KATHMANDU – Bencana banjir dan tanah longsor melanda wilayah Nepal dan menimbulkan kerusakan parah di sepanjang aliran Sungai Kali Gandaki. Peristiwa tersebut mengakibatkan sedikitnya 24 orang meninggal dunia dan sejumlah infrastruktur hancur tersapu banjir.
Berdasarkan pantauan, bencana terjadi pada 29 September 2026. Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah pegunungan memicu meluapnya Sungai Kali Gandaki. Dalam rekaman yang beredar, terlihat tebing di sisi sungai mengalami longsor besar, material tanah dan bebatuan runtuh ke aliran sungai dan memicu gelombang banjir bandang.
Apa yang terjadi kemudian memperlihatkan dahsyatnya bencana tersebut. Sebuah bangunan di tepi sungai tampak tidak mampu menahan derasnya arus dan akhirnya ambruk lalu hanyut terbawa banjir. Air sungai yang semula tenang berubah menjadi cokelat pekat membawa material kayu dan lumpur dalam volume besar.
Siapa yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Kali Gandaki. Sedikitnya 24 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir dan longsor, sementara sejumlah warga lainnya masih dalam pencarian. Tim penyelamat dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir di beberapa titik.
Di mana lokasi terdampak paling parah berada di wilayah aliran Sungai Kali Gandaki yang melintasi sejumlah distrik pegunungan Nepal. Daerah tersebut memang dikenal rawan longsor, terutama saat musim hujan. Tebing-tebing curam yang tidak stabil mudah runtuh ketika tanah jenuh air.
Mengapa bencana ini menimbulkan korban dan kerusakan besar tidak lepas dari kombinasi curah hujan ekstrem dan kondisi geografis Nepal yang didominasi pegunungan. Aliran sungai yang sempit dan berkelok membuat air dengan cepat meluap ketika terjadi longsor di hulu. Bangunan-bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan bantaran sungai juga menjadi rentan tersapu.
Bagaimana penanganan saat ini dilakukan, pemerintah Nepal telah menetapkan status tanggap darurat di wilayah terdampak. Akses jalan yang terputus akibat longsor menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan. Petugas gabungan terus berupaya membuka akses jalan dan mencari korban yang hilang, sementara warga diimbau untuk menjauhi bantaran sungai mengingat potensi longsor susulan masih tinggi. (*)









































