Oleh : Angga Prasetiya
“Siapakah pemberontak itu?” itulah pertanyaan pertama yang diajukan oleh Albert Camus dalam bukunya The Rebels. Pemberontak menurutnya ketika seorang budak memiliki keberanian untuk pertama kali mengatakan “tidak” kepada majikannya. Namun apa artinya saat ia mengucapkan kata “tidak”? pada momen itu sang budak secara simultan menentukan batasan imajiner antara dirinya dan sang majikan, bahwa terpadat perintah-perintahnya yang tidak dapat lagi diturutinya karena berseberangan dengan aspek kemanusiaan dari dirinya.
Apa yang dialami oleh si budak dalam momen penolakannya lebih bersifat transenden, karena penolakan terdeterminasikan melalui aras kesadaran. Kesadaran adalah hal yang absurd sejauh si budak mengandaikan dapat mengidentifikasi dirinya secara paripurna, melalui pengungkapan nila-nilai yang kontradiktif.
Setiap pemberontakan bagi Camus, entah bagaimana selalu bermula dari kesadaran yang merasa telah menemukan kebenaran. Akibatnya, dalam pemberontakan akan selalu ada transisi dari “kenyataan-kenyataan” ke “kebenaran-kebenaran.” Transisi ini berkelindan dengan subjektivitas si budak, penolakannya hadir secara bersamaan dengan tuntutan agar sang majikan mengakui nilai-nilai yang diungkapkannya.
Pemberontakan si budak dalam keberlanjutannya melampaui bentuk penolakan yang sederhana. Si budak bukan lagi sebatas mengatakan “tidak” kepada majikannya, lebih jauh ia menuntut diperlakukan sama dengan majikannya. Ia bahkan secara paksa meminta perbudakan dihapuskan. Si budak tidak mau berkompromi lagi dengan sang majikan, karena merasa telah menemukan kebenaran tentang dirinya sendiri. Perihal eksistensialis-nya pun, si budak tidak membutuhkan sang majikan lagi.
Namun pada momen apa pemberontakan menemukan legitimasinya? Mengingat secara genealogis kehadiran penolakan untuk pertama kalinya terjadi melalui pengalaman si budak yang paling privat. Pada saat pertama kali mengatakan “tidak”, si budak tidak mengerti apapun selain pengandaian tentang kepentingan dirinya.
Pemberontakan menemukan legitimasinya menurut Camus justru dari relasi yang sangat metafisik. Saat pemberontakan terjadi, individu beserta perwujudan nilai-nilainya tidak dapat lagi dipertahankan. Pengartikulasian nilai dari yang awalnya bersifat individualistik, kini menjadi nilai universal dan diyakini orang banyak, sehingga pemaksaan terhadap struktur menjadi semacam aksioma. Kebenaran seperti apa yang dapat lahir dari palingan nilai-nilai seperti itu, selain konsensus yang dipaksakan melalui mekanisme ideologi?
Ketika seseorang melakukan pemberontakan, sebenarnya ia sedang mengidentikkan dirinya dengan orang lain. Melalui pemberlakuan nilai-nilai ia berupaya mengeneralisasikan seluruh kondisi ketertindasan menjadi kelompok solidaritas yang homogen. Secara arbitrer ia menjadikan himpunan individu sebagai kawanan yang kondisi ketertindasannya hanya dapat terjelaskan melaui pengimplementasian nilai-nilainya.
Pemberontakan hanya menemukan pembenarannya dalam bentuk-bentuk solidaritas. Akan tetapi, keanehannya justru terletak pada palingan atas penderitaan. Penderitaan berawal dari keabsurditasan pengamalan individu yang ditransformasikan menjadi kehendak kolektif. Penderitaan didistribusikan ke berbagai individu yang bersifat dispersif. Keanehan seperti itulah yang melingkupi pemberontakan metafisik. Camus secara sarkastik menyebut transformasi penderitaan itu sebagai “penyakit yang dialami seseorang menjadi wabah massal”.
Terdapatnya solidaritas dalam pemberontakan yang mengungkapkan keidentikkan individu berdasarkan kondisi ketertindasannya, merupakan tanda bekerjanya suatu tatanan ideologi. Sebagai contoh Marx dalam Manifesto Partai Komunis menggeneralisasikan kondisi ketertindasan buruh ke dalam kelas proletariat yang merepresentasikan kehendak sejarah untuk menghapuskan kepemilikan pribadi dalam kapitalisme.
Solidaritas imajiner sebagai subjek tertindas juga diungkapkan oleh Hasan Tiro dalam Atjeh Bak Mata Donja. Ia mereplikasi Aceh sebagai bangsa yang telah terinstitusionalkan sejak abad ke 17 M, dan mentransformasikannya ke dalam kondisi ketertindasan. Pemberontakan metafisik yang diartikulasikan oleh Hasan terlihat dari keseluruhan aspek ketertindasan dilegetimasikan berdasarkan kesatuan yang tercapai melalui sejarah.
Meminjam istilah dari Derrida, sejarah adalah kenampakan dari logosentrisme yang selalu mewujudkan dirinya sebagai kehadiran. Apa yang disebut sebagai kehadiran sebenarnya dikontruksikan berdasarkan jejak-jejak (trace).
Merekonstruksikan jejak tidak dengan sendirinya dapat mentransformasikan kehadiran ke dalam wujudnya yang aktual karena penjelasan tentang jejak tidak lagi tercapai berdasarkan kondisi simetris antara penanda-petanda.
Kehadiran selalu dirujuk dari “yang lain”. Saat suatu kehadiran diartikulasikan yang terjadi adalah perujukan atas regresi dan progresi secara simultan. Oleh karena itu, alih-alih melalui sejarah dapat merekonstruksi kehadiran yang stabil, yang terjadi justru kebalikannya ke-chaos-an tanda-tanda. Seluruh sejarah adalah sejarah ketidakbermaknaan.
Pemberontak dalam perspektif Camus selalu bermula dari kegamangan eksistensialis manusia. Manusia selalu merasa benar-benar dapat menemukan realitas tentang dirinya, perwujudan nilai secara arbitrer diidentikkan dengan realitas itu sendiri. kehendak kolektif dalam pemberontakan bagi Camus dipahami sebatas konsekuensi dari penampakan ideologi yang selalu mendeskripsikan imajineritas akan subjek.
Penulis adalah seorang guru sejarah di SMAN 19 Takengon









































