oleh

Sasar Pasar Ekspor Timur Tengah, Bener Meriah Kembangkan Pisang Cavendish

UPDATE COVID-19 NASIONAL

Global

2738
Confirmed
221
Deaths
204
Recovered


Oleh : Fathan Muhammad Taufiq

Kabupaten Bener Meriah merupakan salah satu kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Tengah ini memiliki berbagai potensi pertanian, selain kopi arabika sebagai komoditi perkebunan utama, daerah ini juga mempunyai potensi komoditi perkebunan lainnya seperti lada, kemiri, pinang, nilam dan serai wangi. Sealin komoditi perkebunan, berbagai komoditi hortikultura seperti kentang, kol, wortel, tomat dan cabe, serta buah-buahan khas dataran tinggi seperti jeruk, alpukat, markisa dan stroberi.

Potensi inilah yang kemudian dilirik oleh investor bidang pertanian PT Great Giant Food  untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan komoditi hortikultura berioentasi ekspor yaitu Pisang Cavendish dengan pola pemberdayaan petani.

Tindak lanjut kerjasama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah dengan PT Great Giant Food melalui anak perushaan PT Great Giant Pineaple (GGP) yang berpusat di Lampung akhirnya terwujud. Kerjasama yang difasilitasi oleh Kementerian Koordinasi Perekonomian ini meliputi pengembangan komoditi hortikultura berorientasi ekspor, khususnya komoditi Pisang Cavendish. Jenis pisang ini merupakan tanaman tropis yang punya daya adaptasi sampai ketinggian dibawah 1.600 mdpl, dapat ditanam pada kondisi suhu udara rata-rata 27 sampai 36 derajat Celcius.

Sebuah keberuntungan tentunya bagi kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Gayo, Aceh ini, karena pada tahun 2019/2020 ini hanya 4 daerah yang terpilih sebagai lokasi pilot project kerjasama dengan PT GGP melalui program Creating Share Value ini. Selain kabupaten Bener Meriah di Provinsi Aceh, 3 daerah lain yang juga mendapat kesempatan sama yaitu kabupaten Jembrana di provinsi Bali, kabupaten Blitar dan Bondowoso di provinsi Jawa Timur. Creating Share Value ini melibatkan kelompok tani di wilayah tersebut atas dasar pemberdayaan dan saling menguntungkan. Program pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor ini merupakan wujut nyata upaya mendorong pengembangan produk lokal berdaya saing global. Dan Kabupaten Bener meriah dinilai layak dan memenuhi syarat serta memiliki potensi untuk melaksakan program ini.

Lakukan Tanam Perdana

Program kerjasama pemerintah kabupaten Bener Meriah dengan PT GGP ini sejatinya sudah berjalan sejak akhir tahun 2019 yang lalu. Dimulai dengan inventarisasi lahan, identifikasi calon petani dan pembuatan bibit pisang cavendish yang berasal dari kultur jaringan. Sesuai dengan hasil inventarisasi dan identifikasi, kemudian disepekati wilayah Kecamatan Pintu Rime Gayo sebagai lokasi pengembangan komoditi hortikultura berorientasi ekspor, karena dari segi agroklimat dan ketersediaan lahan sangat memadai.

Sebagai tanda dimulainya program ini, Selasa (18/2/2020) kemarin, secara simbolis dilakukan tanam perdana pisang Cavendish yang dipusatkan di Balai Benih Utama (BBU) Tanaman Pangan dan Hortikultura, di Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Selain Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi dan Ketua DPRK, Muhammad Saleh  beserta unsur Fokopimda kabupaten Bener Meriah, turut hadir dalam acara tanam perdana tersebut Deputi Bidang Agri Bisnis Kementerian Koordinator Perekonomian, Dr. Yuli Sri , Direktur PT Great Giant Food, Drh. Welly Soegiono, Bupati Bondowoso, KH. Salwa Arifin, Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Banda Aceh, Safuadi, ST, M Sc, Ph D, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan. SP, MM, Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus, SKM serta seluruh penyuluh pertanian dalam lingkup pemerintah kabupaten Bener Meriah.

Dalam sambutannya Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi menyampaikan bahwa penanaman pisang cavendish perdana ini sebetulnya sudah lama ditunggu-tunggu.

“Beberapa waktu yang lalu saya  bertemu dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Pak Sofyan Djalil dan dengan perantraaan beliau saya  dipertemukan dengan Pak Welly dari PT GGF, inilah yang kemudian menjadi cikal bakal kerjasama ini” ungkap Tgk Sarkawi.

Lebih lanjut Sarkawi menyatakan bahwa daerahnya memilki potensi luar biasa untuk pengembangan hortikultura, termasuk komoditi hortikultura yang meiliki prospek ekspn dengor seperti pisang cavendish ini. Itulah sebabnya, pihaknya kemudian berupaya maksimal agar program pengembangan komoditi pisang cavendish ini dialokasikan di kabupaten Bener Meriah. Selain melakukan komunikasi aktif dengan pihak PT GGF dan Kemnterian Koordiantor Perekonomian, bupati yang sering tampil bersarung ini juga menjalin koordiansi Kanwil Ditjen Imigrasi Banda Aceh yang kemudian ikut mendukung peluncuran program ini.

Untuk pelaksanaan program secara teknis, Sarkawi juga langsung memerintahkan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ir. Abadi segera menyusun perencanaan matang agar penanaman pisang Cavendish berorentasi ekspor bisa berjalan di Bener Meriah, termasuk menyiapkan lahan dan calon petaninya.

Dalam kesempatan itu, Sarkawi juga menyampaikan rasa terima kasih kepada PT GGF yang telah berkenan menjalin kerjasama dengan pemerintah kabupaten Bener Meriah

“PT GGF adalah pengusaha merah putih, karena masuk membawa misi tanpa mengambil tanah rakyat, tetapi memberi peluang kepada rakyat.untuk ikut menikmati hasil kerjasama ini untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, ini luar biasa, tidak seperti investor yang mengklaim lahan untuk mendukung investasinya, pola seperti inilah yang sangat kita harapkan karena melibatkan langsung petani-petani kita” lanjut Sarkawi

Sarkawi juga menjelaskan bahwa pihaknya sudah menginventarisir lahan penanaman pisang cavendish ini seluas 300 hektar, dan bisa saja bertambah menjadi 500 hektar mengingat potensi lahan masih tersedia. Beliau juga tidak menutup kemungkinan untuk menambah luas areal pertanaman dimasa yang akan datang.

Sasar Pasar Ekspor Timur Tengah

Mengenai pemasaran hasil pisang cavendish, Bupati menyatakan tidak perlu khawatir, karena pihak PT GGP yang akan menampung hasilnya nanti untuk diekspor ke luar negeri, termasuk ke negara timur tengah

“Ke depan pisang yang dikonsumsi di Tanah Suci bukan lagi pisang dari Lampung, tetapi pisang Cavendish dari Gayo, kalau selama ini mereka sudah mengenal kopi Gayo, Insya Allah nanti merka juga akan bisa menikmati pisang yang kita tanam hari ini di Bener Meriah” ungkap Sarkawi optimis.

Sementara itu, Direktur PT Great Giant Food (GGF), Drh Welly Soegiono menyampaikan bahwa buah lokal Indonesia memiliki prospek ekspor yang sangat baik, karena memang meiliki kualitas dan sepesifikasi baik

“Hari ini kita melakukan penanaman perdana pisang Cavendish, kita berharap setahun dua tahun kedepan kabupaten Bener Meriah sudah bisa mengekspor pisang ini, kita belajar dari agribisnis nanas yang sudah kita tangani bertahun-tahun di Lampungs, kita mengekspor nenas pada tahun 1984 dalam bentuk kemasan kaleng, sekarang Indonesia tercatat sebagai suplayer nenas terbesar dunia” ungkap Welly.

Mengepa harus dilakukan pengembangan lahan? Welly menjelaskan bahwa pasar ekspor buah berkembang demikian besar, tapi lahan yang dimiliki oleh GGF tidak cukup, di Lampung luas lahan 33.000 hektare, panen perhari 2.500 ton, diproses dalam bentuk makanan kaleng di ekspor pada tahun 2019 sebanyak 17.500 contener dan ternyata masih kurang karena permintaan pasar sangat besar. Dan dia melihat potensi pengembangan juga ada di Bener Meriah, khususnya untuk pisang cavendish

“Saya yakin kepemilikan lahan di Bener Meriah oleh masyarakat jauh lebih luas, kalau pisang dari Bondowoso sudah dikirim ke Surabaya dan Banyuwangi. Kenapa sekarang di Bener Meriah, ini kita harapkan akan berkembang lebih luasdan pisa menjadi sentra produksi pisang cavendish, apalagi pak bupati dan Dinas Pertanian Provinsi Aceh juga mendukung program ini ,” kata Welly.

Welly menambahkan, kalau ini bisa dikembangkan maka ekspor ke Timur Tengah tidak perlu lagi dari Lampung, tapi dari Krueng Geukuh Lhokseumawe, dan nanti di tulis dikotaknya pisang dari Bener Meriah.

“Hari ini kita mulai dengan skala kecil, tapi mudah-mudahan ini menjadi suatu show untuk melihat suatu contoh peluang usaha baru dan tujuannya adalah adanya pertumbuhan ekonomi di pedesaan,” ujarnya.

Sementara  Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh, Safuadi ST M Sc Phd menyampaikan, kita bersama-sama akan melakukan perubahan, masalah infrastruktur akan terus kita kejar, Enang-Enang Insya Allah akan segera dibangun, Jembatan Pusong Kandang juga akan segera dibangun.

“Ini bukan hanya cerita, tetapi ini akan terus kita lakukan dengan sinergi dan ikhtiar maka kita akan sampai dititik itu,” tegasnya.

Lebih lanjut Safuadi menyampaikan bahwa program yang difasilitasi oleh Kementerian Koordinator prekonomian ini didukung penuk oleh Kemeterian Keuangan

“Hari ini pihak PT GGF datang untuk membuktikan itu, saya ingin tekankan, bahwa ini adalah programnya Kementerian Perekonomian yang bersinergi dengan Kementerian Keuangan, dan di Kementerian Keuangan akan memberikan fasilitas kepada PT GGF, kalau PT GGF menginginkan satu hari, saya akan memberikan satu jam kepada pihak PT GGF, dan saya tidak akan berbohong, silahkan Pak Welly,” tegas Safuadi.

Kapala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan yang hadir mewakili Gubernur Aceh juga menyatakan dukungannya terhadap program kerjasama ini, karena program ini sejalan dengan program pemerintah Aceh untuk menurunkan angka kemiskinan,

“Kami sangat mendukung program yang berpola pemberdayaan petani seperti ini, keberhasilan program ini akan meningkatkan kesejahteraan petani dan ini sejalan dengan program pemerintah Aceh dalam penurunan angka kemiskinan, kami melihat kabupaten Bener Meriah punya potensi untuk pengembangan hortikultura berorientasi ekspor ini, kami optimis program ini akan berjasil dan bisa menjadi percontohan bagi daerah lain di Aceh, kami juga meiliki tanggung jawab untuk mensukseskan program ini” ungkap Hanan.

[COVID-19]

News Feed