GAYO LUES – Bencana banjir dan putusnya akses jembatan kembali melumpuhkan Kabupaten Gayo Lues. Luapan sungai dengan debit besar dan arus keruh pekat tidak hanya merendam badan jalan nasional, tetapi juga memutus konektivitas antar wilayah yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, banjir terjadi di dua titik krusial yang saling berkaitan. Sungai Aih Bobo di kawasan Bukit- Rigeb meluap dengan arus sangat deras hingga mengancam permukiman di bantaran sungai. Di lokasi berbeda, banjir merendam Jalan Badak hingga ke badan jalan dan membuat kendaraan tidak dapat melintas. Kondisi tersebut diperparah dengan putusnya akses jembatan di jalur tersebut, sehingga transportasi darat lumpuh total dan warga terisolasi.
Pantauan di lapangan menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan. Pada 10 Oktober 2026, aliran Sungai Aih Bobo di Rigeb kembali besar dengan air berwarna cokelat pekat membawa material lumpur. Sehari kemudian, pada 11 Oktober 2026, banjir di Jalan Badak kembali meluap ke jalan dengan debit yang masih sangat deras. Pengendara sepeda motor diimbau untuk tidak memaksakan diri melintas karena risiko hanyut dan konstruksi jembatan yang sudah kritis.
Bencana yang terus berulang ini memicu kritik keras dari masyarakat. Putusnya jembatan dan banjir yang merendam jalan nasional dinilai bukan sekadar akibat curah hujan tinggi di hulu, melainkan cerminan gagalnya penanganan infrastruktur secara permanen. Selama ini penanganan hanya bersifat darurat dan tambal sulam, tanpa ada normalisasi sungai, penguatan tebing, dan pembangunan jembatan yang layak tahan banjir.
Warga yang tinggal di dekat aliran sungai diminta tetap waspada, namun kewaspadaan saja tidak cukup tanpa kehadiran negara. Warga mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Wilayah Sungai Sumatera I untuk segera turun tangan menangani Sungai Aih Bobo, membangun kembali jembatan yang putus di Gayo Lues, serta memperbaiki sistem drainase di Jalan Badak. Tanpa intervensi pusat, siklus jembatan putus dan banjir berulang akan terus menjadi bencana tahunan yang merugikan masyarakat. (*)









































