oleh

Strategi Adaptasi  Pedagang Taman Hutan Kota Langsa Pada Masa Covid-19

 

 

Penulis : Melinda (Mahasiswa Jurusan Manajemen Keuangan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. IAIN Langsa)

 

Awal tahun 2020 dunia tengah dilanda wabah virus Corona atau Covid-19. Virus ini bagai teror besar bagi seluruh umat manusia, mulai dari negara maju hingga negara berkembang telah terjangkit virus yang kini telah ditetapkan oleh WHO sebagai pandemi. Covid-19 yang terjadi menimbulkan kekhawatiran bagi seluruh masyarakat dunia, pasalnya virus yang menyebar memberikan dampak yang tidak sedikit di berbagai sektor. Bukan hanya dari segi kesehatan dan medis, perekonomian pun ikut terpukul akibat pandemi ini. Negara Indonesia yang memiliki potensi besar dalam pasar ekonomi pun tidak dapat menghindari ancaman krisis ekonomi nasional akibat Covid-19.

Menurut KemenkopUKM sekitar 37.000 UMKM memberikan laporan terkena dampak serius akibat pandemi ini yang ditandai 56% penjualan menurun, 22% melaporkan permasalahan pada aspek pembiayaan, 15% pada permasalahan distribusi barang, dan 4% melaporkan kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.

Masalah ini semakin serius, sejak ditetapkannya peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2020 tentang pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) meliputi pembatasan kegiatan penduduk di suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19 termasuk pembatasan terhadap pergerakan orang/barang dalam satu provinsi atau kabupaten/kota. Selain itu, penerapan physical distancing yang berarti melakukan menjaga jarak satu meter dengan manusia lain hingga Work From Home (WFH) di Indonesia membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan menjadi berkurang. Pembatasan ini juga mengharuskan fasilitas umum ditutup termasuk tempat wisata taman hutan Kota Langsa

Sejak diterapkan kebijakan tersebut, mengakibatkan perekonomian menjadi melemah karena daya beli konsumen ikut menurun. Tidak sedikit pedagang yang kehilangan penghasilan dan harus gulung tikar akibat pandemi ini. Salah satu pedagang di taman hutan Kota Langsa yang terdampak adalah Bapak Sutrisno pedagang bakso yang mengatakan ” pendapatannya sudah mulai menurun sejak pertengahan tahun 2020, ia juga pernah mengalami tidak memperoleh pemasukan akibat pandemi ini”

Terjadinya penurunan pendapatan, penutupan tempat wisata taman hutan Kota Langsa juga dilakukan  karena pemberlakuan PSBB oleh pemerintah yang berjalan selama kurang lebih tiga bulan, membuat para pedagang harus berputar otak dan melakukan berbagai cara agar barang mereka laku terjual dan dapat memenuhi kebutuhan pokok untuk keluarganya.

Menurut bapak Sutrisno “dalam bertahan di masa Pandemi Covid-19 para pedagang ditaman Hutan Kota Langsa sedang melakukan negosiasi kepada pihak Pemko agar menurunkan harga sewa ruko, karena pengunjung taman hutan Kota Langa menurun hampir 100%”.

Menurunya pendapatan pada pedagang menyebabkan perekonomian para pedagang di taman Hutan Kota Langsa menurun drastis, para pedagang yang biasanya berdagang makanan selama adanya penutupan di taman hutan Kota Langsa beralih profesi menjadi buruh bangunan dan lain sebagainya. Terpuruknya perekonomian para pedagang ini menyebabkan para pedagang berfikir keras bagaimana caranya agar tetap bisa memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga pada masa pandemi Covid-19.

Meskipun sekarang Taman Hutan Kota Langsa sudah dibuka secara umum namun jumlah pengunjung yang datang tidak sebanyak sebelum adanya pandemic Covid-19, disini para pedagang juga dituntut bagaimana agar dagangan mereka tetap laku walaupun jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. Strategi yang dilakukan para pedagang adalah dengan melakukan promosi melalui media sosial tentang taman Hutan Kota Langsa agar dapat menarik pengunjung sebanyak-banyaknya, dengan banyaknya jumlah pengunjung yang datang maka secara otomatis akan menarik para pembeli.

Diharapkan bagi pihak Pemko agar dapat menurunkan harga sewa tempat pada masa Covid-19, karena pedapatan yang didapat tidak sebanding dengan harga sewa ruko.

News Feed