Palangka Raya – Di saat pemerintah pusat mengklaim kebakaran hutan dan lahan telah menurun drastis, warga di jantung Kalimantan justru harus menghirup udara seperti di dalam ruangan penuh gas. Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kembali berubah oranye pekat akibat pekatnya kabut asap karhutla yang tak kunjung padam.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kondisi tersebut direkam langsung oleh Emmanuela Shinta, seorang aktivis Dayak di Palangka Raya. Dalam rekaman yang ia buat pada pagi hari, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WITA, suasana kota masih gelap seperti menjelang malam. Matahari tertutup total oleh lapisan asap tebal.
“Video ini tanpa filter, ini adalah kondisi sebenarnya saat ini. Kota ini, sekarang, seperti ruangan yang penuh gas. Tidak ada ruangan untuk kabur dan bersembunyi,” kata Emmanuela menggambarkan situasi yang harus dihadapi warga setiap hari.
Apa yang disaksikan Emmanuela adalah realitas yang bertolak belakang dengan pernyataan resmi dari Jakarta. Siapa yang merasakannya adalah jutaan warga Kalimantan Tengah yang kini kembali masuk dalam fase darurat kabut asap. Di mana itu terjadi, di Palangka Raya yang menjadi episentrum karhutla tahunan, namun juga dirasakan hingga ke Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, dan Katingan.
Kapan situasi oranye ini terjadi, adalah pada Selasa, 14 Oktober 2026, di tengah musim kemarau yang diperparah oleh pembukaan lahan masif. Bagaimana mungkin langit bisa berubah oranye pada pukul 10 pagi adalah pertanyaan yang jawabannya ada pada partikel polutan PM2.5 yang memecah spektrum cahaya matahari akibat pembakaran lahan gambut yang masif.
Kritik paling keras justru tertuju pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kebakaran hutan dan lahan sudah menurun jauh hingga di bawah seribu hektare. Klaim tersebut terdengar janggal di tengah fakta bahwa satu kota saja sudah gelap gulita pada siang hari. Jika benar karhutla hanya di bawah seribu hektare secara nasional, dari mana datangnya asap yang mampu mengubah siang menjadi malam di Palangka Raya.
Pernyataan yang meremehkan skala bencana ini berbahaya karena berpotensi melumpuhkan respons darurat. Ketika pimpinan negara menyebut angka yang sangat kecil, maka alokasi anggaran penanganan, pengerahan helikopter water bombing, dan status siaga darurat di daerah menjadi tidak relevan. Padahal, data satelit dan kesaksian warga menunjukkan puluhan ribu hektare gambut yang terbakar di Kalimantan Tengah saja.
Mengapa langit Palangka Raya bisa berubah oranye setiap tahun adalah karena akar masalah tidak pernah dicabut. Gambut yang dikeringkan untuk konsesi sawit dan food estate, kanal-kanal raksasa yang mengeringkan lahan, dan lemahnya penindakan terhadap korporasi pembakar dibiarkan berulang. Warga seperti Emmanuela Shinta tidak butuh klaim penurunan angka, mereka butuh udara yang bisa dihirup tanpa harus bersembunyi di dalam rumah yang pun penuh asap.
Jika pada 14 Oktober lalu Palangka Raya sudah seperti ruangan penuh gas, maka yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar citra statistik, melainkan hak dasar warga untuk hidup di lingkungan yang sehat. (*)







































