oleh

Perlu Adanya Qanun Terkait Penyelenggaraan Pacuan Kuda

Bener Meriah Baranewsaceh.co –  Pesta rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat even pacuan kuda tradisional Gayo dalam rangka Gayo Alas Mountain Festival (GAMIFest) telah usai. Kegiatan yang di inisiasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Bener Meriah ini terbilang sukses, kendati di sana sini masih ada juga cuwitan lewat dunia maya. Namun itu bukanlah sesuatu yang harus di tanggapi secara serius dan berlebihan, karena itu hanya bagian dari demokrasi dan keterbukaan publik, sehingga tidak muncul spekulasi yang pada akhirnya harus saling menuding dan menyalahkan antara satu dengan yang lainnya.

Sekali lagi lagi afresiasi dan aplus sudah sepantasnya kita berikan kepada Pemkab Bener Meriah beserta seluruh panitia penyelenggara yang telah bekerja siang dan malam selam 6 (enam) hari, demi suksesnya acara tersebut. Kendati demikian masih banyak kelemahan yang perlu di benahi dan di evaluasi untuk pelaksanaan acara serupa kemasa yang akan datang.

Berdasarkan hasil penelusuran media ini dengan beberapa pejabat daerah dan tokoh masyarakat Bener Meriah. Ada beberapa masukan untuk pemkab Bener Meriah beserta anggota dewan yang terhormat, yaitu menyangkut masalah Qanun. Usulan tentang pembuatan Qanun Pacuan kuda sepertinya sudah bersifat emergency. Selain itu usulan Qanun juga cukup mendapat respon positif dari sejumlah elemen masyarakat, para aktivis dan masyarakat Bener Meriah.

Adapun rujukan dan dasar pembuatan qanun adalah : Lomba pacuan kuda terus di laksanakan setiap tahunnya, dan perlu di garis bawahi bahwa lomba pacuan kuda merupakan tradisi yang membudaya sebagai warisan turun temurun di tiga wilayah kabupaten bersaudara. Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Kabupaten Bener Meriah.

Banyak pihak menilai langkah tepat telah di lakukan oleh Bupati Bener Meriah Tgk Sarkawi dengan memanfatkan lahan kosong di ujung bandara Rembele, selanjutnya lahan tersebut kini telah di jadikan sebuah taman yang di beri nama Harmoni. Kiranya tidak berlebihan, jika pemanpaatan lahan tersebut, telah melalui kajian yang panjang. Faktor lain adalah karena sempitnya areal parkir kendaraan pada saat pelaksanaan even pacuan kuda berlangsung.

Apabila lahan di ujung Bandara Rembele tersebut tidak di fungsikan seperti sekarang ini, kuat dugaan Pemkab Bener Meriah akan kesulitan dalam hal penyediaan lahan parkir, dan dapat di pastikan betapa samrautnya situasi pada saat pelaksanaan pacuan kuda berlangsung, apalagi ditambah kemacetan arus lalu lintas.

Kita berharap dengan adanya Qanun daerah yang mengatur tentang pacuan kuda, peran Pemkab Bener Meriah sebagai penyelenggara kegiatan dapat lebih maksimal. Ada beberapa draf qanun yang perlu kiranya di perhatikan diantaranya : Lapak berjualan, lapak untuk bermain anak, stand pameran, stand kuliner, Sound sistem, kandang kuda, dampak lingkungan, pengelolaan sampah, dan ketertiban pengunjung.

Qanun juga hendaknya mengatur tentang penjaga berikut fasilitas yang di sediakan. Sehingga keberadaan lapangan Sengeda, dapat di tata dan terpelihara. Selain itu adanya air, di tribun maupun di tengah lapangan pacuan kuda, serta denah lapangan yang jelas, agar kedepan panitia tidak lagi terbebani oleh persoalan tanah.

Sebagai sasaran utama dari pelaksanaan even pacuan kuda, lebih kepada asfek ekonomi dengan harapan akan tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatip. Karena semakin banyak pendatang yang mengunjungi Kabupaten Bener Meriah, tentu dengan sendirinya apa yang menjadi produk unggulan akan semakin banyak di lirik pengunjung.

Afresiasi pantas di sematkan kepada masyarakat Kecamatan Permata yang berada di jalur lintas Bener Meriah- Lhokseumawe, karena masyarakat setempat berani tampil untuk menjajakan barang mentah hasil kebun untuk di jual di pinggir jalan seperti alpukat, terong Belanda, jeruk dan aneka sayuran, dan lain sebagainya.

Sebagai bahan evaluasi terkait pelaksanaan even pacuan kuda. Seberapa banyak pedagang lokal yang mampu berperan aktif dalam pesta rakyat ini, dan seberapa banyak pedagang luar daerah yang mengais rejeki dalam perhelatan besar ini. Lalu seberapa besar uang dari luar Bener Meriah yang berputar dan sebaliknya berapa besar pula uang rakyat Bener Meriah di bawa pulang oleh pedagang dari luar daerah.

Untuk itu pemerintah perlu melakukan kajian ulang terhadap masalah tersebut dan mencarikan solusinya. Agar masyarakat Bener Meriah tidak hanya menjadi penonton di lapangan bola sendiri. Kita juga menyadari masih lemahnya minat bisnis dari para masyarakat atau memang sebaliknya mereka tidak punya kesempatan. Mungkin inilah faktor penyebab para pedagang dari luar daerah terus mendominasi di setiap even Pacuan kuda. Tanpa bermaksud menutup dan membatasi pedagang dari luar daerah untuk melakukan kegiatan ekonomi, karena tanpa kehadiran mereka pacuan kuda juga tidak bakalan ramai.

Kita berharap dalam kurun waktu 10 (sepuluh) bulan terhitung mulai dari sekarang pihak eksekutif dan legeslatif sudah dapat merampungkan sebuah qanun terkait pacuan kuda, sehingga pada pelaksanaan Lomba Pacuan Kuda tradisional Gayo dalam rangka HUT Kabupaten Bener Meriah yang ke 16 yang akan di peringati pada bulan Desember 2020. Qanun ini sudah utuh dan sudah bisa di terapkan.

Sebagai tantangan untuk di pikirkan, para pendahulu negeri ini sudah mampu membuat lapangan pacuan kuda Sengeda dan alangkah naipnya jika tidak mampu untuk menjadikannya sebuah Qanun. (Redaksi).

News Feed