oleh

Roti Jala Kuah Kari: Kekayaan Rasa Khas Melayu Deli

Oleh Desri Rizki Ramadani, Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Langsa, Prodi Hukum Keluarga Islam.

Peserta KPM-DR 2021.

 

Melayu Deli adalah sebutan dari salah satu suku yang berada di provinsi Sumatera Utara. Menurut Hikayat, kata Melayu Deli berasal dari Kesultanan Melayu Deli yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah di wilayah yang bernama Tanah Deli yang berdekatan dengan kota Medan.

Selain peninggalan Kesultanan Deli yang kita kenal ini seperti Istana Maimun dan Masjid Raya Al-Mashun, tanah melayu juga dikenal sebagai tempat yang kaya akan kuliner enak dan lezat. Resep makanan khas Melayu Sumatera Utara memang banyak dipengaruhi oleh nilai kebudayaan yang terkandung didalamnya. Olahan khas Melayu biasanya memiliki cita rasa yag khas dan berasal dari bumbu rempah terbaik.

Salah satunya adalah kuliner asli khas Tanah Melayu Deli yaitu roti jala kuah kari. Di kalangan masyarakat Melayu sendiri, roti jala kuah kari selalu dihidangkan pada saat momen tertentu seperti ketika kenduri perkawinan, kenduri sunatan, bulan puasa, hari raya, maupun acara adat melayu.

Menurut budayawan melayu Muhar Omtatok, roti jala merupakan makanan khas melayu yang bercampur dengan unsur negri India disaat para pedagang muslim india yang masuk ke nusantara pada Abad ke-17 yang dikenal dengan roti canai atau roti prata. Kemudian makanan ini tersebar di wilayah pesisir Sumatera, sampai akhirnya dikenal dan disebar keseluruh Indonesia pada awal abad ke-19. Dari sinilah masyarakat pesisir Sumatera mulai menciptakan kuliner ini dengan mengadaptasi dari roti canai atau prata tadi.

Masyarakat menyamakan bahan dasar pembuatannya, namun mengubah bentuknya menyerupai jala atau jaring dikarenakan mayoritas masyarakat pesisir bermata pencaharian sebagai nelayan, dimana jala merupakan simbol yang mengisyaratkan aktivitas masyarakat Melayu pesisir.Tak hanya di Sumatera Utara, di Kepulauan Riau roti jala dikenal dengan sebutan roti kirai.

Ciri khas dari makanan ini adalah bentuknya seperti jala atau jaring yang biasa nelayan gunakan saat menangkap ikan. Makanan ini biasanya disajikan bersama kuah kari kambing. Perpaduan rasa gurih dan lemak dari kari kambing sungguh perpaduan yang sedap untuk dimakan. Tak heran tekstur lembut dan berminyak yang dihasilkan dari kuah kari selalu diincar masyarakat jika disajikan disaat kenduri berlangsung.

Bahan dasar dari roti jala ini terbilang cukup mudah dan murah, adapun bahannya yaitu tepung terigu 200 gr, telur 2 butir, susu buku 1 sdm, garam ½ sdt, Minyak 2 sdm, santan dan air secukupnya.  Setelah adanya baha-bahan tadi, selanjutnya yaitu mencampur tepung terigu, susu bubuk, garam, dan air atau santan secukupnya kedalam satu wadah lalu diaduk hingga merata. Tingkat kekentalan tergantung selera dan sebaiknya jangan terlalu cair sehingga mudah dicetak. Lalu masukkan telur yang telah dikocok sedikit demi sedikit sembari diaduk merata. Kemudian masukkan minyak goreng, lalu adonan tepung tadi dimasukkan kedalam cetakan yang berupa cangkir yang bawahnya dibolongi lalu tuang adonan secara zigzag sampai berbentuk jaring. Masak kurang lebih selama 1-2 menit hingga matang. Langkah terakhir sajikan roti jala tersebut bersama kuah kari kambing atau topping sesuai selera.

Meskipun dalam penyebutannya roti, namun bentuk roti jala bukan seperti roti pada umumnya. Penyebutan roti sebenarnya hanya sebuah kebiasaan masyarakat dalam menyebutkan kuliner yang satu ini. Namun, dalam penyajiannya roti jala juga mengalami banyak perkembangan. Terdapat berbagai varian rasa dalam menyantap makanan ini. Saat ini roti jala tidak hanya disandingkan dengan kuah kari namun sering juga dipadukan dengan kuah manis dari gula merah atau madu sehingga tercipta rasa manis dari gula dan gurih dari roti jala tersebut.

Kuliner Melayu sebagai salah satu pilar penopang kebudayaan Indonesia wajib kita lestarikan. Nilai budaya dari kuliner satu ini hendaknya bisa terpelihara identitasnya agar para generasi muda tetap bisa melestarikan makanan khas satu ini ditengah gempuran makanan asing sangat penting dilakukan. Menjaga eksistensi kuliner tradisional serta menempatkannya sejajar atau bahkan lebih tinggi dari kuliner asing akan memberi dampak yang luas bagi masyarakat.

News Feed