GAYO LUES – Tebing sungai yang longsor menggerus habis badan jalan tanah di Kampung Remukut dan memutus akses utama warga. Jalan yang selama ini menjadi satu-satunya jalur penghubung antar permukiman di kawasan pegunungan itu kini menyisakan tebing curam berbatu yang menganga tepat di bibir aliran sungai cokelat yang meluap deras.
Video amatir yang direkam di lokasi memperlihatkan betapa parahnya kerusakan. Kamera menyorot sungai lebar dengan arus turbulen yang telah mengikis habis bahu jalan, meninggalkan jurang dalam tanpa pengaman apapun. Di seberang sungai, rumah-rumah warga dan sebuah mobil putih terlihat berada di dataran yang lebih tinggi, hanya berjarak beberapa meter dari bibir longsor. Di atas sisa jalan yang rusak, beberapa pemuda tampak berdiri mengamati kondisi, seorang di antaranya duduk di atas sepeda motor sambil merokok, menggambarkan betapa warga sudah terbiasa dengan situasi berbahaya yang dibiarkan tanpa penanganan.
Narasi dalam rekaman itu menyebut bahwa kondisi tersebut adalah akses jalan yang melewati Kampung Remukut, di mana warga lain takut melintas, namun mereka terpaksa nekat karena tidak ada pilihan. Pernyataan itu menjadi cermin betapa warga dipaksa bertaruh nyawa setiap hari hanya untuk beraktivitas, sementara infrastruktur dasar mereka runtuh tanpa ada kejelasan perbaikan.
Apa yang terjadi di Kampung Remukut bukan sekadar akibat hujan deras, melainkan akumulasi dari kelalaian bertahun-tahun. Mengapa jalan yang berada di sempadan sungai tidak pernah diperkuat dengan bronjong atau talud penahan? Di mana kajian mitigasi bencana untuk wilayah yang jelas-jelas berada di kawasan rawan erosi dan banjir bandang? Mengapa akses vital seperti ini masih berupa jalan tanah yang mudah tergerus air?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengemuka karena hingga kini tidak terlihat ada upaya serius dari pemerintah untuk membangun infrastruktur yang tahan bencana di wilayah pedalaman Gayo Lues. Jalan dibiarkan seadanya, tanpa drainase, tanpa perkuatan tebing, tanpa perencanaan jangka panjang. Ketika sungai meluap, jalan pun hilang, dan warga yang menanggung akibatnya.
Kondisi yang terekam pada 26 September 2026 itu seharusnya menjadi alarm keras. Putusnya akses di Kampung Remukut berarti putusnya jalur ekonomi, putusnya akses anak sekolah, dan putusnya jalur evakuasi jika bencana susulan terjadi. Jika kerusakan ini terus dibiarkan tanpa intervensi konstruksi yang permanen dan serius, maka yang tergerus bukan hanya badan jalan, melainkan juga kepercayaan warga terhadap kehadiran negara di wilayah mereka sendiri. (*)









































