GAYO LUES – Arus air berwarna cokelat pekat merendam badan Jalan Nasional di kawasan Raklunung dan melumpuhkan aktivitas warga. Genangan yang hampir menutupi roda kendaraan memaksa pengendara roda empat dan roda dua melintas dengan kecepatan rendah di tengah derasnya aliran air yang meluap dari sisi jalan.
Peristiwa tersebut terjadi saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan itu selama hampir dua jam tanpa henti. Air yang tidak tertampung saluran drainase meluap dan langsung menutup akses utama yang menghubungkan antarwilayah di Gayo Lues. Dalam rekaman video yang beredar, tampak sebuah mobil hatchback berwarna merah, sejumlah SUV hitam, mobil van putih, hingga pengendara sepeda motor nekat menerobos banjir sambil menimbulkan cipratan tinggi. Seorang warga yang merekam dari bawah kanopi toko menyebut kondisi ini tidak lazim karena jalan yang biasanya memiliki dua lajur itu kini tidak terlihat batasnya akibat tertutup air.
Apa yang terjadi di Raklunung bukan sekadar fenomena cuaca, melainkan potret rapuhnya infrastruktur jalan nasional. Mengapa jalan berstatus nasional bisa dengan mudah tergenang hanya karena hujan dua jam? Di mana sistem drainase yang seharusnya mampu menampung debit air hujan di kawasan yang sudah lama dikenal rawan? Pertanyaan itu yang kini mengemuka di tengah warga yang terdampak.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi terkait langkah penanganan darurat maupun rencana normalisasi saluran air di titik tersebut. Warga hanya bisa saling mengingatkan untuk berhati-hati dan berharap banjir segera surut. Padahal, kejadian serupa berpotensi terus berulang jika tidak ada evaluasi serius terhadap kapasitas drainase, pembersihan sedimentasi, dan perencanaan tata air di sepanjang koridor jalan nasional.
Banjir yang melanda kawasan tersebut pada 26 September 2026 ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan instansi terkait. Jalan nasional bukan hanya jalur transportasi, melainkan urat nadi ekonomi masyarakat Gayo Lues. Ketika satu ruas lumpuh karena banjir, distribusi logistik, mobilitas warga, hingga akses layanan publik ikut terhambat. Tanpa mitigasi yang konkret dan pemeliharaan infrastruktur yang konsisten, warga akan terus menjadi korban dari persoalan yang sama setiap musim hujan datang. (*)









































