oleh

SIGAP ACEH DUKUNG KEPUTUSAN FORKOPIMDA BERLAKUKAN JAM MALAM

BANDA ACEH, BARANEWSACEH.CO – Keputusan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Aceh tentang pemberlakukan jam malam di nilai sudah tepat dan konsisten untuk memback-up kebijakan pusat dan daerah dengan penguatan program social distancing demi mencegah penularan virus corona atau covid-19 di Aceh. Hal itu disampaikan oleh SYAHRUL selaku Wakil Ketua DPP.SIGAP PROV.ACEH bidang Sosial Kemasyarakatan.

Syahrul mengatakan, SiGAP memberi dukungan penuh kepada pemerintah atas kesepakatan FORKOPIMDA Aceh untuk memberlakukan jam malam di Aceh sebagai bentuk kepedulian terhadap warganya.

Syahrul juga menerangkan bahwa “pemberlakuan jam malam merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah dalam melindungi masyarakatnya dari penyebaran wabah covid-19 dan sebagai bentuk ketegasan pemerintah membatasi intensitas interaksi social masyarakatnya. Sesuai dengan laporan penelitian Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang menjelaskan bahwa pengurangan interaksi dan peningkatan kepatuhan masyarakat melalui berdiam diri dirumah serta social distancing akan mampu mengurangi laju peneyebaran covid-19 secara signifikan.”, ungkap syahrul.

Sebelumnya, mengenai beberpa kritikan pihak yang menolak pemberlakukan jam malam, kita menilai itu sarat akan politis dan basis kajian argumentasinya lemah. Di satu sisi mereka mengritisi pemerintah karna enggan memberlakukan lockdown dan penutupan aktivitas bandara, sedangkan disisi lain terlihat inkonsisten dengan menolak pemberlakuan jam malam yang dianggap efektif dalam membatasi ruang interaksi masyarakat di malam hari. di ungkapkan syahrul bahwasanya penerapan jam malam itu selaras untuk mendukung adanya (local lockdown) yang diterapkan yang ingin membatasi masyarakat (social distancing), jelas syahrul. Oleh karenanya, kita DPP SIGAP mendukung keputusan forkopimda Aceh memberlakukan jam malam mengingat rendahnya tingkat kepatuhan dan kesadaran masyarakat Aceh. Dengan berlakunya jam malam, maka tidak ada lagi aktivitas malam dan kerumunan masa.

Mengingat ini keputusan kolektif forkopimda Aceh, Syahrul menilai sangatlah keliru dan tidak tepat jika elit politik menyerang plt gubenur Aceh semata, melaikan keputusan itu diputuskan bersama tanggal 29 maret 2020 yang ditandatangani oleh Wali Nanggroe, Ketua DPRA, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda dan Kajati, ungkap syahrul. Artinya kita menghimbau hentikan kegaduhan dan polemik yang tidak produktif untuk kepentingan masyarakat. Kita juga mengingatkan elit yang menolak jam malam mencermati juga di belahan negeri lain yang terserang covid-19, seperti Arab Saudi, Thailand, Turky, yang semua Negara itu berlakukannya jam malam. Artinya baik Negara timur tengah, Eropa, Asia secara keseluruhan ikut terapkan jam malam untuk mendukung program social distancing, tutup Syahrul.

News Feed