oleh

UNIKI Bireun-Lhokseumawe Menuntut PN Lhoksukon untuk membebaskan 3 nelayan di Aceh Utara

 

LHOKSEUMAWE, BARANEWS | Putusan Hakim terhadap para nelayan yang menolong warga Rohingya yang terdampar di perairan Aceh, sangat tidak dapat diterima oleh akal sehat. Apakah PN Lhoksukon sedang mengolok olok kebenaran? Atau bermain main diatas kekuasaan?

Bagaimana tidak, Majelis Hakim seharusnya bersikap adil untuk keseimbangan negara ini bukan menghakimi rakyatnya sendiri dengan hukum yang semena mena.

Seharusnya bukan hukuman penjara, tetapi sebuah penghargaan atas kepedulian terhadap sesama manusia sebagai bentuk apresiasi.

Tiga terdakwa yang dihukum masing-masing 5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta, subsidair satu bulan kurungan ini merupakan bentuk tidak adilnya hukum di negeri ini.

Pada Senin (14/06/ 2021), mereka divonis oleh Majelis Hakim PN Lhoksukon atas kasus menolong warga Rohingya di tengah laut Aceh Utara.

Abdul Aziz Maulana, Mahasiswa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia menuntut kepada Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon agar membebaskan nelayan dari kasus tersebut tanpa syarat.

“Dan jika putusan tidak diubah,mereka tetap tidak dibebaskan, Kami pastikan seluruh Mahasiswa dari berbagai aliansi khususnya di daerah Lhokseumawe – Aceh Utara – Bireun akan melakukan aksi demonstrasi besar besaran didepan Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Aceh Utara,” tegasnya.

Dan aziz juga turut berpesan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (Aceh Utara) untuk mengawasi kasus ini sampai tuntas.

“Kepada bapak/ibu dewan, kami mohon untuk berada di garis terdepan untuk menangani kasus ini,sampai 3 nelayan ini dibebaskan” Ujarnya,  Kamis (18/06/2021). (BK)

News Feed