oleh

Perlukah Lesson Study Dilaksanakan di Sekolah?

Faizah, S.Pd

Guru SMP Negeri 3 Rantau Selamat dan Ketua MGMP IPS Wilayah Timur Kabupaten Aceh Timur

Keterampilan abad 21 yang harus dicapai oleh peserta didik pada masa sekarang ini adalah creativity, collaboration, critical thinking, dan communication (4C). Peserta didik harus mampu memecahkan masalah yang diberikan oleh guru baik secara mandiri maupun secara berkelompok dengan berfikir secara kritis dan memunculkan kreatifitas tinggi serta mampu mengkomunikasikannya baik lisan maupun tulisan.  Sehingga, setelah pembelajaran selesai, peserta didik mampu memecahkan masalah  di dalam lingkungan sesuai pada usia mereka.

Untuk mencapai tersebut, pada umumnya guru masih mengalami kendala, pada kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS, guru mengungkapkan permasalahan yang hampir sama yakni proses pembelajaran yang tidak aktif dan hasil belajar peserta didik rendah. Guru masih melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dengan memberikan materi secara dominan atau teacher centered. Hal ini berdampak pada pembelajaran yang monoton, belum mampu mengakomodasi keberagaman, belum adanya kolaborasi sesama peserta didik,  belum tumbuh kemandirian  belajar peserta didik,  penyelesaian pelaksanaan tugas, kreatifitas, dan hasil yang diperoleh oleh peserta didik masih rendah. Ini dapat dilihat dari hasil nilai harian semua mata pelajaran yang dicapai oleh peserta didik pada umumnya tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Untuk merubah kondisi tersebut di sekolah, guru harus mencari solusi bersama-sama tentang cara meningkatkan  kemampuan berpikir abad 21, agar peserta didik mampu menyelesaikan  masalah  dalam kehidupannya masing-masing.

Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study  sudah diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun  mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai solusi dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran peserta didik, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan.

Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar  (Mulyana dalam Rusman, 2011) . Lesson Study merupakan suatu cara mengubah budaya kinerja guru- guru dari bersifat tertutup dalam melakukan tugas  pembelajaran menjadi mau selalu terbuka dan melakukan sharing  secara kolaboratif dengan koleganya.

Keutamaan Lesson Study adalah dapat meningkatkan keterampilan dan kecakapan dalam melakukan kegiatan pembelajaran, salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesioanalisme guru. Tujuan Lesson Study adalah (1) membiasakan guru bekerja secara kolaboratif dengan guru bidang studi dan (2) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inquiry kolaboratif (Rusman, 211). Adapun manfaat Lesson Study adalah guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan guru dapat mempublikasikan dan mendesiminasikan hasil akhir dari Lesson Study.

Pelaksanaan Lesson Study dapat dilakukan dengan 2 (dua) tipe yakni Lesson Study berbasis sekolah, dan Lesson Study berbasis MGMP. Pelaksanaan Lesson Study dilakukan melalui tahapan plan (perencanaa), do (pelaksanaan), see (refleksi), dan  tindak lanjut.

Berdasarkan paparan di atas, dapat ditegaskan bahwa Lesson Study perlu dilaksanakan di sekolah maupun di MGMP untuk mengatasi masalah secara berkolaborasi dalam rangka  meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan peserta didik, dan  Lesson Study yang didesain  dengan baik akan menghasilkan  guru yang profesional dan inovatif.

News Feed