oleh

Sajak Rempah-rempah karya Adam Zainal, “Bulan Juli”

Adam Zainal (Kinet BE), Penulis dan Penyair selokan yang berprofesi sebagai Jurnalist.

 

Apa Kabar Juli

 

Apa kabar, Juli.

Maafkan aku yang belum punya waktu,

menepati janji denganmu,

untuk sepatah temu.

 

Maafkan pula diriku yang telah abai

pada janji tempoe hari,

dan merambah lupa sampai hari ini.

 

Apa kabar, Juli.

Senang bisa mengenalmu,

walau pada detik waktu sesingkat ini,

sehari, dua hari, bahkan sepekan lamanya.

 

Masihkan kau mengharapku,

untuk menunaikan janji ini,

janji untuk bertemu,

dan kubawamu dalam ceritaku?

 

Satu hal, Juli.

jangan lupa undang aku,

pada resepsi pernikahanmu.

 

Banda Aceh, Juli 2020.

 

 

 

Kepada Rindu yang Abai

 

Ada rindu yang lebat, bergurun deras di hatimu

yang keruh, seperti hujan di bulan Juni.

 

Melirik rima-rima dalam majas penyair, bersama melodi

dan bait demi bait.

yang melilit di lehermu, bagai selendang senja

yang jingga, di ranum jiwa ini.

 

Adakala rindu ini berubah menjadi kemarau,

bagai ilalang yang gersang pada bulan April,

hingga embun-embun menyiraminya untuk tetap tegar,

dan mekar merambah di sanubari yang lapang,

menunggu musim semi tiba.

 

Pernah berulangkali, rindu ini menjamah rantau jiwamu

berkelana dalam keruh dan luasnya samudra hatimu

tanpa mengenal keluh, dan kesah pada lelah

serta pada kaki yang salah arah, di liuk jalan sendu itu.

 

Kini ia datang kembali, menyapa hati yang bungkam

mengetuk jiwa yang lama abai, karena ulahnya,

bersebab tak acuhnya, pada rasa yang suci,

dan pada cinta yang tulus ini.

 

Dia hadir kembali, pada lubuk yang pernah ia racuni,

membawa sapa dan cerita demi cerita,

yang lama tersemat di kusam paras, dan binar matanya.

 

Lalu, kusahuti inginnya, kuhargai hadirnya

atas nama kasih, atas bukti rindu yang tak berwujud ini,

aku berharap, ia utuh di sini, dan tak akan pergi lagi,

mengurungku dalam sepi.

 

Bireuen, 2020.

 

 

 

Candu yang Keruh

 

Di candu kopiku,

ada bayanganmu yang mengaduk rasa.

Tentu ia rindu, pada seduhan hangat tawa,

dan senda kita.

 

Kubiarkan ia berkeringat,

membasahi meja, hingga pelataran bumi

bagai deras hujan malam ini;  tak kunjung reda,

menyirami mekar hatimu. Sebasah itu.

 

Setiap kelana adalah henti,

pada siapa yang menjamu.

Maka ialah tamu, tungguan itu.

 

Sehabis kopi disesap, tinggalah gelas,

dan ampas-ampas

seperti buih-buih di laut yang teduh,

segelora hatimu.

 

Tinggal ia sendiri di kelana rantau jauh.

Sedang sang Nahkoda sudah bersandar

di Bandar Jangka

bersama perahu tua, yang usang.

 

Kini, hanya tersisa candu, pada senyumanmu.

tersisa rindu pada jamuan putri Ratu,

yang tentu saja memikat qalbu

dan merontanya sanubari dalam pekat malam,

memaksa untuk bercumbu, menjamah kembali rantau hatimu.

 

Bireuen, Maret  2020.

 

 

Penulis adalah Adam Zainal (Kinet BE), seorang Nelayan dan pekerja serabutan yang mencintai dunia literasi, adat budaya dan seni sastra Aceh. Lahir disebuah tepi pantai nan sunyi pesisir utara Bireuen pada tahun yang lalu-lalu. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di media cetak dan media online lokal maupun Nasional.

 

 

News Feed