oleh

Shabela dan Puan Kagumi Taman Hidroponik Dinas Pangan

[espro-slider id=1929]

ACEH TENGAH, BARANEWSACEH.CO – Sebagai stake holder pengawal program ketahanan pangan, Dinas Pangan Kabupaten Aceh Tengah terus berupaya untuk membangun ketahanan di daerah ini melalui berbagai program. Empat aspek ketahanan pangan yaitu aspek ketersediaan, aspek akses, aspek distribusi dan aspek keamanan pangan, selama ini menjadi fokus dari instansi yang resmi berdiri pada awal tahun 2017 ini. Secara struktural, instansi ini sebenarnya telah terbentuk pada tahun 2008 yang lalu, namun masih berbagung dengan dengan urusan penyuluhan pertanian, baru pada awal tahun 2017 yang lalu, instansi ini  berdiri sendiri, setelah urusan penyuluhan pertanian ‘ditarik’ ke Dinas Pertanian.

Untuk meningkatkan akses ketersediaan pangan, instansi yang saat ini ‘dikomadoi’ oleh Ir. Nasrun Liwanza, MM ini mengandalkan program madiri pangan dan pengawalan program swa sembada pangan. Untuk penguatan aspek akses pangan, dilaksanakan melalui penguatan kelembagaan masyarakat di bidang pangan, sehingga masyarakat memiliki kemudahan  akses untuk pemenuhan kebutuhan pangan mereka. Aspek distribusi pangan dilakukan melalui program bantuan rawan pangan serta kerjasama dengan instansi yang bertanggung jawab dalam pendistribusian kebutuhan pangan pokok. Sementara untuk aspek keamanan pangan, instansi ini terus berupaya melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap produk-produk pangan segar maupun pangan olahan.

Salah satu program yang terus digencarkan oleh Dinas Pangan dalam rangkat memperkuat ketahanan pangan masyarakat adalah melalui pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan kegiatan pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Melalui kegiatan KRPL ini, masyarakat baik yang berada di perdesaann maupun perkotaan diarahkan untuk mampu memanfaatkan potensi lahan disekitar rumah mereka melalui budidaya pertanian sistem vertikultur dan hidroponik. Budidaya dengan sistim vertikultur dan hidroponik ini sangat cocok diterapkan di kawasan padat penduduk dengan keterbatasan lahan . Sistem vertikultur maupun hidroponik tidak membutuhkan lahan yang luas dan dapat dikembangkan dengan teknologi sederhana memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada.

Mengajak masyarakat untuk menggemari sistem vertikultur dan hidroponik, tidaklah cukup dengan metode pembinaan dan penyuluhan semata, tapi harus disertai contoh yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat. Itulah sebabnya, Dinas Pangan kemudian mengembangkan demplot-demplot percontohan vertikultur di semua Balai Penyuluhan Pertanian (BPP ) yang ada Dengan demikian masyarakat dapat melihat langsung bagaimana cara memngembangkan vertikultur kemudian mencoba menerapkan di lingkungan keluarga masing-masing. Pola percontohan akan lebih efektif merubah mindset masyarakat, ketimbang pola penyuluhan konvensional, karena pola fikir masyarakat saat ini sudah sangat kritis dan cerdas.

Menarik perhatian Bupati dan Ketua Tim Penggerak PKK.

Begitu juga dengan budidaya pertanian sitem hidroponik, Dinas Pangan mencoba  membangun imej positif masyarakat melalui pembuatan taman hidroponik, memanfaatkan lahan di sekitar kantor. Menggunakan screen house mini, budidaya hidroponik yang dikembangkan oleh Dinas Pangan sejak dua tahun yang lalu ini ternyata cukup berhasil. Berbagai jenis sayuran baik sayuran lokal maupun hasil adaptasi dari luar daerah, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebenarnya keberadaan screen house bukanlah syarat utama, karena sistem hidroponik juga dapat dikembangkan tanpa screen house, namun dengan menggunakan screen house, hasilnya lebih efektif.

Keberhasilan Dinas Pangan dalam mengembangkan unit percontohan hidropinik ini, akhirnya ‘mencuri’ perhatian Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar dan Ketua Tim Penggerak PKK, Puan Ratna. Disela-sela kegiatannya membuka Lomba Cipta Menu Bergizi, Beragam, Seimbang dan Aman (B2SA) beberapa waktu yang lalu, Shabela dan Puan sempat terkesima melihat berbagai jenis sayur-sayuran  gemuk dan subur yang dibudidayakan di taman hidroponik ini. Yang kemudian menarik perhatian Pak Bupati, semua produk sayuran segar ini seratus persen organik, karena hanya menggunakan material organik dalam budidayanya.

Seperti dijelaskan oleh Kepala Dinas Pangan, Nasrun Liwanza, demplot percontohan sistem hidroponik ini memang hanya menggunakan bahan-bahan organik, karena sebagai instansi yang bertangggung jawab dalam bidang kemanan pangan, harus memberi contoh sistem budidaya yang menghasilkan produk pertanian yang aman dikonsumsi

“Untuk pengembangan percontohan hidroponik ini, kami hanya menggunakan bahan-bahan organik, dan kami pastikan produk yang dihasilkan melalui budidaya sistem hidroponik ini aman dikonsumsi karena tidak mengandung bahan anorganik yang bisa membahayakan kesehatan” ungkap Nasrun.

Sementara itu Shabela turut bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Nasrun dan jajarannya, menurutnya ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk bisa memanfaatkan lahan sempit di pekarangan rumah untuk usaha produktif.

“Ini contoh yang sangat bagus, dengan lahan terbatas kita bisa manfaatkan untuk usaha produktif dengan menerapkan teknologi hidroponik ini, saya kira biayanya juga tidak terlalu besar dan pembuatannya juga tidak sulit, tapi sangat bermanfaat, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, juga dapat meningkatkan pendapatan keluarga” ungkap Shabela.

Ungkapan serupa juga disampaikan oleh isteri Bupati yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Aceh Tengah, Puan Ratna. Kepada seluruh anggota PKK, Puan berharap bisa mencontoh pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya hidroponik ini. Menurutnya, upaya seperti ini sangat baik, karena kebutuhan makanan bergizi terutama dari sayuran dapat terpenuhi dari pekarangan sendiri.

“Kalau kebutuhan sayuran sudah bisa dipenuhi dari pemanfaatan lahan pekarangan seperti ini, tentu pengeluaran keluarga bisa di hemat, bahkan kalau produk sayuran berlebih, bisa dijual untuk menambah pendapatan keluarga” papar Puan.

Seperti diketahui, pertumbuhan penduduk yang begitu pesat, telah berdampak semakin menyempitnya lahan permukiman. Rumah-rumah penduduk khususnya di wilayah perkotaan, nyaris tidak lagi memiliki halaman yang luas. Itulah sebabnya budidaya pertanian dengan sistem hidroponik seperti ini sangat cocok dikembangkan di kembangkan di daerah-daerah dengan tingkat kepadatan permukiman yang cukup tinggi. Ini sejalan dengan program Kementerian Pertanian dalam pengembangan usaha pertanian di wilayah perkotaan (Urban Farming), pun demikian, sistem ini juga baik untuk diterapkan di wilayah perdesaan, karena budidaya sistem hidroponik ini dapat dilakukan sebagai pekerjaan selingan oleh kaum perempuan diluar aktifitas rutin mereka.

“Ayo tunggu apa lagi, mari kita manfaatkan perkarangan dan ruang yang ada untuk ditanami aneka tanaman pangan untuk kebutuhan gizi keluarga” himbau Puan.

Reporter/Pewarta : Fathan Muhammad Taufiq.

Komentar

News Feed