oleh

Sajak Rempah-rempah Karya, Adam Zainal; Mewah Itu hanya untuk Mereka

Ku Tampung Air Mata Otsus

Lima belas tahun sudah
Damai itu di seduh
Dalam Kuali yang penuh saji
Dan janji, dituang bumbu-bumbu sedap
Penyedap harapan.

Seperti Otsus, APBA, DOKA dan DAK
Bahkan Triliunan maha anggaran lainya
Untuk mereka para kombatan GAM, korban Konflik dan anak yatim.
Di bentuk bermacam wadah, BRR, BRA dan sebagainya
Untuk pemulihan moril dan materil mereka, katanya!!

Namun, ucapan jauh melenceng dari tindakan
Janji hanya sebagai pemanis lisan
Mereka masih berkutat dengan delima dan dendam
Sampai kini tak pernah disentuh oleh poin-poin emas perdamaian
Hingga kini, mereka tak mendapatkan keadilan dan pemulihan.

Di sana, dalam megahnya gedung Parlement itu
Di huni banyak oleh rekan seperjuangan mereka
Namun apa hendak dikata?
Sebab kadangkala jabatan membutakan mata manusia.

Yogyakarta, Februari 2020.

 

Mewah itu Hanya untuk Mereka

 

Bahkan perang-pun sudah lama reda
Hanya hujan dan sumpah serapah
yang belum menuai jeda
Di Nanggroe paling ujung sana
hidup sekelompok orang kaya
yang jumawa, tamak dan lagi serakah.

Namanya, Aceh. Nanggroe kami yang teuleubeh
Nan Meugah di Ateuh Rhung Donya,
kata mereka!!!

Bahkan kini, setelah semuanya ada
Ia jatuh miskin, rakyat kembali sengsara,
tak sebanding dengan masa perang
Merawat semua derita sampai tua
Tanpa balas jasa dan capaian atas perjuangan anak bangsa mereka.

Yang kenyang hanya sekelompok saja
Para kaum pemilik kuasa dan tahta
Ya, hanya meraka yang bermewah-mewah
Di Nanggroe Gasin nyang pura-pura kaya
Ya, mereka. Para pejuang kita.

 

Penulis adalah Adam Zainal (Kinet BE), seorang Nelayan dan pekerja serabutan yang mencintai dunia literasi, adat budaya dan seni sastra Aceh. Lahir disebuah tepi pantai nan sunyi pesisir utara Bireuen pada tahun yang lalu-lalu. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di media cetak dan media online lokal maupun Nasional.

 

Solo, Januari 2020

News Feed