oleh

Puisi “Pendurhaka Amanah Rakyat”

 

 

Pendurhaka Amanah Rakyat

 

Bani penikmat damai Aceh akan berpesta pora
berkeliling Aceh dengan Moge
melintas jejalalan yang dulu digunakan sebagai tapak
para anak-anak memangkul keranda mayat
ayahnya, abangnya, dan saudara-saudaranya.

Roda Moge itu akan menduru bising
di hening dan di binar mata jelata
melambai asap-asap dari percikan Bensin APBA
lalu asap-asap itu menempel lekat di dinding gubuk reot
Rakyat jelata seperti darah yang tumpah di jalan-jalan
kala Aceh Konflik dulu, dan kini masih membekas
di hati dan mata bangsa ini.

Lalu dengan pongahnya gerombolan Borjuis
berjaket kulit binatang itu melintas
menatap sinis dengan kacamata gelap
ke atas rakyat yang sampai masih pasrah
dengan Perdamaian yang belum tuntas

Sementara…
Setelah damai para penikmat APBA itu bermegah-megah
Seolah yang dipakai adalah uang dari hasil jual-beli Boinah
Nenek moyang mereka.

Mereka berempati tanpa salah dari amanah
sedang korban konflik dan anak yatim masih memamah luka
menganga bara dari tragedi-tragedi kebiadaban
yang belum usai.

Lihatlah mereka, kawan..
pengkhianat amanah akan melintas di kampung kita
pendurhaka akan mengeber-ngeber Gas Moge
di depan kita.

ini. Catatlah ini. Catat…
ini menjadi sejarah baru, bahwa mereka lebih rendah dari penjajah, bahkan dari Beulanda.

 

Banda Aceh, Agustus 2020

 

|Penulis : Adam Zainal, lahir di Bireuen Maret 1991 yang menyisakan waktu luang disela-sela kesibukannya sebagai pekerja serabutan untuk menulis.

News Feed