oleh

Tarian Saman Selalu Diiringi Oleh Tarian Bines

WhatsApp Image 2019-10-23 at 11.13.33
WhatsApp Image 2019-10-23 at 11.13.34
WhatsApp Image 2019-10-23 at 11.13.34(1)

GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO –  Taradsi suku Gayo setiap tahun mengadakan besaman roa lo roa ingi (dua hari dua malam) akan digelar di Pantan Cuaca Kabupaten Gayo Lues 27 Oktober 2019 mendatang.

Kepala Dinas Pariwisata M. Zainal Abidin SE, MM melalui Kabid Kebudayaan Aripin SE, Rabu (23/10/2019) mengatakan, tarian Saman roa lo roa ingi akan digelar di Pantan Cuaca 27 Oktober 2019 mendatang akan dihadiri boleh Kementerian Kebudayaan RI karena tarian Bines salah satu rangkaian dari Indonesiana tahun 2019.

Tarian Saman yang dimainkan oleh kaum laki – laki telah diakui oleh dunia menjadi warisan budaya tak benda di akui oleh Unissco pada tahun 2011 lalu. Dimana ada tarian saman disitu juga pasangan nya ada tarian bines, perkembangan tarian bines mengingat tarian ini dikawatirkan akan musnah kalau tidak dibangkitkan kepublik seperti tarian saman.

“Tari Bines hadir seiring dengan masuknya Islam ke Gayo meskipun begitu, tarian ini diawal ucapan yang dimainkan oleh ceh bines (Penangkat) dengan ucapan awalnya Bismillahirrahmanirrahim syeh Abdul Kadir pertama bercerita (birso mirah rahman rahim, bedul kader pemulen calitra). Artinya pertama belajar mengucapakan bismillah dan masuknya Islam melalui kesenian seperti yang terjadi di daerah-daerah lainnya, datangnya ajaran Islam ke Aceh memungkinkan adanya akulturasi budaya,” jelasnya.

Bines sendiri bermula dari kesenian tradisi yang disebut “piasan” yang dikemudian hari dijadikan salah satu sarana dakwah Islam dengan nama barunya, Tari Bines. Sebagai kesenian yang lahir dalam kehidupan masyarakat tradisional, awalnya tari ini bersifat sakral dan hanya ditampilkan dalam upacara adat saja, seiring dengan masuknya ajaran Islam di Gayo, kesenian yang sudah sedemikian populer tersebut dijadikan salah satu sarana penyebaran agama Islam. Lirik sya’ir dimuat oleh nilai-nilai religiusitas dan selanjutnya dijadikan sebagai lirik asli dan baku dari tarian ini.

Sementara itu, gerakan tetap mengacu pada asal kesejarahannya yakni para wanita menari sambil bertepuk tangan, melingkar dan berhenti secara serempak dimainkan 12 sampai dengan 16 orang.

Bagi masyarakat Gayo Lues, Tari Bines adalah belahan jiwa Tari Saman. Dahulu perempuan di Gayo Lues, tidak diizinkan menarikan Tari Saman mengingat sifatnya terlampau keras, kencang dan disertai dengan gerakan memukul-mukul dada. Oleh karena itu para leluhur menciptakan jenis tarian lain yang dianggap layak untuk ditarikan oleh para perempuan. Meski tidak ada kepastian mengenai awal munculnya, dahulu dalam setiap pertandingan (jalu) saman, Tari Bines juga ditampilkan pada jeda penampilan satu grup saman dengan grup yang lainnya.

Keberadaannya yang lebih difungsikan sebagai pelengkap inilah yang kemudian membuat tari ini tidak sepopuler Tari Saman. Untuk diketahui, acara bejamu saman tidaklah selalu melibatkan Bines. Tari Bines lebih sering ditampilkan pada bejamu saman roa lo roa ingi, sementara untuk bejamu saman sara ingi, tuan rumah jarang menampilkan tarian ini. Selain dalam acara tersebut, Bines juga digunakan sebagai hiburan pada acara adat lainnya, seperti sinte murip (pernikahan ataupun sunnah rasul) dan acara menyambut tamu yang dihormati pada suatu kegiatan.

Satu hal yang menarik dari Bines adalah najuk atau pemberian uang kertas yang dijepit menggunakan lidi dan diselipkan di sempol atau sanggul para penari. Tradisi ini adalah bentuk penghargaan atau apresiasi penonton kepada penari Bines. Besaran pemberiannya tidak ditentukan, berapa saja, tergantung keikhlasan masing-masing penonton. Adapun dalam bejamu saman, pemberian tersebut tidak hanya saat proses najuk, namun juga saat seberu melakukan proses mah batil. Mah batil biasanya dilakukan dua orang seberu dengan membawa batil dan perlengkapan mangas (menyirih) kepada tamu undangan. (Teuku Saidi Ramli)

News Feed