oleh

Wakil Bupati Gayo Lues Pimpin Upacara Hari Santri Nasional di Lapangan Pancasila

WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.59
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.57
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.59(2)
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.58
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.58(1)
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.08.00(1)
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.08.00
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.59(1)
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.07.58(2)
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.08.00(2)
WhatsApp Image 2019-10-22 at 23.08.01

 

GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO –  Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani Pimpin  Upacara dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional bertempat di Lapangan Pancasila Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues, Selasa (22/10/2019).

Pantauan media di lapangan sebagai Danup dari Santri Ponpres Salahuddin, Rasidan, turut hadir pada kesempatan ituWakil Bupati Gayo Lues, H. Sain Sani, Wakapolres Gayo Lues, Kombes Andiyano, S.KM, Sekda Gayo Lues, Thalib, S.Sos, MAP, Ketua MPU Gayo Lues, Tgk. Kasimudin Ghazali, Danramil 03/BKJ, Kapten Inf Fazrul, Para Asisten dan Staf Ahli Bupati Gayo Lues, Para Kepala SKPK Kab. Gayo Lues, Tokoh Agama, Para PNS Kab. Gayo Lues,dan Para Santri Kabupaten Gayo Lues.

Dengan adanya hari santri yang ditetapkan pada 22 Oktober 2019, bangsa kita semakin maju dan Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Gayo Lues kami mengajak dan menghimbau para pimpinan Pondok Pesantren, Para Ulama, tengku-tegku, Tokoh Agama dan seluruh santri mari sama-sama kita bekerja untuk mensukseskan program mewujudkan 1000 Hafidz dan Hafiza.

Wakil Bupati Gayo Lues, H. Said Sani selaku inspektur upacara dalam amanatnya mengatakan “ Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya “Resolusi Jihad” yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema Dari Pesantren untuk Indonesia”, tahun 2017 “Wajah Pesantren Wajah Indonesia” , dan tahun 2018 “Bersama Santri Damailah Negeri”, tuturnya.

Selain itu Meneruskan tema tahun 2018, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia, kata H.Said Sani dalam pidatonya.

Selain itu disampaikan H.Said Sani Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian, dianatanya Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa, Metode mengaji dan mengkaji,  Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri, Gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren, Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius, Merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Prinsip maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren, Penanaman spiritual.

Selanjutnya disampaikan Wakil Bupati Gayo Lues H. Said Sani disamping alasan pesantren sebagai laboratorium perdamaian, keterpilihan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sejak 2 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020, dimana bargaining position Indonesia dalam menginisiasi dan mendorong proses perdamaian dunia semakin kuat dan nyata, menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa, terutama kalangan santri Indonesia agar turut berperan aktif dan terdepan mengemban misi dan menyampaikan pesanpesan perdamaian di dunia intemasional.

Akhirnya kita juga patut bersyukur karena dalam peringatan Hari Santri Tahun 2019 ini terasa istimewa dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan Undang-Undang tentang Pesantren ini memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pengabdian masyarakat. Dengan Undang-Undang ini negara hadir untuk memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi kepada pesantren dengan tetap menjaga kekhasan dan kemandiriannya. Dengan Undang-Undang ini pula tamatan pesantren memiliki hak yang sama dengan tamatan lembaga lainnya, jelasnya.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ucapkan “Selamat Hari Santri 2019, Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”, Tutupnya. (ABDIANSYAH)

News Feed