksikan Bareskrim Usut Tuntas Dugaan Tindak Pidana di Sektor Pasar Modal
LPG 3 Kg Sulit Didapat Saat Hujan, Warga Gayo Lues Minta Bupati Turun Tangan
Beredar Telepon Ancaman untuk Bungkam Suara Karhutla, Influencer Kalimantan Diminta Hapus Video Kebakaran
Papua Selatan Jadi Episentrum Karhutla, Puluhan Ribu Hektare Terbakar di Tengah PSN
Lebih dari 25.000 Hektare Lahan Terbakar di Papua, Negara Ditagih di Tengah Kabut Asap PSN

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:44 WIB

Infrastruktur Mandul di Jantung Ibu Kota Baru, Api Lahap Hutan Embung IKN Tanpa Perlawanan Berarti

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Tragedi Kabut Asap di Kalimantan: Habitat Satwa Terancam dan Kesehatan Warga Terpinggirkan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Tragedi Karhutla di Taman Nasional Gunung Palung: Jeritan Satwa dan Perjuangan Petugas Menjinakkan Api yang Sulit Dijangkau

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 02:05 WIB

Langit Palangka Raya Berubah Oranye, Kesaksian Aktivis Dayak Patahkan Klaim Istana Soal Karhutla

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:35 WIB

Kabut Asap Selimuti Aceh Singkil, Warga Keluhkan Dampak Karhutla Lintas Provinsi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Ancaman Asap Tebal di Atmosfer, BMKG Imbau Warga Jakarta Waspada dan Kritik Lambatnya Penanganan Pemerintah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:28 WIB

Satu Rumah di Kecamatan Lawe Alas Aceh Tenggara Ludes Terbakar Dini Hari, Penghuni Selamat

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:07 WIB

Jalan Badak Gayo Lues Lumpuh Diterjang Banjir, Warga Desak Pemerintah Pusat dan BWS Bertindak

Berita Terbaru

ACEH TENGGARA

Satresnarkoba Polres Agara Amankan Pria dan 4,16 Gram Sabu

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:24 WIB