oleh

Secercah Harapan Dari Batu Bata Merah

Penulis :  Asmaul Husna

(Mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam) IAIN Langsa

Pagi itu tepat pukul 10.15 WIB terlihat kesibukan dari beberapa orang yang sedang asyik bekerja di sebuah ‘dapur’ besar. Ada yang mengaduk tanah. Ada yang mencetak, menyusun hingga membakar. Ada pula yang sedang fokus memperhatikan mesin penggiling yang bekerja. Suara bising dari mesin itu sama sekali tak mengganggu para pekerja. Semuanya benar-benar terlihat asyik dengan kegiatannya. Hal itu semakin menambah rasa penasaran saya tentang apa yang mereka kerjakan.

Batu bata merah namanya. Oleh si pemilik ‘dapur’ batu bata ini adalah penyambung hidupnya dan para pekerja.  Dari dapur batu bata ini lah, Pak Zainal Abidin dan Istri menjalankan usaha kecilnya. Mereka adalah penduduk Desa Bukit Payang Dua. Mereka sudah cukup lama menjalani usaha membuat batu bata. Dengan usaha inilah mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak hanya itu, mereka juga membantu perekonomian orang-orang di sekelilingnya. Dalam menjalankan usahanya Pak Zainal mempekerjakan 10 orang tetangganya. Pada usaha pembuatan batu bata inilah mereka menaruh harapan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang terus menghimpit.

“Jameun kamoe meupeugeod bata galom meuno cara, trep lom bak proses jeud keu bata” (Dulu kami membuat batu bata tidak begini caranya, proses menjadi batu batanya lama). Ujar istri Pak Zainal mengenai proses pembuatan batu bata. Ternyata proses pembuatan batu bata dulu dan sekarang tidaklah sama, prosesnya berbeda.

Batu bata yang diproduksi oleh Pak Zainal adalah jenis batu bata merah dengan bahan dasar tanah liat dan air, dan melalui proses pembakaran. Namun ada yang berbeda dari proses pembuatan batu bata dulu dengan sekarang. “Perbandingan proses pembuatan batu bata dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Cara yang saya gunakan dulu masih sangat tradisional. Pencetakannya masih manual, dan untuk menggemburkan (menggiling) tanah, Saya masih harus menggunakan bantuan hewan ternak, seperti kerbau. Dan untuk itu prosesnya lama sekali”, jelas Pak Zainal. “Makanya saya tidak bisa mencetak batu bata dalam jumlah banyak dalam waktu singkat” tambah Pak Zainal.

Melalui penjelasan runtut yang dipaparkan Pak Zainal barulah saya sedikit memahami, keterbatasan alat yang membuat Pak Zainal juga hanya mampu mencetak batu bata dalam jumlah yang tebatas.  Menurut cerita Pak Zainal peminat akan bahan bangunan batu bata sebenarnya banyak. Begitu juga para konsumen yang datang padanya untuk memesan batu bata terbilang ramai. Namun, dikarenakan terbatasnya produksi yang  Pak Zainal mampu sehingga konsumen yang tadinya ingin memesan batu bata pada Pak Zainal malah beralih pada pembuat batu bata lain. Inilah yang menjadi dilema bagi Pak Zainal. Bagaimana tidak, dengan banyaknya pemesan maka akan semakin banyak pula  rupiah yang akan diraupnya. Begitupun sebaliknya. Dengan keterbatasan batu bata yang dicetak maka terbatas pula penghasilan Pak Zainal. Belum lagi beliau harus membayar upah para pekerjanya.

Saat ini, Pak Zainal membuat batu bata dengan cara yang boleh dikatakan modern. Di lokasi tempat membuat  batu bata terdapat sebuah mesin. “Ini adalah mesin untuk menghancurkan tanah. Tanah yang akan Saya gunakan untuk membuat batu bata akan digiling menggunakan alat ini” ujar Pak Zainal sambil menunjukkan alat penggiling tanah yang sedari tadi mengeluarkan suara bising.

Proses pembuatan batu bata dimulai dari tanah liat yang dicampurkan air. Lalu tanah tersebut dimasukkan ke dalam mesin penggiling untuk melalui proses penggilingan. Pada proses ini ada 2 orang pekerja yang mendapat bagian tugas dari mengangkat tanah ke dalam ‘grek’, mengangkat air hingga memasukkan tanah ke mesin penggiling, hingga mengontrol jalannya mesin penggiling. Setelah tanah digiling lalu dicetak. Kini mencetak bata menggunakan mesin pencetak, jadi lebih mudah dari sebelumnya dengan manual. Pada  proses pencetakan ada 2 orang yang bekerja mencetak. Setelah tanah terebut selesai dicetak maka batu bata ditempatkan di bangsal. Pada kegiatan menyusun batu bata ke bangsal ini terdapat 3 orang yang mengerjakannya. Satu orang mengangkat batu bata yang sudah dicetak, dua lainnya menyusun batu bata di bangsal. Tujuannya ialah untuk melalui proses peng-anginan agar batu bata tersebut kering. Proses peng-anginan ini sangat tergantung pada cuaca. Jika cuaca panas maka batu bata akan cepat kering. Begitupun sebaliknya jika musim hujan, proses peng-anginan ini membutuhkan waktu berhari-hari.

Selanjutnya, ketika batu bata sudah kering, maka batu bata tersebut dipindahkan ke dalam dapur untuk proses pembakaran. Proses pembakaran ini dikerjakan oleh 3 orang termasuk Pak Zainal salah satunya. Dua diantaranya mendapat tugas mengangkat dan menyusun kayu bakar yang akan digunakan untuk membakar batu bata dan menyusun batu bata ke dalam dapur pembakaran. Untuk proses ini memakan waktu selama 4 hari 4 malam. Selama proses pembakaran ini batu bata tidak akan hancur. Semakin tinggi tekanan api akan membuat batu bata semakin kuat dan ketika batu bata sudah dalam kondisi matang, batu bata tidak akan mudah hancur jika terkena air.

Untuk menjadi batu bata yang siap pakai sang tanah liat telah melalui berbagai proses, dari penggilingan hingga pembakaran. Sama halnya bagi Pak Zainal, untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dan para pekerja yang menggantungkan harapannya pada pembuatan batu bata, maka beliau harus melalui proses panjang dan usaha maksimal. Dariketekunannya, beliau mampu membeli alat penggiling tanah dan pencetak batu bata, yang semakin mempermudah pekerjaan.

“Selama saya membuat batu bata dengan menggunakan mesin penggiling dan mesin pencetak, alhamdulillah hasilnya lumayan dari sebelumnya,” ujar Pak Zainal. Ketika masih menggunakan cara tradisional hasil yang diperoleh hanya ± 4.000 batu  bata dalam sekali proses. Namun selama Pak Zainal menggunakan mesin, yang dihasilkan dalam sekali proses bisa mencapai  ± 7.000 batu bata. Ini adalah capaian besar dalam usaha batu bata.

Bertambahnya batu bata yang dicetak, ternyata tidak diiringi dengan pendapatan yang diperoleh. Jumlah pendapatan tergantung pada naik turunnya harga batu bata. Semakin berkembangnya zaman maka semakin tinggi harga batu bata. Menurut penjelasan Pak Zainal, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan harga batu bata semakin tinggi. Salah satunya ialah karena sulitnya mendapatkan bahan baku utama membuat batu bata, yaitu tanah liat. Karena tanah liat yang digunakan haruslah yang bersih dari batu-batu. Faktor lainnya ialah mahalnya harga jual tanah yang semakin tinggi. Adapun penyebab mahalnya harga tanah ialah karena mahalnya izin galian C. “ Para  pihak Excavator menjual tanah dengan harga tinggi, karena mereka dapat menggli tanah hanya jika mereka memiliki surat izin galian C. Jika mereka tidak memilikinya maka mereka akan ditangkap jika didapati menggali tanpa surat izin. Sedangkan biaya untuk mengurus surat izin galian itu mahal sekali” jelas Pak Zainal.

Mengingat rumit dan panjangnya proses pembuatan batu bata, mulai dari mendapatkan bahan hingga proses pembakaran besar harapan semoga dengan semakin modernnya cara Pak Zainal mencetak batu bata, dapat membantu meningkatkan perekonomian, terkhusus bagi pak Zainal sendiri dan juga para pekerja yang berprofesi sama dengan beliau.

Email Penulis : asmaulhusna1799@gmail.com

News Feed