oleh

Wacana Usulan Bupati Bener Meriah Terkait Jalan Tembus Menuju Kabupaten Aceh Timur

Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi

Bener Meriah – Baranewsaceh.co –  18 (delapan belas) tahun yang silam pernah kulontarkan sebuah inspirasi pemikiran berupa gagasan dan ide membangun yang di kemas dalam bentuk tulisan (feature).

Tulisan tersebut kemudian menjadi asfirasi awal pemekaran Kabupaten bener Meriah dari Kabupaten Aceh tengah,  juga pemekaran Kabupaten Gayo Lues dari Kabupaten Aceh Tenggara.

Berikut petikan tulisannya :
“Begitu indah syairnya Gurdi Damora tentag jalan ke Belang, tetapi tidak bercerita tentang jalan Lukup Tembus Samar Kilang. Mereka rindu ingin melihat kota Pondok Baru yang baru, mereka ingin mendengar desing pesawat kapan mendarat di Rembele Bale Atu”. (Titip Salam dan Bingkisan Untuk Tanah Leluhur). Hamdani Toa, Tabloid Gayo tribune tahun 2001.

Hari ini Sabtu 13 Juli 2019, terasa sesak nafasku, ketika Bupati Bener Meriah Sarkawi, kembali melontarkan wacana tersebut, usulan pembukaan jalan tembus dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kabupaten Aceh Timur.

Seperti bernostalgia ke masa yang lalu. Tapi sayang komplik Aceh antara TNI dan GAM, telah menghancurkan sendi sendi perekonomian masyarakat, akibatnya sampai saat ini, masih terlalu sulit untuk bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi dan kemiskinan.

Tapi sudahlah, lupakan semua itu, tak ada gunanya untuk di sesali, paling hanya mengoyak luka lama yang di balut dendam kesumat yang tak tau kapan akan berakhir. Yang jelas tetaplah menjadi diri sendiri, mungkin itulah jawaban yang tepat dari semua itu. Sebuah manajemen komplik yang di bolak baik seperti bermain, Yoyo, tapi bukan bermain damino yang diakhir persoalan akan berharap masuk dan memperoleh hitungan.

Pengabdian tak mesti di hargai, di kenang dan di puja puji. Pengabdian adalah wujud nyata dari ilham diri yang harus di utarakan ke publik, walau terkadang terlalu lelah untuk di lakoni. Tapi begitulah adanya.

Kembali pada fokus semula petikan tulisan berupa gagasan ide dan pemikiran membangun.

“Begitu indah syairnya Gurdi Damora Tentang Jalan Ke Belang”

Sebuah Kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh tenggara, yang beribukota Belang kejeren.Kabupten Gayo Lues, negeri seribu bukit yang terkenal dengan kisah heroik pejuangnya ketika melawan penjajahan Belanda pada tahun 1904. Negeri yang punya tarian khas dengan gerakan tangan seribu “Saman Dance” serta wilayah pegunungan dengan gugusan Bukit barisan yang menjadikan Gunung Louser sebagai paru paru dunia. Paru paru dunia sebutannya. Mungkin kalau debu yang ada di perut gunung Louser di olah dan di gali, dapat di pastikan akan membuat penduduk dunia sesak nafas, seperti peristiwa di kota Herosima dan Nagasaki Jepang. Wajar kiranya Pemerintah kemudian menjadikan daerah ini sebagai Kawasan Ekosistem Louser (KEL).

“Tetapi tidak bercerita tentang jalan Lukup tembus Samar Kilang”

Lukup adalah ibu kota dari Kecamatan Serba Kadi di Kabupaten Aceh Timur, sedangkan Samar Kilang adalah ibu kota dari Kecamatan Syiah Utama yang terletak di Kabupaten Bener Meriah. Konon dulu menurut cerita para orang tua, sudah ada jalan yang menghubungkan dua Kabupaten bertetangga tersebut.

“Mereka  ingin melihat kota Pondok Baru yang baru”

Kota Pondok Baru yang baru, kini telah berubah wujud menjadi sebuah Kabupaten baru  yang di beri nama ” Bener Meriah”. Kendati  ibu kota dari Kabupaten Bener Meriah bukanlah kota Pondok Baru, melainkan Redelong. Hal ini di mungkinkan karena terbatasnya lahan bagi pemerintah untuk membuat komplek  perkantoran baru. Disisi lain pemerintah harus mengeluarkan cosh yang cukup tinggi untuk pengadaan lahan.

Kabupaten baru Bener meriah berdiri sejak tahun 2004. Sebuah Kabupaten yang berawal dari 3 (tiga) kecamatan yaitu : Kecamatan Bandar, kecamatan Bukit dan kecamatan Timang Gajah.

“Mereka ingin mendengar desing pesawat kapan mendarat di Rembele Bale Atu”

Rasanya tidak ada yang aneh kalau setiap hari saat matahari terbit sepenggalahan, maka saat itu juga gemuruh pesawat udara membahana melintas di atas rumah sewa yang ku diami. Datang dan pergi setiap hari dari dan menuju ke Bandara Kuala Namu Sumatera Utara.

Bandara yang di resmikan oleh Presiden Jokowi , yang letak keberadaannya tidak jauh dari rumah tempat tinggal Presiden Jokowi saat masih menetap di Kampung halaman ke duanya tepatnya, di desa Bale Atu, kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah.

Butuh waktu 6 (enam) tahun bagi seorang mantan Bupati Aceh tengah Mustapa M.Tamy, untuk bisa menyelesaikan semua itu, lewat konsep pembangunan yang terkenal dengan sebutan 13 Trobosan Bupati Aceh Tengah kala itu. Lalu apa keistimewaan dari seorang mantan Bupati Mustapa M.Tamy ?. Sikap tegas peduli, loyalitas serta pengabdian yang tinggi terhadap negeri asal Meurah Johan sebagai pendiri kerajaan Aceh Darussalam,  cukup diakui. Kepiawaiannya dalam hal lobi, sulit ditandingi. Jiwa membangunnya yang kuat,  dan sepertinya sampai saat ini belum terwariskan kepada para Bupati selanjutnya, khususnya di 3 (tiga) Kabupaten Bersaudara yaitu : Kabupaten. Aceh Tengah, Kabupaten Gayo Lues, dan Kabupaten Bener Meriah.

Lewat tulisan ini sekiranya boleh penulis mengusulkan. Ada baiknya Pemkab Bener Meriah berupaya untuk memindahkan Kuburan beliau di Medan Sumatera Utara, untuk disatukan dengan sederet tokoh pemekaran lainnya yang telah almarhum di taman makam pahlawan Bener Meriah, yang dihiasi taman bunga kemegahan, dalam harmoni jiwa tanpa dendam, yang di latar belakangi Umah Pitu Ruang sebagai rumah kebesaran orang Gayo.

Suksesnya seorang mantan Bupati almarhum Mustapa M. Tamy ternyata masih menyisakan sebuah konsef yang belum terwujud. Yaitu etimologi kata dalam kalimat lewat tulisan yang tergoreskan 18 (delapan belas ) tahun yang lalu

.“Jalan Lukup Tembus Samar Kilang“.

Jalan yang di maksud adalah jalan tembus yang menghubungkan antara Kabupaten Aceh Timur dengan Kabupaten Bener Meriah.

Kurang lebih 5 (lima) tahun kebelakang, aku baru pulang ke Kabupaten yang namanya Bener meriah ini. Baru kali ini aku mendengar ada Bupati yang kembali mengusulkan wacana jalan pembukaan jalan tersebut, setelah 18 (delapan belas) tahun berlalu. Sepertinya Bupati yang satu ini, berani membuat suatu terobosan baru. Jiwa membangun yang kuat dan berkeinginan untuk membebaskan wilayah kabupaten Bener Meriah, keluar dari bayang bayang keterisoliran dan kebuntuan, akibat tidak adanya akses jalan.

Usulan tersebut disampaikan Bupati Sarkawi langsung dihadapan plt Gubernur Aceh, Ir.Nova Iriansyah saat penutupan Pekan Inovasi Pemberdayaan Masyarakat gampong yang secara kebetulan kabupaten Bener Meriah bertindak sebagai Tuan Rumah.

Dalam sambutannya, terdengar Bupati Sarkawi mengusulkan kepada Plt Gubernur Nova Iriansyah agar jalan tembus yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dengan Kabupaten Aceh Timur segera di buka.

Mencuatnya kembali usulan tersebut, bukanlah tanpa dasar dan pertimbangan. Samar Kilang ibu kota dari Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Bener Meriah. Pining ibu kota kecamatan Pining kabupaten Gayo Lues, dan Lokup Serba Jadi. ibu kota dari kecamatan Serba Jadi Kabupaten Aceh Timur. Ketiga Kecamatan berada dalam wilayah Kabupaten berbeda, dan masih terbilang terisolir. Jika jalan dari kabupaten Bener Meriah bisa di tembuskan ke kabupaten Aceh Timur, maka tiga Kecamatan yang berada di pedalaman Aceh ini akan maju dan tumbuh berkembang pesat. Dengan demikian akan ada 3 (tiga) titik central pertumbuhan ekonomi baru di wilayah tengah Provinsi Aceh.

Kecamatan Syiah Utama yang memiliki wilayah terluas dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah, dipastikan akan berkembang pesat, dan menjadi pusat pertumbuhan baru. Seluruh potensi yang ada di Kecamatan Syiah Utama akan bisa di kembangkan seperti :Kopi, Pinang, coklat, kelapa, padi, dan ternak. Disamping potensi alam kecamatan Syiah Utama yang sangat menjanjikan sebagai daerah tujuan wisata.

Dengan terbukanya akses jalan Lokup – Samar Kilang diharapkan keberadaan Kabupaten Bener Meriah akan menjadi pusat tujuan dari segala arah. Dapat di pastikan hasil bumi dari Kabupaten Bener Meriah akan mewarnai sejumlah pasar di bagian pesisir Aceh. Berawal dari arah timur Tamiang, Langsa ,Idi dan seputaran Pantan Labu.

Kemudian dengan adanya jalan lintas Kota Lhokseumawe – Bener Meriah, ragam hasil bumi asal Kabupaten Bener Meriah akan mengisi sejumlah pasar di seputaran Lhok Nibong, kroung geukuh dan kota Lhokseumawe.

Sementara lintas jalan Bener Meriah – menuju Kabupaten Bireuen. Produksi hasil bumi Bener Meriah berupa sayur mayur dan buah, akan memenuhi pasar di sepanjang jalan lintas Banda Aceh – Medan yang di mulai dari kota Bireuen sampai ke kota Banda Aceh. Rumusnya semakin besar konsumen yang membutuhkan, tentu  akan semakin besar pula volume barang yang harus di sediakan. Dengan begitu harga di pasar akan tetap stabil,  dan kesejahteraan petani di wilayah tengah Provinsi Aceh dapat  di tingkatkan.

Kalau jalan lintas Bener Meriah menuju kabupaten Aceh Timur dapat di tembuskan, dampak positip juga akan dirasakan oleh Kabupaten Aceh Tengah. Karena peran yang sama akan juga akan dilakukan oleh Kabupaten yang berada di tepi Danau Laut Tawar tersebut. Sebagai contoh,  Kampung Serule di kecamatan Bintang yang masih tergolong terisolir, begitu juga halnya dengan kecamatan Linge di daerah yang sama. Pemkab Aceh tengah tinggal membuka jalan terobosan baru dari kampung Serule kecamatan Bintang menuju Samar Kilang kecamatan Syiah Utama.

Alam Samar Kilang yang begitu indah sangat menjanjikan untuk dijadika sebagai Destinasi wisata, hamparan areal peternakan yang begitu luas juga butuh pengembangan oleh tangan terampil profesional.

Untuk itu perlu adanya pembahasan menyeluruh antara 3 (tiga) Kabupaten bersaudara. Dimulai dengan adanya kesamaan regulasi menyangkut masalah produk utama yaitu tanaman kopi serta komoditi lainnya.

Even pacuan Kuda tradisional gayo yang biasanya diselenggarakan di masing masing Kabupaten, hendaknya jangan hanya di jadikan seremoni pesta rakyat belaka. Momen tersebut harus di manfaatkan oleh para pejabat daerah untuk saling berdiskusi untuk mencari format yang tepat untuk membangunan wilayah tengah. Apalagi sekarang ada program ”NAWACITA” yang di kemas lewat “Gayo Alas Montain International Festival” (GAMIfest).
Kesempatan tersebut harus bisa di manfaatkan oleh sejumlah kabupaten yang berada di wilayah tengah Provinsi aceh.

Kembali pada pokok persoalan terkait usulan Bupati Bener Meriah. Sarkawi, menyangkut jalan tembus Bener Meriah menuju Kabupaten Aceh Timur. Hendaknya usalan dan wacana di atas jangan hanya sekedar wacana usang, yang tak tau kapan akan terealisasi. Karena menurut hemat kami, kemakmuran rakyat yang berada di wilayah tengah Aceh,  khususnya tiga kabupaten bersaudara, Kabupaten Aceh Tengah, Gayo lues dan Bener Meriah, ada di lintasan jalan ini.

Keberadaan jalan lintas Bener Meriah – Aceh Timur, kelak dapat mempersingkat waktu dan jarak tempuh antara kota Medan Sumatera Utara dengan Kabupaten Bener Meriah, dan ini penting karena sebagian besar produksi kopi dari tiga kabupaten bersaudara harus di ekspor melalui pelabuhan Belawan. Tentu hal ini sangat menguntungkan bagi pelaku usaha, yang bergerak di bidang eksportir khususnya kopi.

Jika hal ini di biarkan berlarut larut, akibatnya banyak spekulan bermain harga, sementara petani kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah dan Gayo Lues ,selalu berada pada posisi yang di rugikan. Peran pemerintah pusat dan provinsi sangat di nantikan oleh masyarakat pedalaman Bener Meriah dan sebagian masyarakat di Kabupaten Aceh timur.

Masyarakat Kecamatan Syiah Utama Samar Kilang yang selama ini sepi dari pembicaraan birokrasi, buntu akibat tidak adanya jalan akses jalan tembus menuju daerah lain, selain pulang kembali ke kota pondok baru Bener Meriah.

Akibatnya warna dan corak dan ragam masyarakat setempat, itu itu saja, tanpa ada perubahan yang berarti. Lewat tulisan ini kiranya pemerintah pusat dan Provinsi Aceh, dapat membuka mata. Karena sudah 73 tahun Indonesia merdeka. Negeri yang kaya dengan dana otonomi khusus (otsus) yang cukup besar, tetapi masih ada daerah yang terbelenggu dan terisolir. Pembangunan jangan hanya menumpuk di bagian pesisir Aceh. Wilayah tengah juga butuh di perhatikan. Ketimpangan pembangunan antara hulu dan hilir, akan berdampak pada rasa tidak puas,  yang pada gilirannya akan memunculkan wacana pemekaran Provinsi baru. Ujung ujungnya Pemerintah pusat juga yang akan terbebani menyangkut masalah anggaran.

Lewat tulisan sederhana ini,  penulis berharap Pemerintah pusat dan pemerintah Aceh,  kiranya sudah bisa mentelaah apa yang menjadi skala prioritas yang akan menjadi tolak ukur berkembang maju dan sejahteranya masyarakat yang berada di wilayah tengah Provinsi Aceh. (Hamdani).

News Feed