oleh

Radikalisme dan Moderasi Beragama

 

Penulis : Mewanza Rizki , Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fisip Unsyiah.

Aktivisme dan intoleransi agama yang sudah berlangsung lama di negeri ini memang mengkhawatirkan dan dapat menyebabkan putusnya hubungan dan kerukunan umat beragama. Pemahaman radikal dan kelompok intoleran ini justru menyebar dalam praktik dan perilaku mereka, bahkan cenderung melawan negara. Sampai keadilan dan kemakmuran tercapai di negeri ini, radikalisme dan ideologi intoleran tidak akan menghentikan perjuangan mereka. Oleh karena itu, perjuangan mengganti sistem kenegaraan dengan bentuk Islam Khilafah sebagai sistem pemerintahan akan terus digalakkan dan diperjuangkan, bahkan dengan cara yang radikal. Padahal, aktivisme adalah prinsip atau praktik yang diterapkan secara radikal. Ini biasanya dilihat sebagai pilihan tindakan dengan membandingkan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok agama (sekolah) tertentu dengan tatanan nilai yang berlaku atau nilai-nilai yang dianggap mapan pada saat itu. Radikalisme sering disamakan dengan ekstremisme, perang, atau fundamentalisme. Istilah-istilah ini memiliki banyak arti yang berbeda, tetapi jelas bahwa istilah-istilah ini tidak terbatas pada Islam, termasuk tetapi tidak terbatas pada kegiatan keagamaan, karena dalam beberapa gerakan politik dengan ideologi sekuler, banyak contoh fundamentalisme. Ateis radikal. Menuju pertarakan agamaTata krama beragama adalah pandangan kita dalam memperlakukan agama secara moderat, yaitu memahami dan mengamalkan ajaran agama yang tidak ekstrim (ekstrim kanan atau kiri). Ekstremisme, aktivisme, ujaran kebencian, dan putusnya hubungan antarumat beragama merupakan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Oleh karena itu, keberadaan rencana pengarusutamaan kesederhanaan agama ini dinilai penting dan strategis.

News Feed