HOTELBET slot preparation.lsrs.lu

Satu Lagi Pekerja Migran Gayo Terjebak di Kamboja, Ibunya Menjajakan Ikan Sambil Cari Jalan Pulang untuk Anak

Redaksi Bara News

- Redaksi

Sabtu, 26 Juli 2025 - 12:24 WIB

501,618 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Takengon, Baranews – Jumlah pekerja migran asal Dataran Tinggi Gayo yang terjebak di Kamboja kembali bertambah. Muhammad Fahmi, pemuda asal Teritit, Kabupaten Bener Meriah, menjadi nama terbaru yang meminta pertolongan untuk dapat dipulangkan ke tanah air setelah diduga menjadi korban praktik kerja ilegal yang berujung pada tindak pidana perdagangan orang.

Informasi ini dikonfirmasi oleh Yusradi Usman al-Gayoni, inisiator World Gayonese Community (Diaspora Gayo Dunia) yang kini bermukim di London, Inggris. Melalui sambungan pesan WhatsApp, Kamis (24/7/2025) pagi waktu setempat, Yusradi menjelaskan bahwa Fahmi bekerja di lokasi yang sama dengan Al Muttakim, pekerja migran asal Aceh Tengah yang juga tengah dalam proses pemulangan.

“Senin lalu (21/7), Fahmi menghubungi kami. Ia meminta bantuan agar bisa kembali ke Indonesia, pulang ke kampung halamannya di Teritit, Bener Meriah. Ibunya, Bu Kartini, sehari-hari menjual ikan depik keliling,” ujar Yusradi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fahmi tercatat sebagai pekerja migran ketiga dari Kabupaten Bener Meriah yang berhasil menjalin komunikasi langsung dengan jejaring diaspora Gayo di luar negeri. Sebelumnya, dua nama lain, Tanwir Ayubi dan Feri Sapuan, telah lebih dahulu dipulangkan. Sementara satu pekerja lainnya, Al Muttakim dari Kabupaten Aceh Tengah, masih berada di Kamboja dan sedang dalam tahap proses repatriasi.

Yusradi menyebutkan, dirinya terlibat langsung dalam membantu proses pemulangan tiga dari empat pekerja migran Gayo tersebut. Koordinasi intens dilakukan, termasuk dengan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah. Begitu menerima pesan dari Fahmi, ia langsung berkomunikasi dengan bupati, wakil bupati, dan sekretaris daerah.

“Karena bupati dan wakil sedang dinas luar, arahan diberikan ke sekda. InsyaAllah hari ini, ibunya Fahmi akan bertemu langsung dengan pihak pemkab,” ungkapnya.

Ada potret yang menggugah dari perjuangan keluarga Fahmi. Sang ibu, Kartini, tetap menjajakan ikan depik—ikan khas Danau Lut Tawar—sembari melakukan perjalanan dari Takengon menuju kantor bupati. Perjuangan perempuan sederhana itu menggambarkan keteguhan seorang ibu yang ingin menjemput kembali anaknya dari negeri asing.

Sejauh ini, seluruh pekerja migran asal Gayo yang terlibat disebut berangkat ke Kamboja dengan janji pekerjaan layak. Namun belakangan, tempat kerja mereka diduga kuat menjadi bagian dari jaringan penipuan daring (online scam), modus yang kian banyak menjerat pekerja migran Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Kurang lebih kasus mereka sama. Diduga dimanfaatkan oleh perusahaan yang menjadi bagian dari sindikat scammer. Ini sangat berbahaya karena berujung pada praktik perdagangan orang,” kata Yusradi.

Pemerintah pusat dan daerah didorong untuk lebih tanggap terhadap fenomena ini. Minimnya data dan komunikasi antarwilayah membuat korban sulit terlacak. Yusradi menduga jumlah pekerja migran asal Tanoh Gayo yang terjebak di Kamboja bisa lebih banyak dari yang telah teridentifikasi.

“Sementara ini baru empat orang yang menjalin kontak langsung. Tapi bisa jadi lebih banyak yang belum terdata,” ujarnya.

Pemulangan Al Muttakim dan Muhammad Fahmi kini menjadi fokus. Keduanya berasal dari dua wilayah yang berbeda: Asir Asir Kecamatan Lut Tawar (Aceh Tengah) dan Simpang Teritit Kecamatan Wih Pesam (Bener Meriah). Pemerintah Indonesia diharapkan segera menuntaskan proses pemulangan mereka dari Kamboja.

Dalam situasi yang serba tidak pasti, suara lirih dari pegunungan Gayo kini menggema hingga ke luar negeri—memanggil kembali anak-anak muda yang ingin pulang dari tempat asing yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Berita Terkait

Tani Merdeka Aceh, APPSI, dan SPPG Sepakat Jalin Kerja Sama untuk Serap Hasil Pertanian Lokal
Hujan Deras Jadi Berkah, Mas Dar Terobos Hujan Resmikan 980 Dapur Gizi, Menyapa Pekerja & Bagikan Doorprize Anak”
Warga Rusip Antara Aceh Tengah Meninggal Dunia Diduga Terinjak Gajah, Ambulans Terhalang Longsor
Endatoe Foundation Gelar Webinar “Career Abroad”: Buka Jalan Pemuda-Pemudi Aceh Menjadi Tenaga Medis di Jerman
Nahkoda Baru APPSI Aceh Tengah 2025-2030 Siap Dilantik, Ali Munawardiko Jabat Ketua
Alat Berat Kemendagri Kabur Sebelum Kontrak Usai, Warga Aceh Tengah Jadi Korban Janji Penanganan Bencana
Jembatan Reje Payung di Linge Aceh Tengah Kembali Terputus, Akses Warga Lumpuh Total
Luapan Air Rendam Lima Desa di Pegasing Aceh Tengah, Hujan Tak Kunjung Reda

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Ridwansyah Dorong Petani Kopi di Gayo Lues Kembangkan Tembakau dengan Pola Tumpang Sari

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:22 WIB

TMMD ke-130 Kodim 0113/Gayo Lues Kebut Pembangunan Jalan Huntara

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:17 WIB

Brigjen TNI (Mar) Guslin Tinjau Normalisasi Sungai Aih Bobo, 13 Ekskavator Bantuan Presiden Telah Beroperasi di Blangkejeren

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:14 WIB

Pemerintah Pusat Kirim 16 Alat Berat untuk Percepat Pemulihan Pascabanjir di Gayo Lues

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:34 WIB

Pembangunan 5 unit RTLH di Kampung Gajah Program TMMD ke-130 Dikerjakan Secara Gotong-royong

Rabu, 21 Oktober 2026 - 01:00 WIB

Sambut Hari Jadi Humas Polri ke-75, Polres Gayo Lues Gelar Donor Darah

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Satgas TMMD ke-130 Pasang Gorong-gorong pada Pembukaan Jalan Menuju Huntara

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:42 WIB

Excavator Tertimbun Longsor Susulan di Jalan Ketukah Gayo Lues, Operator Lompat Selamatkan Diri

Berita Terbaru