OPINI PUBLIK
Jangan lagi bicara soal puntung rokok petani. Jangan lagi salahkan kemarau, El Nino, atau ranting kering yang bergesekan. Itu dongeng lama yang diulang-ulang setiap tahun untuk menutupi kejahatan yang terstruktur.
Data terbaru membongkar dusta itu. Hingga Agustus 2026 saja, kebakaran Januari-Juni telah menghanguskan 107.465 hektare lahan, meningkat 110% dibanding periode sama tahun 2023. Pada 18 Agustus, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sendiri mengakui angka itu meledak menjadi 202 ribu hektare. BNPB mencatat hingga 28 September 2026 masih ada 96 hektare di 6 provinsi prioritas yang belum padam. Pada 8-14 Oktober 2026, Indonesia bahkan mencatat emisi karbon dari karhutla tertinggi di dunia: 3.174 kiloton per hari.
Ini bukan bencana. Ini adalah pembantaian terencana. Dan pelakunya bukan orang kampung. Pelakunya adalah LONDO IRENG.
Siapa Londo Ireng Itu?
Londo Ireng bukan soal warna kulit. Londo Ireng adalah mentalitas. Dulu Londo Putih datang dengan bedil dan kompas, merampas hutan dengan konsesi dari Batavia. Hari ini Londo Ireng lahir di sini, berbahasa Indonesia, ber-KTP Indonesia, tapi otaknya, kerakusannya, dan cara kerjanya 100% kolonial.
Ciri Londo Ireng:
- Berwajah Pribumi, Berhati Kompeni. Dia adalah pemilik korporasi sawit, HTI, tambang, dan kroni-kroni pemodal yang duduk di lingkar kekuasaan.
- Menjajah Tanahnya Sendiri. Londo Putih dulu butuh tentara. Londo Ireng cukup butuh Izin Pelepasan Kawasan Hutan, HGU, dan tanda tangan pejabat.
- Membakar Adalah Metode, Bukan Kecelakaan. Riset dan temuan lapangan sudah jelas: penyebab utama kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah aktivitas korporasi perkebunan sawit yang membuka lahan dengan cara membakar karena murah dan cepat.
Petani membakar 2 hektare ditangkap dan dipenjara. Korporasi membakar 2.000 hektare disebut “musibah” dan dapat pemutihan.
Anatomi Kejahatan Londo Ireng
Mari kita bongkar cara kerja Londo Ireng membakar Republik ini:
1. Modus Murah dan Biadab
Membuka lahan gambut dengan alat berat dan zero-burning butuh biaya Rp 15-20 juta per hektare. Dengan api? Cuma Rp 300 ribu. WWF mencatat perusahaan dari kecil sampai besar sengaja memilih api karena murah dan cepat.Gambut yang menyimpan 427 ton karbon per hektare dilepas menjadi racun. Mereka hemat miliaran, rakyat yang bayar dengan kanker paru-paru.
2. Negara Sebagai Satpam Gudang
Ketika api sudah menyala, lihat siapa yang sibuk. BNPB, BPBD, Manggala Agni dengan sepatu bolong memadamkan api di lapangan. Sementara di ruang ber-AC, Londo Ireng sibuk mengurus perpanjangan izin. Pemerintah sibuk mengumumkan bahwa Jepang stop membantu karena Indonesia mengaku bisa tangani sendiri. Gagah di podium, lemah di hadapan korporasi.
Berapa korporasi yang dicabut izinnya tahun ini? Berapa direksi yang dipenjara? Nol. Yang ada hanya petani kecil yang dijadikan tumbal statistik penegakan hukum.
3. Asap Dijual, Lahan Dicaplok
Pola 2015 terulang persis tahun ini. Dulu temuan Eyes on the Forest: dari 19 korporasi yang lahannya terbakar, 15 berada di dalam kawasan hutan. Sekarang pola sama: hutan terbakar, tahun depan sudah berdiri sawit muda yang rapi. Ini bukan kebakaran. Ini adalah land laundering — pencucian lahan lewat api.
Ini Penjajahan Gaya Baru
Dulu rakyat melawan Londo Putih dengan bambu runcing. Sekarang rakyat harus melawan Londo Ireng dengan apa? Dengan UU yang mereka tulis sendiri? Dengan AMDAL yang mereka beli?
Londo Ireng lebih berbahaya dari Londo Putih. Karena Londo Putih jelas musuhnya. Londo Ireng tersenyum di baliho, bagi sembako, bicara tentang hilirisasi dan ketahanan pangan, sambil tangannya membakar paru-paru Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Dia bicara soal “Indonesia Emas 2045” sambil menjadikan langit Indonesia hitam hari ini.
Yang terbakar bukan hanya hutan. Yang terbakar adalah masa depan anak-anak kita, hak kita atas udara bersih, dan kedaulatan kita atas tanah.
Selama negara masih memandang hutan sebagai angka hektare investasi, bukan sebagai ibu yang menghidupi, maka setiap kemarau kita akan kembali menghirup asap yang sama. Dan setiap asap itu punya nama pengirim: LONDO IRENG.
Jangan lagi sebut ini bencana alam. Sebut ini kejahatan korporasi yang direstui negara.
Padamkan Londo Ireng, atau kita semua akan padam bersama hutan.







































