HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Banjir Rendam Jalan Badak Gayo Lues, Warga Berjalan di Air Setinggi Dada dan Banjir Tahunan Tak Pernah Ditangani

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 26 September 2026 - 20:53 WIB

50495 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES – Banjir dengan arus deras kembali melumpuhkan Jalan Badak, merendam permukiman dan memaksa warga menerjang air keruh setinggi dada hingga pinggang untuk sekadar melintas. Air berwarna cokelat pekat itu meluap menutupi badan jalan desa, mengepung rumah-rumah sederhana di tepi jalan dan mengubah kawasan tersebut menjadi lautan lumpur yang berbahaya.

Video yang direkam dari tanggul di bawah langit mendung memperlihatkan betapa parahnya situasi. Di kejauhan terlihat pegunungan, sementara di depannya hamparan air turbulen menutup total akses. Beberapa warga terlihat berjalan tertatih melawan arus, sebagian menggendong barang, sebagian lain berusaha menyelamatkan perabotan. Tidak ada perahu karet, tidak ada petugas, tidak ada tanda kehadiran pemerintah. Warga dibiarkan berjuang sendiri di tengah bencana yang jelas-jelas mengancam keselamatan.

Apa yang terjadi di Jalan Badak bukan kejadian tiba-tiba. Teks dalam video itu sendiri menulis dengan gamblang, air di Jalan Badak naik kembali. Kalimat itu menjadi bukti bahwa banjir ini adalah peristiwa berulang, bukan anomali cuaca. Mengapa setiap hujan deras selalu berujung pada genangan setinggi dada? Di mana normalisasi sungai, di mana drainase, di mana sistem peringatan dini yang seharusnya sudah dibangun bertahun-tahun lalu?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jawaban itu tidak pernah ada. Jalan Badak yang menjadi akses utama warga dibiarkan tanpa perlindungan yang memadai. Rumah warga di tepi aliran tidak memiliki tanggul penahan, saluran air tersumbat sedimentasi, dan kawasan resapan di hulu terus dibiarkan rusak tanpa reboisasi. Pemerintah seolah menutup mata, datang hanya ketika bencana sudah terjadi, lalu hilang ketika air surut.

Siapa yang harus bertanggung jawab ketika warga harus berjalan di air setinggi dada hanya untuk pulang ke rumah? Bagaimana nasib anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang terjebak di dalam rumah yang dikepung banjir? Banjir yang melanda pada 26 September 2026 ini seharusnya tidak lagi dipandang sebagai musibah alam semata, melainkan sebagai akibat nyata dari pembiaran dan lemahnya perencanaan mitigasi bencana di Gayo Lues.

Jika frasa naik kembali terus muncul setiap tahun tanpa ada solusi permanen, maka yang naik bukan hanya air, melainkan juga akumulasi kelalaian. Warga Jalan Badak tidak butuh kunjungan seremonial dan janji bantuan darurat, mereka butuh tanggul yang kokoh, saluran yang berfungsi, dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan, bukan pembiaran yang terus diulang. (*)

Berita Terkait

Kabut Asap Selimuti Aceh Singkil, Warga Keluhkan Dampak Karhutla Lintas Provinsi
Ancaman Asap Tebal di Atmosfer, BMKG Imbau Warga Jakarta Waspada dan Kritik Lambatnya Penanganan Pemerintah
Bakti Sosial Dalam Rangka Menyambut Hut Ke-81 Korps Brimob Polri, Brimob Bersama Masyarakat
Pemkab Gayo Lues Ikuti Rakor Rehabilitasi Faskes Pascabencana Sumatera, 867 Puskesmas Kembali Beroperasi
Dinkes Gayo Lues Imbau Warga Waspada ISPA, Minta Pakai Masker dan Batasi Aktivitas Luar Rumah
Satu Rumah di Kecamatan Lawe Alas Aceh Tenggara Ludes Terbakar Dini Hari, Penghuni Selamat
Awal Pelaksanaan TMMD ke-130 Kodim 013/ Gayo Lues Fokus pada Sasaran Fisik
Satresnarkoba Polres Gayo Lues Amankan Dua Pria, Sita 0,14 Gram Sabu

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:29 WIB

Asap Karhutla Racuni 13 Juta Warga, 277 Ribu Terserang ISPA dan 62 Ribu Korban Balita

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:20 WIB

KPK Ancam Jemput Paksa Menteri ATR Nusron Wahid yang Dua Kali Mangkir

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:39 WIB

MK Putuskan Prajurit TNI Pelaku Pidana Umum Diadili di Peradilan Umum

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Bahlil Desak Kepolisian Segera Tindak Tegas Penimbun BBM Subsidi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Stok Pertalite Nasional Tersisa 16 Hari, Bahlil Klaim Aman di Tengah Antrean BBM di Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dugaan Pembatasan Rujukan JKN Mengancam Keselamatan Pasien Kronis

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, Barang Bukti Diangkut Pakai Tong Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:07 WIB

PDI-P Sebut Framing Karhutla sebagai Bencana Alam Keliru, Soroti Kegagalan Mitigasi Pemerintah

Berita Terbaru