ACEH TENGAH – Banjir besar melanda Kecamatan Atu Lintang, Dusun Kekelip Musara, dan merendam permukiman warga serta bangunan sekolah. Air sungai yang meluap dengan warna cokelat keruh mengalir deras di bawah jembatan besi dan menyebar hingga ke halaman rumah-rumah warga dengan atap gelap dan dinding putih yang berada di bantaran sungai.
Video yang merekam kondisi di lapangan diambil dari atas jembatan dengan pagar cokelat, memperlihatkan betapa tingginya debit air. Kamera menyorot arus sungai yang meluap kencang, membawa lumpur dan menerjang lahan di sekitarnya. Seorang warga tampak menunjuk ke arah genangan yang telah menutupi pekarangan rumah dan sekolah, menggambarkan luasnya dampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut.
Peristiwa banjir ini terjadi ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah hulu di kawasan Gayo, membuat sungai tidak mampu menampung debit air dan akhirnya meluap ke permukiman. Dusun Kekelip Musara yang berada di dataran rendah dekat aliran sungai menjadi titik paling terdampak, di mana air masuk ke rumah warga dan mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Apa yang terjadi di Atu Lintang menunjukkan betapa rentannya permukiman yang berada di sempadan sungai tanpa penahan yang memadai. Bagaimana kondisi sungai yang dangkal akibat sedimentasi, di mana sistem drainase lingkungan, dan bagaimana kesiapsiagaan warga ketika debit air naik secara tiba-tiba.
Hingga rekaman itu diambil, air masih terlihat mengalir deras di bawah jembatan dan merendam area di sekitarnya. Warga masih bertahan di lokasi sambil memantau perkembangan air, berharap debit segera surut agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
Kejadian banjir yang melanda Kecamatan Atu Lintang, Dusun Kekelip Musara, pada 26 September 2026 tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan sungai dan penataan permukiman di bantaran harus menjadi perhatian serius. Diperlukan normalisasi sungai, penguatan tanggul, serta edukasi kebencanaan agar warga yang tinggal di kawasan rawan banjir tidak terus menerus menjadi korban luapan sungai setiap musim hujan datang.









































