oleh

Tragedi Rumoh Geudong Yang Merupakan Pelanggaran Ham

-HEADLINE, KAMPUS, OPINI-20342 views

Oleh :  Bunga Febriana

(Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry)

Tragedi Rumoh Geodong di Aceh merupakan sebuah peristiwa yang sangat banyak memakan korban, dimana semua masyarakat disiksa layaknya binatang dan ini dikategorikan sebagai dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kejahatan yang dilakukan berupa pemaksaan atau bentuk kekerasan seksual lain yang setara, penyiksaan, pembunuhan, penghilangan orang secara paksa dan perampasan kemerdekaan atau kebebsan fisik secara sewenang-wenag, ini merupakan lima unsure yang tertera dalam pasal 7 huruf b Juncto apa pasal 9 Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM.

Ketika Aceh diperlakukan sebagai Daerah Operasi Militer 1990-1998, nyaris setiap malam Komando Pasukan Khusus sebuah elite temper TNI menggiring dan menyeret mangsa-mangsanya yang diculik dari penjuru Pidie dan Aceh Utara, lalu menyikap dan menyiksa mereka di dalam jagal itu.

Rumoh Geudong berdiri di atas lahan seluas 1.500 meter persegi. terdiri satu bangunan uatama di tengah dan sebuah gudang di belakangnya. Di depan rumah ada sebuah kolam yang dipenuhi lintah dan itu merupakan tempat penyiksaan ratusan korban. Sisanya lahan yang jadi lokasi eksekusi pemasungan dan lubang sumur.

Tentara-tentara Indonesia membawa orang-orang Pidie dan Aceh Utara ke Rumah Geudong lalu memasung dan menembaki mereka di bagian kaki dan lengan agar bisa mengulur-ulur maut. Ada pula yang diperintahkan untuk mengali lobang sedalam-dalamnya, begitu letih melanda mereka dibunuh. Lobang yang sebelumnya telah digali menjadi kuburan mereka, dan lahan disekeliling Rumoh Geudong menjelma menjadi kuburan missal.

Setelah dinyatakan konflik Aceh telah usai dengan ditanda tanganinya perjanjian damai antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005, para pelaku pelanggaran HAM di Aceh belum pernah diadili dan belum ada yang secara terbuka mengakui kejahatannya yang telah diperbuatnya. Tanpa pengakuan dari pelaku, maka segala macam bala bantuan, kompensasi, dana diyat atau  apapun namanya tidak pernah bisa mengembalikan posisi korban sebagai manusia yang bermartabat.

News Feed