oleh

Rehabilitas Hutan dan Lahan (RHL)  di Aceh Tenggara Berakhir Pekerjannya Tahun 2021

 

KUTACANE Bara News Rabu 8/12/2021. |   Program rehablitasi hutan dan lahan (RHL) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular, kota Medan, Sumatera Utara telah berakhir proses pekerjaannya di Kabupaten Aceh Tenggara pada akhir Desember tahun 2021 ini Demikian di sampaikan Anton Pihak pelaksana  kepada media ini melalui pers Rillisnya  di Kutacane 8/12. .

Anton Menguraikan kalauPekerjaan itu sudah mulai dikerjakan di Aceh Tenggara sejak tahun 2019 sampai 2021 dan akan selesai proses termen akhir pekerjaannya diseluruh 8 blok yang di Aceh Tenggara.

Diantaranya paket XXV penanaman RHL di wilayah kerja KPH VI Subulussalam di Kecamatan Babul Makmur seluas 242 hektare.

Kemudian ada paket XXIV penanaman RHL di wilayah di kecamatan Leuser dengan luas lahan yang ditanami 600 hektare.

Dalam kawasan Leuser ada 2 blok paket RHL. Kemudian ada paket XXVI pada wilayah Kecamatan Lawe Sigala-gala dengan luas 230 hektare.

Pada paket XXVII di Kecamatan Semadam dengan luas 128 hektare dan terkahir pada paket program RHL XXVIII di Kecamatan Ketambe yang terdiri 3 blok, jadi setiap blok luasnya sekitar 200 hektare sehingga total luasnya 600 ha.

Untuk penenaman pada program RHL itu dilakukan dikawasan hutan lindung atau kebun warga terutama daerah pegunungan yang sudah gundul dan masuk dalam kawasan lahan kritis yang butuh sentuhan reboisasi atau rehabilitasi dengan catatan kawasan itu tetap masuk dalam peta kerja melalui aplikasi AVENZA Maps yang telah disusun pada rencana teknis.

Kegiatan proyek RHL ini dilaksanakan sudah dimulai sejak 2019 awalnya dilakukan proses penanaman bibit dengan jenis tanaman keras seperti durian, jengkol, petai, kemiri duku dan ada tanam sela berupa kopi disetiap lokasi lahan yang ditanami,”kata Anton Sudarwo selaku PPTK program RHL di Aceh Tenggara kepada sejumlah awak media.

Kata dia, pada 2019 bibit yang ditanami para kelompok kerja itu terbagi atau tersebar di delapan blok.

Saat ini kondisinya mengalami kemajuan pesat karena banyak tanaman terutama jenis jengkol dan petei disejumlah blok sudah tumbuh setinggi 4 meter bahkan lebih.

Harus diketahui untuk bibit atau tanaman yang mati saat proses pemulihan di tempat penyemaian sementara (TPS) atau saat ditanami itu telah diganti dengan bibit yang baru dan memang hal tersebut telah disediakan rekanan atau pihak ketiga dan bibitnya di datangkan dari Sumatera Utara,”kata Anton.

Kemudian pada 2020, pihak rekanan itu melakukan tahapan pemeliharaan terhadap seluruh bibit yang sudah ditanami yang tersebar pada 8 blok dikawasan hutan yang masuk dalam peta kerja.

 

Dijelaskannya, selama tahap pemeliharaan sepanjang tahun 2020 hingga 2021, prosesnya cukup panjang dari rangkaian penyulaman, penyiangan, pendangiran serta ada proses pemupukan diseluruh lokasi pada 8 blok dari program RHL tersebut,’jelasnya.

Kata dia, jika ada bibit yang mati dalam proses tanam maka itu wajib dan harus diganti.

Pada tahun lalau rekanan ada menyediakan stok tanaman pengganti sebesar 20 persen dari jumlah total bibit sesuai dengan kondisi luas lahan, bahkan ada yang lebih disediakan dari total 20 persen.

Karena bibit yang mati dilahan masuk peta kerja itu harus dan wajib diganti dengan yang baru lagi selama proses pekerjaan masih berlangsung.

Sedangkan tahun 2021 ini, jumlah bibit cadangan atau pengganti yang disediakan itu sekitar 10 persen dari jumlah total yang ditanami dilahan. Namun tetap saja ada yang dilebihkan dibeberapa blok kawasan lahan,”katanya.

 

[18.00, 8/12/2021] Kasirin Agara: Menurutnya, 8 blok program RHL yang tersebar itu pekerjaannya dalam kurun waktu selama tiga tahun, tahap awal pada 2019 atau masih P0 (pekerjaan awal/dasar)  yakni penanaman, penyulaman dan pergantian bibit yang mati.

Kemudian pada 2020 dilanjutkan tahap P1 yakni pemeliharaan, pada fase ini selain dilakukan pemeliharaan terhadap bibit yang sudah tumbuh juga tetap masih ada dilakukan pergantian bibit yang mati.

Lalu pada tahun ini yakni tahapan P2 atau terakhir juga masih sama, tetapi selain pemeliharaan berkelanjutan ada kegiatan tambahan yakni proses pemupukan, penyulaman dan penyiangan serta pendangiran terhadap tanaman yang sudah tumbuh besar diseluruh 8 blok yang tersebar,’ungkap Anton.

Ia menjelaskan, total anggaran sebesar Rp 16 miliar dari sumber APBN, itu merupakan proyek RHL yang tersebar pada 8 blok di Aceh Tenggara.

Jadi pekerjaan RHL di Aceh Tenggara itu bukan pada satu lokasi melainkan tersebar pada 8  blok atau 8 lokasi dan sudah dimulai dari tahun 2019, 2020 dan terakhir tahun ini,”ucapnya.

Terpisah Ketua Kelompok kerja RHL wilayah Ketambe, Saniman Beruh mengucapkan, selama proses penanaman bibit pada program RHL yang dilaksanakan pada tiga desa atau 3 blok dalam kawasan kerja Ketambe yakni desa Lawe Ger-Ger, Lawe Penanggalan serta Suka Rimbun.

Selama proses berjalan, focus kami tetap agar bagaimana bibit yang telah ditanami dapat tumbuh sebagaimana mestinya, jika ada tanaman mati tentu akan diganti, yang jelas proses pergantian bibit rutin dijalankan,”kata dia.

Menurutnya, selama ini jika ada bibit atau tanaman yang mati itu berjalannya waktu, kebanyakan diwilayah Ketambe itu disebabkan karena saat penyemprotan racun rumput oleh pengelola lahan atau pekebun mereka kerap mengenai bibit yang berada persis disampingi kiri dan kanan atau sekitarnya sehingga dampaknya mati.

Intinya selama berjalan 3 tahun program ini, setiap bibit yang mati akan kita ganti dengan tanaman yang baru karena batas akhir pemeliharaan sampai Desember 2021,”tukas Saniman.

Hal senada juga diutarakan, Ketua Kelompok Kerja RHL wilayah kecamatan Semadam, Hasbalah menyatakan, kehadiran program RHL diwilayahnya itu cukup dirasakan manfaatnya oleh para petani atau pekebun diwilayah kerjanya.

Sebab banyak masyarakat setempat yang berprofesi petani atau pekebun mereka dilibatkan dalam proses penanaman hingga pemeliharaan dan tentu mendapatkan upah kerja yang setimpal lewat kesepakatan.

Apalagi pada tahun 2020 dan 2021, ia mengaku para petani/pekebun yang terlibat dalam program tersebut, merasa cukup terbantu secara ekenomi, pasalnya ditengah situasi pandemic covid-19 yang berdampak pada ekonomi masyarakat ternyata masih ada peluang kami untuk mengais rezeki lewat kegiatan penanaman dan pemeliharaan bibit atau tanaman dikawasan lahan masuk peta kerja,’katanya.

Sedangkan Ketua kelompok kerja RHL wilayah Lawe Sigala-gala dan Leuser, Arman mengutarakan dalam proses penanaman bibit ditiga blok dikawasan kecamatan Leuser serta Lawe Sigala-gala, setiap bibit yang mati saat proses tanam akan diganti.

Bahkan beberapa waktu lalu, kata Arman, ada bibit yang sudah ditanami ikut terbakar bersama tanaman jagung disalah satu kebun warga dalam kawasan hutan lindung yang masuk dalam peta kerja.

Akibatnya kami harus melakukan penanaman kembali dengan memanfaatkan bibit cadangan atau stok yang ada disediakan rekanan,”ujarnya.

Ketua Kelompok Kerja diwilayah Kecamatan Babul Makmur Supratman mengatakan, bibit dari program RHL itu juga banyak yang ditanami para petani/pekebun dilahan kebun mereka masing-masing, namun lahan itu tetap masuk dalam kawasan peta kerja dan upah tanam tersebut kita berikan langsung kepada mereka.

Kata dia, program RHL sejak 2019 lalu cukup banyak kendala dilapangan karena banyak warga yang khawatir jika lahannya ditanami bibit dari program RHL maka dikemudian hari beralih kepemilikanya.

“Alhamdulilah semuanya dapat berjalan sebagaimana mestinya melalui pendekatan persuasif dan edukasi terutama sosialisasi dari para unsur tenaga pendamping dan peran serta unsur masyarakat lainnya kepada para petani/pekebun,”katan
[18.01, 8/12/2021] Kasirin Agara: Kepala Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Aceh Tenggara, Mujahid, SP. MMA menambahkan, usai berakhirnya masa pemeliharaan atau masa tanam mungkin tantangan yang akan dihadapi kedepannya dilapangan tentu masih ada.

Walaupun demikian, besar harapan kami kepada lapisan masyarakat terkhusus para pekebun yang berada masuk dalam peta kerja untuk dapat memelihara dan menjaga tanaman tersebut

Apalagi salah satu tujuan dari program RHL adalah menanam bibit dilahan yang sudah kritis dan tandus dengan berbagai macam jenis tanaman MPTS seperti durian, langsat/duku, alpukat dan lainnya,”kata Mujahid.

Diharapkan kehadiran jenis tanaman MPTS itu beberapa tahun kedepan, besar manfaatnya dirasakan terutama para petani/pekebun yang memiliki lahan garapan masuk dalam blok atau wilayah peta kerja RHL.

Kedepannya para pengelola lahan dapat menjaga dan memelihara tanaman tersebut sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan, selain sasaran untuk penghijauan lingkungan juga diyakini 5 atau 20 tahun kedepan tanaman itu mampu memperbaiki iklim sekitar.

Bahkan dapat mencegah terjadinya erosi dan banjir dimasa yang akan datang,”harapnya.( TIM)

Jangan Lewatkan