BANDA ACEH | Penutupan permanen sebuah gerai ritel gaya hidup di Plaza Aceh, Banda Aceh, memicu fenomena belanja yang ekstrem. Ribuan warga memadati outlet tersebut setelah manajemen mengumumkan akan mengakhiri operasionalnya setelah kurang lebih satu tahun hadir di pusat perbelanjaan tersebut. Keputusan untuk menutup toko direspons dengan pemberian diskon besar-besaran hingga 70 persen untuk hampir seluruh produk yang tersedia.
Kondisi di lapangan menunjukkan antusiasme masyarakat yang cenderung tidak terkendali. Rak-rak barang tampak kosong dalam waktu singkat, sementara area kasir dipenuhi pengunjung yang membawa tumpukan keranjang belanjaan. Fenomena ini memuncak pada 23 dan 24 September 2026, di mana warga rela menghabiskan waktu hingga lima jam hanya untuk mengantre di depan kasir demi mendapatkan barang dengan harga jauh di bawah pasaran, seperti produk yang semula dibanderol Rp300.000 kini turun menjadi kisaran Rp100.000.
Tingginya minat masyarakat terhadap barang-barang dengan harga miring ini mencerminkan fenomena panic buying di tengah momentum penutupan gerai. Kerumunan yang membludak membuat suasana di dalam outlet menjadi sesak dan tidak kondusif bagi kenyamanan berbelanja. Pihak pengelola hingga kini belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan pasti penutupan gerai yang identik dengan warna kuning tersebut, namun isu hengkangnya merek ini dari Plaza Aceh telah terkonfirmasi melalui aksi cuci gudang besar-besaran yang terjadi sepanjang dua hari terakhir. (*)







































