oleh

Seni Tari Guel Gayo Sebagai Bentuk Dari Multikulturalisme

 

Oleh : Ulfa Aiswaria (Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Uin Arraniry Banda Aceh)

Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang memiliki berbagai variasi kesenian tradisional yang beragam dan sangat menarik. Tarian tradisional merupakan suatu tarian yang berkembang pada setiap daerah. Keberadaan tarian tradisional yang ada di setiap daerah selalu mengalami perkembangan. Sehingga tanpa disadari tarian tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi selalu mengalami pasang surut.

Tari Guel merupakan salah satu tarian yang berasal dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Tarian ini hadir dan berkembang hingga saat ini di tengah-tengah masyarakat suku Gayo. Tari ini termasuk salah satu tari tradisi yang tidak hanya dihidupi oleh kelompok-kelompok seniman tradisi, akan tetapi juga berkembang di sanggarsanggar seni di Kota Takengon

Menurut Djamil di dalam penelitian maghfirah dkk , istilah ‘guel’ dalam bahasa lokal (Gayo) berarti ‘membunyikan’. Istilah tersebut diartikan juga sebagai membunyikan sesuatu untuk seruan serta ajakan untuk memanggil. Menurut legenda yang berkembang di tengah masyarakat Gayo, di Aceh Tengah, tari Guel tercipta dari kisah pencarian seekor gajah putih. Gajah putih tersebut dijemput ke tengah hutan dan dipanggil dengan cara membunyikan benda-banda yang dibawa ke tengah hutan. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa, tari Guel merupakan ritual sekaligus sebagai perantara mantra agar dapat membujuk seekor gajah putih untuk keluar dari tempat persembunyiannya, akhirnya patuh dan dapat diajak pergi dan dipersembahkan untuk putri raja di kota raja pada saat itu., beberapa bentuk geraknya mencerminkan perilaku gajah.

Saat ini, tari Guel menjadi salah satu seni tradisi yang cukup populer di Kabupaten Aceh Tengah. Tari tersebut selalu disertakan dalam beberapa upacara adat, terutama upacara adat perkawinan. Kehadiran tari Guel dalam acara perkawinan berfungsi menjadi penyemarak dan sekaligus sebagai simbol penghormatan pada keluarga mempelai laki-laki. Selain itu, tarian ini juga sering ditampilkan untuk penyambutan tamu pada acara-acara resmi lainya

Pengaruh perkembangan zaman serta kebutuhan zaman yang menuntut Seni tradisi Harus tetap bertahan dan menarik sehingga dituntut oleh pelaku penyajinya agar mengikuti selera pasar yang sering menjadikan budaya, seni dan tradisi sebagai konsumsi hiburan yang bersifat pertunjukan secara instan,baik dalam proses dan tampilannya, hal ini berpengaruh pada nilai esensi dan filosofi gerak dari tari atau kesenian tertentu, begitu halnya dalam tari Guel, yang semakin diminati ditengah masyarakat namun semakin berkembang pula kreasi yang mencoba hadir di dalam tarian tersebut tanpa memahami mana yang layak dan mana yang tidak. Memahami filosi sebuah tarian merupakan salah satu langkah mengenal gerak tari, upaya menjaga gerak tarian tersebut agar sesuai dengan esensi sebenarnya

Tari Guel Pada Masyarakat Gayo

Tari Guel yang merupakan tarian yang telah turun temurun ditarikan pada acara perkawinan masyarakat Gayo, baik yang berada di daerah Tanoh Gayo maupun yang berdomisili di luar Tanoh Gayo. tari Guel yang semakin diminati ditengah masyarakat Gayo khususnya para muda-mudi . ini dibuktikan bahwa masyarakat Gayo yang berdomisili di luar Tanoh Gayo seperti Medan juga mempunyai kelompok tari Guel, yang mana saat ada acara pesta perkawinan keluarga maupun sanak saudara, mereka selalu menampilkan adat Gayo. Selain tari Guel mereka juga mengenakan pakaian yang bermotifkan Kerawang Gayo, itu semua bukti kecintaan mereka terhadap budaya mereka.

Multikulturalisme

Tari Guel merupakan kesenian khas masyarakat Gayo , Aceh Tengah. Pertunjukan Tari guel tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Gayo di wilayah pegunungan, di dalam setiap pergelarannya tidak lepas dari aspek peran masyarakat. Sampai saat ini, para pendukung pertunjukan ini (penari, pemain musik, dan penonton) adalah orang Aceh suku Gayo dari berbagai latar belakang yang berbeda. Suku Gayo adalah masyarakat yang taat dalam menjalankan ajaran Islam dan memegang teguh adat berdasarkan sistem adat yang berlaku. Fungsi pertunjukan Tari guel, selain sebagai tontonan juga sebagai tuntunan kehidupan manusia dalam “berhubungan” dengan alam nyata maupun alam spritual.

Seni tari guel bisa diartikan gerakan tubuh dengan cara berirama, biasanya mengikuti musik serta dalam ruang tertentu, dengan tujuan mengekspresikan ide atau emosi, melepaskan energi, atau sekadar menikmati gerakan itu sendiri.Seni tari guel bersifat multikultural maksudnya gerak tari berbeda-beda dan mempunyai ciri khas masing masing. Tari guel juga bisa dimainkan oleh suku yang berbeda . itu semakin membuktikan bahwa tari Guel bersifat multikultural.Seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan Negara dengan banyak budaya tari, sehingga seni tari di Indonesia bisa dikatakan seni tari bersifat multikultural.

Tarian merupakan dorongan yang kuat yang mana disalurkan oleh penari yang terampil menjadi sesuatu yang ekspresif dan menyenangkan penonton. Seni tari guel berisi koreografi dengan gerakan yang elegan, teratur dan harmonis.

Tari Guel

Tari Guel merupakan sebuah tarian tradisional yang lahir dari legenda setempat yaitu legenda Gajah Putih. Legenda ini bercerita tentang kisah kepiluan kakak beradik di ruang lingkup kerajaan Linge Gayo. Kedua kakak beradik itu bernama Sengeda dan Bener Meriah, yang merupakan putra kandung dari Raja Linge ke XII. Berawal dari mimpi Sengeda, yang seolah bertemu dengan abangnya Bener Meriah yang tewas terbunuh karena rasa dengki dan dikhianati oleh saudara tirinya. Dalam mimpinya Bener Meriah menjelma menjadi Gajah Putih dan menunjukkan bagaimana menjinakkan Gajah tersebut.

Gajah itu nantinya akan dipersembahkan ke Kesultanan Aceh Darussalam. Proses menjinakkan Gajah Putih tersebutlah yang menjadi inspirasi terciptanya Tari Guel. Dalam mimpi itu Bener Meriah menyebut cara-cara yang harus dilakukan Sengeda untuk menangkap Gajah Putih. Gajah yang merupakan penjelmaan Bener Meriah itu akan bangkit dan bergerak bila diiringi dengan irama tertentu.2

Secara koreografis Tari Guel merupakan sebuah tarian berpasangan yang dilakukan oleh dua orang penari laki-laki. Masing-masing penari memiliki peran tersendiri, satu orang memerankan tokoh Gajah Putih atau Bener Meriah dan satu orang lagi berperan sebagai penjinak Gajah atau Sengeda. Ada empat babakan wajib atau struktur dalam Tari Guel.

Struktur ini terbagi berdasarkan cerita dan sangat erat kaitannya dengan adegan, pola gerak, dan iringan musiknya. Adapun empat babak dalam struktur Tari Guel adalah munatap, redep, ketibung, dan cincang nangka. Babak ini juga sangat terkait dengan sejarah Tari Guel. Gerakan yang terdapat dalam babak ini secara keseluruhan merupakan simbolis dan representasi dari alam. Transisi gerak yang dipakai bernama dep yang dilakukan berulang kali pada setiap perpindahan babak. Terkecuali pada babak ketibung menuju ke babak cincang nangka yang dilakukan secara terus menerus dengan menambah tempo serta kekuatan dan energi pada gerak. Dalam bagian ini juga tampak perbedaan unsur ruang dan waktu yang dilakukan oleh penari.

tari guel sebagai tari tradisi yang mencerminkan salah satu identitias dari masyarakat pemiliknya, guel yang berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat menjadi salah satu penanda bahwa tarian ini adalah berasal dari masyarakat gayo, tari guel hadir berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat gayo, terciptanya sebuah tari tidak pernah lepas dari sebuah aktifitas yang ada di dalam masyarakatnya. kebiasan masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari menjadi inspirasi dan kemudian diolah menjadi gerak dalam tari melalui pembentukan gerak secara stilisasi.

Keberadaan masyarakat secara geofrafis juga mempengaruhi aksen dari tarian tersebut, sehingga sebuah tari memiliki aksen dan resam sesuai masyrakat pemiliknya. Gerakan yang hadir memilki makna pada tiap geraknya. Gerakan yang dilakukan secara dominan menunduk sebagai tanda dan bahasa tubuh bahwa sifat masyarakat gayo, selalu menghormati orang yang lebih tua, menghormati sesama, dan pantang memilki hati yang tinggi.

Tutur dan bahasa masyarakat Gayo juga mencerminkan kelembutan seperti hembusan angin. Begitu juga halnya tutur dan bahasa yang digunakan masyarakat Gayo sebagai syair dalam mengisi iringan musiknya. Iringan syair dan musik yang menggunkan musik tradisi gayo. Namun dalam tari guel memiliki perbedaan syair dengan syair tari Gayo lainnya, memiliki beberapa bait kata kiasan yang memiliki makna tentang pesan moral yang disampaikan.

 

REFERENSI

Bintang, M. M., & Wirandi, R. Tari Guel Identitas Masyarakat Gayo Kabupaten Aceh Tengah-Bener Meriah. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya5(2), 272-282.

Djamil, M.J, (1950). Gajah Putih. Kuta Rja; Lembaga Kebudayaan Atjeh

Monita, G. (2020). Tari Guel sebagai Identitas Masyarakat Gayo (Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).

Saadah, S. S. (2013). Estetika Dan Etika Tari Guel Pada Masyarakat Gayo Kabupaten Aceh Tengah. Gesture: Jurnal Seni Tari2(1).

 

Jangan Lewatkan