HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Viral Dugaan Kekerasan di SMPN 18 Malang, Kepala Sekolah Diduga Tampar Siswa Karena Seragam Lurik

Redaksi Bara News

- Redaksi

Minggu, 27 September 2026 - 04:10 WIB

50222 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MALANG |  Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh dugaan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik terhadap anak didiknya sendiri. Bukan di jalanan, melainkan di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman, seorang kepala sekolah diduga menampar beberapa siswanya hanya karena persoalan seragam.

Peristiwa itu terjadi di SMPN 18 Malang. Dugaan kekerasan mencuat setelah kegiatan penyambutan pagi atau morning greeting yang digelar di sekolah tersebut. Kepala SMPN 18 Malang, Moh. Amrozi Hamidi, diduga melakukan penamparan terhadap sejumlah siswa yang kedapatan tidak mengenakan seragam lurik atau pakaian adat tradisional sesuai ketentuan yang berlaku hari itu.

Insiden yang terjadi pada Kamis, 24 September 2026 tersebut tidak berhenti sebagai persoalan internal sekolah. Keesokan harinya, protes besar pecah. Pada Jumat, 25 September 2026, puluhan siswa bersama wali murid mendatangi sekolah untuk menggelar aksi protes. Mereka menuntut pertanggungjawaban kepala sekolah atas tindakan yang dinilai tidak mendidik dan melanggar prinsip perlindungan anak di satuan pendidikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aksi protes yang berlangsung di halaman SMPN 18 Malang itu sontak menjadi viral dan menyedot perhatian publik. Para orang tua menilai, apapun alasannya, kekerasan fisik bukanlah metode pembinaan. Jika persoalannya hanya seragam lurik, maka sanksi edukatif yang seharusnya dikedepankan, bukan tamparan yang meninggalkan trauma.

Kasus ini kembali membuka luka lama tentang masih kuatnya budaya kekerasan di sekolah dengan dalih penegakan disiplin. Seorang kepala sekolah yang seharusnya menjadi teladan dan pelindung justru diduga menjadi pelaku. Ketika seragam lurik yang merupakan simbol pelestarian budaya justru ditegakkan dengan cara kekerasan, maka nilai pendidikan karakternya sendiri telah runtuh.

Hingga aksi protes pada 25 September 2026 berlangsung, belum ada penjelasan terbuka yang memadai dari pihak sekolah maupun dinas pendidikan setempat. Publik menunggu apakah kasus ini akan diselesaikan secara transparan dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, atau kembali ditutup dengan dalih kekeluargaan yang justru melanggengkan kekerasan di dunia pendidikan. (*)

Berita Terkait

Bener Meriah Gelar Dialog Budaya Gayo Dalam Rangka Peringatan Hari Budaya Tahun 2026
Banjir Kembali Mengancam Kampung Agusen, BPBD Gayo Lues Dirikan Empat Tenda Darurat
BPBD Gayo Lues Siapkan Normalisasi Sungai Aih Bobo, Pekerjaan Ditargetkan Mulai 19 Oktober
Ada Apa Dengan PWI Aceh …?
Kepsek SMAN Plus Riau Luruskan Isu LKBB, Tegaskan Jaga Kepercayaan Sponsor
Pemberdayaan Perempuan Tim Penggerak PKK Desa Padang Luas Melalui Pelatihan Budidaya Jamur Merang Skala Rumah Tangga Berbasis Tandan Kosong Kelapa Sawit Menggunakan Keranjang Sampah
Proyek Pembangunan Jembatan Layang Enang – Enang Segera Dimulai. Pagu Anggaran Rp 800 Miliar
Bangkai Mamalia Laut Diduga Paus Ditemukan di Pantai Bakau Indragiri Hilir

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Asap Karhutla Racuni 13 Juta Warga, 277 Ribu Terserang ISPA dan 62 Ribu Korban Balita

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:20 WIB

KPK Ancam Jemput Paksa Menteri ATR Nusron Wahid yang Dua Kali Mangkir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:39 WIB

MK Putuskan Prajurit TNI Pelaku Pidana Umum Diadili di Peradilan Umum

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bahlil Desak Kepolisian Segera Tindak Tegas Penimbun BBM Subsidi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Stok Pertalite Nasional Tersisa 16 Hari, Bahlil Klaim Aman di Tengah Antrean BBM di Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dugaan Pembatasan Rujukan JKN Mengancam Keselamatan Pasien Kronis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, Barang Bukti Diangkut Pakai Tong Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:07 WIB

PDI-P Sebut Framing Karhutla sebagai Bencana Alam Keliru, Soroti Kegagalan Mitigasi Pemerintah

Berita Terbaru