oleh

Sapri Gumara Inovator Pendidikan Saat Situasi Sulit Akibat Covid 19

Bener Meriah Baranewsaceh.co |  Wabah Pandemi Covid 19 telah menghantui seluruh penduduk dunia, begitu juga di Indonesia keberadaan wabah Pandemi Covid 19 ini, sepertinya tidak pernah sepi dari pemberitaan para media, baik itu media cetak, media on line dan televisi.

Kabupaten Bener Meriah yang terletak di Provinsi Aceh, sempat dibuat panik, akibat adanya masyarakat yang terpapar dan terkonfirmasi positip covid 19. Sedangkan dari sejumlah pasien yang dirawat akibat terkonfirmasi positip covid 19 berasal dari tenaga kesehatan (Nakes) dan masyarakat biasa. Data terakhir yang berhasil kami himpun dari juru bicara gugus tugas percepatan penangan covid 19 kabupaten Bener Meriah Riswandika Putra, S.STP, M.Ap per 10 Agustus 2029 mencapai angka 35 orang, Kendati dalam perjalanannya sebagian sudah dinyatakan sembuh dan sebagian lagi masih menjalani masa isolasi sembari menunggu hasil SWAB selanjutnya.

Begitu juga dengan dunia pendidikan harus mengalami pasang surut dalam proses belajar mengajar. Setelah sebelumnya Pemkab Bener Meriah melalui dinas pendidikan sudah memberikan lampu hijau terkait di mulainya belajar tatap muka. Namun akhirnya keputusan itu kembali di tarik mengingat situasi daerah yang tidak memungkinkan untuk melakukan proses belajar mengajar secara tatap muka, dan kembali di alihkan melalui proses belajar dalam jejaring (Daring).

Merasa perihatin dengan kondisi pendidikan di kabupaten Bener Meriah, serta untuk menghilangkan rasa jenuh bagi anak sekolah tingkat Sekolah dasar (SD). Sapri Gumara anggota DPRK Bener Meriah sekaligus ketua komisi D yang membidangi pendidikan, kemudian memunculkan ide kreatif dan inovasi baru guna untuk melanjutkan proses belajar mengajar yang sempat vakum selama 6 (enam) bulan akibat merebaknya wabah covid 19.

Pilot projek inovasi sekolah di kampung masing masing non daring di laksanakan di kampung Linung Bale kecamatan timang gajah kabupaten Bener Meriah. Adapun peserta didik adalah murni anak murid setingkat SD yang memang berdomisili di kampung setempat. Sedangkan menyangkut tenaga pengajar terdiri dari para guru honorer yang ada di kampung tersebut di bantu dengan sejumlah lulusan sarjana yang ada di kampung Linung Bale.

Sementara itu proses belajar mengajar dilaksanakan di balai desa setempat, dengan tetap memastikan dan melaksanakan protokoler kesehatan. Mulai dari jaga jarak (physical Distancing), cuci tangan dan memakai masker.

Begitu juga dalam proses belajar mengajar, ruangan terlebih dahulu telah di sekat di sisi kanan dan kiri, sehingga siswa tidak dapat berkomunikasi apalagi bersentuhan dengan siswa yang lainnya. Begitu juga dengan tenaga pendidik, yang terdiri dari para guru honorer, dan sarjana tetap melakukan hal yang sama.

Kepala kampung Linung Bale Alpiah juga menimpali bahwa para guru juga di beri instensip tambahan melalui alokasi dana desa yang plot anggarannya untuk pendidikan. Selain itu murid juga di beri jajanan yang telah di sediakan oleh ibu ibu desa yang kreatif yang sumber biayanya juga dari alokasi dana desa untuk perbaikan gizi siswa. Sedangkan lama waktu belajar selama 2 jam dengan 2 kali pertemuan dalam seminggu.

Rencananya bila program ini berjalan sukses nantinya akan di tingkatkan ke jenjang SMP dan SMA. Namun terkait jenjang sekolah tersebut memiliki program Daring dari dinas pendidikan, maka fokus pendidikan belajar di kampung masing masing di prioritaskan di tingkat SD. Jelas reje kampung Linung Bale Alpiah kepada media ini. Selasa 11 Agustus 2020.

Melengkapi apa yang di sampaikan. Ketua komisi D DPRK Bener Meriah Sapri Gumara bersama Darussalam,ST yang juga anggota DPRK Bener Meriah dari partai Demokrat juga mengungkapkan.Tidak ada yang merasa dirugikan dalam uji coba program sekolah di kampung masing masing. Sapri Gumara juga menjelaskan sisi positifnya. Murid hilang rasa jenuhnya akibat terlalu lama libur sekolah. Guru juga merasa gembira karena bisa bertemu dengan anak didiknya, sarjana pengangguran dapat di berdayakan. Pemberdayaan ekonomi bagi ibu desa yang kreatif. Orang tua tidak lagi harus menyediakan HP android berikut paket pulsa internetnya. Orang tua juga tidak lagi harus mengeluarkan biaya antar jemput anak ke sekolah. Karena anak sudah sekolah di kampung sendiri. Peran ganda orang tua sebagai guru di rumah agak lebih ringan karena anak sudah kembali sekolah.

Bak gayung bersambut, program inovasi brilian dari ketua Partai Demokrat kabupaten Bener Meriah ini, mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Hal tersebut di tandai dengan hadirnya Sekda Bener Meriah Drs Haili Yoga bersama kadis pendidikan Sukur.S.Pd beserta jajarannya meninjau langsung guna memastikan proses belajar mengajar secara swadaya tersebut berjalan aman, dan sesuai dengan protokol kesehatan.

Begitu juga dengan sejumlah wali murid yang sempat di mintai keterangan, merasa sangat. Antusias dan mendukung penuh seraya bersyukur karena anak anak sudah dapat kembali sekolah. Turini (55) salah seorang wali murid kepada media ini mengatakan.” Kami wali murid mendukung penuh program ini secara jujur Turini mengakui kalau kami selaku orang tua menyerah jika harus berperan ganda menjadi ibu dan seorang guru. Kadang anak masuk kamar dan setiap hari hanya bermain HP. Kita suruh belajar alasannya belum ada soal yang di kirim sama guru. Yang jelas kami sebagai wali murid merasa bersyukur atas adanya program ini. Ungkapnya.

Disisi lain sekda Drs.Haili Yoga didampingi kadis pendidikan Sukur.S.Pd meminta reje kampung Linung Bale untuk melengkapi administrasi dan dokumen terkait kegiatan belajar mengajar karena menggunakan anggaran desa. Mulai dari dasar ide dan gagasan, notulen hasil rapat serta daftar hadir. Karena menurut sekda ini sebuah inovasi di bidang pendidikan dan ini sudah viral baik di media maupun di jejaring sosial. Berkemungkinan kampung Linung Bale inilah sebagai pencetus awal belajar sekolah di kampung masing masing.

Saat bersamaan Sekda Drs. Haili Yoga juga melakukan dialog langsung dengan sejumlah murid sebagai peserta didik. Sekda juga mempertanyakan kepada para murid mana lebih baik belajar di sini ketimbang di rumah. Pertanyaan tersebut langsung di jawab oleh salah seorang peserta didik. Fadli murid kelas IV SD Linung Bale mengatakan lebih baik di sekolah desa. Karena menurut Fadli belajar di rumah harus menggunakan HP dan tidak ada paket internet. Keluhnya.

Sekda Drs.Haili Yoga.M.Si juga mengijinkan bagi guru PNS yang berdomisili di kampung setempat bisa berperan aktif untuk mengajar karena ini sipatnya swadaya, sembari menunggu aktifnya kembali sekolah.

Sapri Gumara juga menambahkan dari gambaran di atas dapat di simpulkan betapa berat memang beban orang tua terkait pendidikan dalam jejaring (Daring). Karena apabila dalam satu rumah ada 3 orang anak sekolah, maka orang tua harus menyediakan 3 buah HP, begitu juga dengan paket pulsa internetnya. Bagi jenjang pendidikan tingkat SMP dan SMA wajar dan telah bisa menggunakan daring. Tapi bagi anak di tingkat SD, yang belajar bukan anaknya malah kedua orang tuanya. Ketusnya. Karena menurut Sapri Gumara, sebelumnya anak se usia SD belum terbiasa untuk menggunakan android. Pungkasnya. (Dani).

News Feed